SuaraKalbar.id - Ratusan keluarga korban banjir di Kabupaten Sekadau masih mengungsi di tenda-tenda yang didirikan tenda secara mandiri.
Warga yang berasal dari Desa Mungguk, Kecamatan Sekadau Hilir ini memilih mendirikan tenda dengan modal sendiri ketimbang mengungsi di posko bantuan.
"Yang mengungsi ada 141 rumah. Kami bikin tenda masing-masing. Tidak ada pakai posko. Kami mendirikan tenda secara mandiri," kata Kadus Nanga Gonis, Desa Mungguk, Ato pada Rabu (10/11/2021).
Menurut warga, dengan tinggal sementara di tenda ini mereka dapat melihat dan mengawasi rumahnya yang terendam banjir. Karena, lokasi tenda pengungsian ini berada tak jauh dari rumah mereka.
Seorang pengungsi di tenda itu, Ayang mengaku sudah sepekan makan dan tidur di sana. Dalam tenda tersebut, mereka tidur dengan berhimpit-himpitan dan memakan makanan yang ada.
"Sudah seminggu. Kalau sulit, ya kami kesulitan di sini. Berharap ada bantuan segera datang. Kami sangat berharap dan minta tolong, pak," pintanya.
Sebagaimana diketahui, banjir masih merendam 26 desa di enam kecamatan di Kabupaten Sekadau. Tercatat sebanyak 18.678 warga terdampak banjir dan 3.025 jiwa harus mengungsi.
Tim SAR gabungan kini masih terus melakukan evakuasi terhadap warga yang terjebak banjir di rumahnya. Tim SAR gabungan terus mengimbau agar warga mau dibawa ke posko.
Saat ini, sudah mulai banyak warga yang diperiksa kesehatannya di Posko Pengungsian Keraton Kusuma Negara di Desa Mungguk. Mereka mengeluh sakit gatal-gatal, demam dan sakit perut.
Baca Juga: Dua Desa di Muaragembong Bekasi Terendam Banjir Rob
Sebelumnya, Camat Belitang Hilir Sekeresno Benyamin mengatakan, posko bencana banjir sudah disiapkan sejak sepekan yang lalu di Aula Kantor Camat.
"Jadi, jika ada bantuan secara pribadi ataupun perusahaan dan partai politik, bisa langsung ke posko kita. Kalau bisa yang memberikan bantuan, sekiranya elok supaya mengabari pihak kecamatan untuk datanya," kata dia.
Benyamin melanjutkan, sejauh ini bantuan berupa sembako sudah mengalir dan pengajuan bantuan pun masih terus diajukan ke Pemda Sekadau.
"Data keluarga yang terdampak terus kita perbaharui mengingat kondisi debit air yang masih meningkat sembari menunggu data dari desa. Ada juga yang sudah mengungsi ke rumah keluarga atau kerabat," kata mantan Sekcam Belitang Hulu ini.
Data terakhir, di Desa Sungai Ayak Satu ada 151 kepala keluarga atau 471 jiwa. Mereka selain mendirikan tenda, ada yang mengungsi ke Kantor ASDP, SDN 18 Sungai Asam dan SDN 1 Sungai Ayak Satu.
Desa Sungai Ayak Dua ada 11 kepala keluarga yang mengungsi atau 42 jiwa. Tempat mengungsi seperti di Vihara Bakti Sosial di Sunyat, SD Negeri 03 di Pagar Besi, di Dusun Enteras warga ada yang membuat tenda darurat, dan SMA Negeri 1 Belitang Hilir mengungsi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- Daftar Pertanyaan Sensus Ekonomi 2026: Petugas BPS Datangi Rumah, Tanya Gaji dan Usaha
Pilihan
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
Mahasiswi Stikes PHI Bekasi Asal Ketapang Meninggal Dunia, Keluarga Minta Kematian Diusut Tuntas
-
UMKM Kuliner Pontianak Manfaatkan Layanan Pengiriman untuk Jangkau Pasar Nasional
-
Uang Negara Rp1,4 Triliun Berhasil Diselamatkan, Kejati Pastikan Perbankan Tak Nikmati Dana Ilegal
-
Ratusan Mahasiswa Kalbar Gelar Aksi di Digulis, Bawa 16 Tuntutan untuk Pemerintah
-
Temui Mahasiswa Demo di Pontianak, DPRD Kalbar: Koruptor Makan Gratis Layak Dihukum Mati