- Gubernur Kalimantan Barat berkomitmen menyederhanakan birokrasi perizinan ekspor ikan arwana untuk mendukung potensi ekonomi dan daya saing global.
- Pelaku usaha arwana menghadapi kendala administratif yang berbelit dalam proses sertifikasi serta pengangkutan untuk menembus pasar ekspor internasional.
- Pemerintah daerah tengah melakukan koordinasi lintas instansi guna memperbaiki sistem birokrasi demi mengoptimalkan peluang ekspor ikan arwana Kalimantan.
SuaraKalbar.id - Di tengah ambisi menjadikan Kalimantan Barat sebagai pusat ekspor ikan arwana dunia, satu persoalan lama kembali mencuat: birokrasi yang belum sepenuhnya ramah bagi pelaku usaha.
Komoditas bernilai tinggi ini memang terus didorong menjadi unggulan daerah. Namun di balik optimisme itu, pelaku usaha masih dihadapkan pada proses perizinan dan regulasi yang dinilai belum efisien.
Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, menegaskan bahwa arwana atau siluk merupakan komoditas strategis yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan peluang besar di pasar global.
“Ikan arwana Kalbar memiliki kualitas terbaik di dunia. Pemerintah harus hadir memastikan para penangkar tidak terhambat oleh birokrasi yang berbelit,” ujarnya.
Baca Juga:Waspada! Potensi Hujan Sedang di Kalbar Hingga Akhir Maret 2026
Pernyataan ini sekaligus mengakui bahwa di lapangan, pelaku usaha masih menghadapi sejumlah kendala administratif, terutama terkait sertifikasi dan perizinan pengangkutan.
Ketua Asosiasi Penangkar dan Pedagang Siluk (APPS), Erik Hikmatul Basyir, menyambut dukungan pemerintah, namun juga mengisyaratkan bahwa tantangan di sektor ini masih nyata.
“Selama ini kami banyak berjuang secara mandiri. Dukungan pemerintah menjadi dorongan penting bagi pelaku usaha,” ujarnya.
Pernyataan ini menggambarkan kondisi di mana pelaku usaha masih harus beradaptasi dengan proses administrasi yang belum sepenuhnya sederhana, terutama untuk menembus pasar ekspor.
Dalam praktiknya, ekspor arwana tidak hanya soal kualitas ikan, tetapi juga menyangkut berbagai tahapan administratif.
Baca Juga:Perdagangan 1,38 Kg Sisik Trenggiling di Sintang Kalbar Dibongkar
Proses ini sering kali memakan waktu dan memerlukan koordinasi lintas instansi. Akibatnya, peluang ekspor yang seharusnya bisa dimanfaatkan dengan cepat justru terhambat.
Pemerintah Provinsi Kalbar pun mengakui hal ini dan berupaya melakukan koordinasi dengan instansi terkait untuk menyederhanakan proses tersebut.
Padahal, secara potensi, Kalimantan Barat memiliki posisi strategis. Bahkan, sebagian besar arwana Indonesia berasal dari wilayah ini dan menjadi primadona di pasar internasional.
Permintaan dari kawasan Asia Timur hingga Eropa terus meningkat, menjadikan arwana bukan sekadar ikan hias, tetapi juga komoditas ekspor bernilai tinggi.
Namun tanpa dukungan sistem yang cepat dan efisien, peluang tersebut berisiko tidak maksimal.
Pemerintah daerah menyatakan komitmennya untuk memperbaiki kondisi ini. Arwana bukan hanya soal perdagangan internasional. Di baliknya, ada ribuan pelaku usaha—mulai dari pembudidaya, penangkar, hingga eksportir—yang menggantungkan hidup pada komoditas ini.