SuaraKalbar.id - Tradisi Saprahan, salah satu budaya unik di Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Saprahan identik dengan makan bersama ala orang Melayu.
Jika di Jawa, kita mengenal istilah 'dhahar kembul', yakni makan secara bersama-sama. Di wilayah Kalimantan Barat juga mengenal tradisi serupa yang disebut sebagai tradisi saprahan.
Berasal dari kata 'Saprah' yang artinya berhampar, yakni budaya makan bersama dengan cara duduk lesehan bersila diatas lantai secara berkelompok yang terdiri dari enam orang dalam satu kelompoknya.
Secara umum, tradisi Saprahan dapat disebut sebagai tradisi makan bersama dengan duduk di lantai. Tradisi ini biasanya dilakukan oleh masyarakat Melayu Kota Pontianak saat ada acara-acara penting, seperti acara pernikahan, khitanan, syukuran, dan lain sebagainya.
Tamu yang datang pun biasanya diundang oleh yang punya hajat, atau tetua kampung secara lisan. Mereka mengistilahkan dengan 'nyaro'. Asal kata 'nyaro' berasal dari kata saroan yang artinya memanggil atau mengundang.
Dalam Tradisi Saprahan, hidangan akan disajikan secara teratur di atas kain saprah. Tujuannya, agar proses makan bersama dapat dilaksanakan secara tertib. Selain itu, juga dilakukan untuk mempererat tali silaturahmi.
Pakaian yang dikenakan pun tidak sembarangan. Bagi laki-laki, pakaian yang dikenakan adalah pakaian adat melayu telok belanga. Sementara itu, bagi perempuan, pakaian yang dikenakan adalah baju urung.
Tradisi unik ini awalnya dilakukan oleh para petinggi di Kesultanan Pontianak. Namun, lambat laun, tradisi makan ini pun dilakukan oleh masyarakat Melayu Pontianak secara umum.
Setelah tradisi makan selesai, tradisi ini akan ditutup dengan membaca salawat yang dipimpin oleh tetua adat.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Pontianak Minggu 20 Juni 2021: Pagi Berawan, Siang Hujan
Saat ini, saprahan pun banyak diadaptasi secara luas. Banyak restoran dan rumah makan yang menghidangkan makan saprahan.
Hal ini disebabkan, Tradisi Saprahan memiliki makna filosofis dan kearifan lokal tersendiri. Ada yang mengatakan bahwa saprahan merupakan budaya Melayu yang mempererat silaturahmi dan keakraban.
Selain itu, juga meleburnya masyarakat tanpa ada perbedaan status sosial. Tradisi Saprahan pun saat ini telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda.
Selain di Pontianak, tradisi ini juga dilakukan di Sambas, Kalimantan Barat. Di Sambas, secara umum tidak ada aturan tertulis untuk tata cara makannya, menghidang, dan menu hidangannya.
Namun, ada etika yang harus diperhatikan, yakni sajian saprahan harus ada menu nasi sebagai menu utama. Di samping itu, harus ada lauk-pauk sapi, ikan, dan sayur-mayur.
Selain di Pontianak dan Sambas, tradisi ini juga dilakukan oleh masyarakat Melayu di Singkawang, Mempawah, atau daerah lain yang masih memiliki budaya Melayu yang kental.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- 7 Lukisan Pembawa Hoki Menurut Feng Shui untuk Dipajang di Ruang Tamu
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- 12 Sepeda Gunung United Detroit Lengkap dengan Harga dan Spesifikasinya
- 5 Rekomendasi Rice Cooker Digital, Nasi Tetap Pulen hingga 48 Jam
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
BRI Sambut Positif Penempatan Dana SAL, Fokus Dorong Pembiayaan UMKM
-
BRI Catat Setoran Pajak Rp8,1 Triliun pada Kuartal I 2026, Pengamat Soroti Peran Danantara
-
BRI Dukung Program 3 Juta Rumah dengan Pembiayaan FLPP dan KPP
-
Sebuah Bukti Dedikasi: Mantri BRI Ini Hadir Dampingi UMKM di Kepulauan Talaud
-
Kinerja Makin Solid, BRI Perkuat Transformasi Lewat BRIvolution Reignite