- Prof. Trina Astuti menyarankan pola makan saat berbuka puasa dimulai dengan perlahan untuk menghindari kejutan lambung.
- Prof. Trina juga menekankan pentingnya memilih karbohidrat indeks glikemik rendah dan menyeimbangkan protein saat puasa.
- BPJS Kesehatan mendorong peserta JKN mengecek risiko kesehatan tahunan melalui Skrining Riwayat Kesehatan di Mobile JKN.
SuaraKalbar.id - Asupan makanan yang dikonsumsi selama bulan puasa berpengaruh terhadap kesehatan, sehingga pola, porsi, dan jenis makanan yang dikonsumsi perlu disesuaikan.
Jika pola dan porsi makan tidak seimbang, dapat berisiko menimbulkan masalah kesehatan yang bahkan bisa menjadi berlarut-larut.
Hal ini dikatakan oleh Guru Besar Bidang Ilmu Gizi Poltekkes Kemenkes Jakarta II Prof Trina Astuti, melansir dari Antara, Senin, 23 Februari 2026.
"Saat berpuasa perut kosong lebih dari 8 jam, maka saat berbuka harus makan perlahan supaya perut tidak kaget. Minum air putih atau teh manis hangat, dilanjutkan dengan kurma, baru dilanjutkan dengan makanan utama setelah sholat maghrib. Konsumsi ini dapat memberikan energi secara berangsur," kata Trina.
Pilihan jenis makanan juga harus disesuaikan dengan kondisi tubuh seseorang saat itu. Misalnya, bagi penderita diabetes, disarankan memilih sumber karbohidrat dengan indeks glikemik yang rendah di bawah 55 supaya gula darahnya tetap stabil saat berbuka puasa.
"Misalnya, beras basmati, beras merah, oat, roti gandum, atau pasta gandum utuh. Proteinnya pun harus seimbang mencakup protein nabati, protein hewani, serta buah dan sayur sebagai sumber seratnya," ujarnya.
Ia mengingatkan untuk memperhatikan proporsi makanan. Misalnya, karbohidrat harus lebih sedikit saat sahur, sementara saat berbuka puasa perbanyak sumber protein.
"Untuk memenuhi kebutuhan air harian selama puasa, atur pola minum juga. Misalnya, 2 gelas saat berbuka puasa, 4 gelas saat malam hari, dan 2 gelas saat sahur. Hindari teh, kopi, dan gorengan berlebihan saat sahur maupun berbuka puasa,” ungkapnya.
Kepala Humas BPJS Kesehatan, Rizzky Anugerah mengingatkan masyarakat untuk memantau risiko kesehatan dengan memanfaatkan fitur Skrining Riwayat Kesehatan pada Aplikasi Mobile JKN. Skrining Riwayat Kesehatan ditujukan bagi peserta JKN berusia 15 tahun ke atas dan dilakukan setahun sekali.
“Melalui Skrining Riwayat Kesehatan, masyarakat bisa mengetahui kondisi kesehatannya, apakah berisiko mengidap penyakit kronis atau tidak. Skrining ini dilakukan setahun sekali, tapi besar dampaknya terhadap kesehatan masyarakat di masa depan. Makin cepat diketahui seberapa besar risiko seorang peserta mengidap penyakit kronis, makin cepat ditangani. Artinya, jika sudah diketahui sejak dini, maka makin besar pula peluang peserta tersebut untuk mencegah kondisinya bertambah parah,” ungkap Rizzky.
Dalam skrining ini, peserta JKN diarahkan untuk mengisi sejumlah pertanyaan untuk mengetahui apakah dirinya berisiko mengidap penyakit kronis atau tidak. Prosesnya dapat dilakukan melalui Aplikasi Mobile JKN, chat Whatsapp PANDAWA di nomor 08118165165, lewat website resmi BPJS Kesehatan, atau dengan datang langsung ke FKTP.
Apabila hasil Skrining Riwayat Kesehatan menunjukkan peserta JKN tersebut berisiko, maka ia akan segera diarahkan ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) untuk menjalani pemeriksaan maupun penanganan lebih lanjut dari dokter.
Sebagai langkah antisipatif jika perlu berobat, Rizzky mengingatkan masyarakat untuk memeriksa status aktif-tidaknya kepesertaan JKN mereka. Adapun cara mengecek status kepesertaan JKN tersebut dapat dilakukan melalui PANDAWA, Aplikasi Mobile JKN, BPJS Kesehatan Care Center 165, maupun dengan mengunjungi kantor BPJS Kesehatan terdekat.
“Selagi masih sehat, sempatkan lah untuk mengecek status kepesertaan JKN Anda. Prosesnya tidak lama, namun penting dilakukan supaya tidak terkendala saat tiba-tiba sakit. Kalau status kepesertaan JKN kita aktif, sudah ada kepastian jaminan pembiayaan dari BPJS Kesehatan apabila sewaktu-waktu peserta JKN perlu segera membutuhkan layanan kesehatan,” imbau Rizzky.
Berita Terkait
-
Pelayanan JKN Cepat dan Mudah, Titik Rasakan Manfaat Saat Anak Dirawat
-
Menteri Jerman Kunjungi Pabrik Bayer di Cimanggis, Soroti Energi Hijau
-
Dari Data hingga Terapi, Novo Nordisk Manfaatkan AI untuk Percepat Penemuan Obat
-
Perkuat Deteksi Penyakit, Bisakah CT Scan Photon-Counting Jadi Strategi Ketahanan Kesehatan?
-
Ketika AI Jadi Tempat Curhat, Apa yang Dicari Manusia dari Chatbot?
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Desil Mendadak Melonjak, Warga Jogja Terancam Kehilangan Bansos
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Kabut Asap Kepung Kubu Raya, Presiden Prabowo Tinjau Karhutla di Tengah Udara 'Sangat Tidak Sehat'
-
Prabowo Datang ke Titik Karhutla Kubu Raya, Minta Pemadaman Dipercepat
-
Duh! Asap Karhutla Ketapang Mengancam Pontianak hingga Negara Tetangga
-
BRI Group Sabet Enam Penghargaan Bergengsi Finance Asia 2026
-
Pengguna Qlola Tumbuh 42,6 Persen, BRI Hadirkan Tampilan Baru untuk Nasabah Bisnis