- Pemkab Singkawang membangun Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) menggunakan dana APBN untuk lahan pertanian terdampak intrusi air laut.
- Wali Kota meninjau JIAT di Kelurahan Naram, menargetkan 15 hektare lahan yang vakum tiga tahun kembali produktif.
- Pembangunan JIAT direncanakan di 14 titik, namun realisasi hingga akhir tahun baru mencapai 10 titik karena kendala teknis.
SuaraKalbar.id - Pemerintah Kota (Pemkot) Singkawang, Kalimantan Barat, membangun Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di sejumlah wilayah. Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie, melakukan peninjauan langsung terhadap progres pembangunan JIAT di Kelurahan Naram, Kecamatan Singkawang Utara. Kawasan ini merupakan salah satu wilayah yang sempat tidak produktif akibat intrusi air laut.
"Pembangunan JIAT ini bersumber dari dana APBN Balai Wilayah Sungai Kalimantan I Kementerian PUPR tersebut ditujukan untuk meningkatkan ketersediaan air bagi lahan pertanian yang telah vakum sekitar tiga tahun," katanya melansir suarkalbar, Senin 8 Desember 2025.
Selain infrastruktur JIAT, pemerintah turut melakukan normalisasi aliran sungai dan perbaikan sistem irigasi di sekitarnya, sehingga total sekitar 15 hektare lahan ditargetkan kembali produktif.
"Semoga ini memberikan manfaat yang besar kepada para petani di sini," ujarnya.
JIAT direncanakan dibangun di 14 titik di Kota Singkawang. Namun, hingga akhir tahun ini, pembangunan baru dapat direalisasikan di sekitar 10 titik.
Hal ini disebabkan karena sejumlah kendala teknis, seperti lokasi yang tidak memiliki sumber air tanah dan keterbatasan waktu pengerjaan.
Namun demikian, pemerintah memastikan pembangunan terus dilanjutkan sebagai salah satu prioritas penguatan sektor pertanian.
Adapun normalisasi sungai di kawasan Jalan Gunung Kaba didanai melalui APBD Provinsi Kalimantan Barat. Selain meningkatkan keandalan irigasi pertanian, kegiatan ini juga menjadi langkah pencegahan banjir di kawasan tersebut
Dalam peninjauan itu, Wali Kota turut berdialog dengan para petani yang tengah beraktivitas. Seorang petani, Rusmini menyampaikan keluhan terkait dampak intrusi air laut terhadap tanaman padi.
"Pupuk juga mahal, Rp140 ribu sekarung. Kalau bisa minta tolong pupuk dimurahkan, air laut dibikin ndak masuk, sama jalan di sini dibetulkan," katanya.
Berita Terkait
-
Kasus Karhutla Meledak, Bareskrim Polri Jerat 20 Korporasi dan Ratusan Tersangka
-
Tampang AKBP Wisnu Perdana Putra Kapolres Kapuas Hulu yang Ngaku Khilaf Tampar Warga
-
Petani Kalimantan Barat: Kami Lama Nggak Lihat Matahari, 3 Bulan Kabut Asap Tebal
-
Penyidikan Karhutla Mulai Mengerucut ke Korporasi, 92 Laporan Naik Sidik
-
Kabut Asap Masih Selimuti Langit Pontianak
Terpopuler
- Sejumlah Jenderal Polri Dikabarkan Diamankan, Satu 'Bintang Empat' Sudah Dilepas
- Cara Aktifkan Fitur End-to-End Encryption WhatsApp, Pastikan Obrolan Rahasiamu Bebas Sadap
- Jokowi: Saya Disadap, Tapi Saya Diam Saja
- Sejumlah Jenderal Diperiksa Propam, Ini Respons Mabes
- Jenderal Listyo Sigit Prabowo Ditetapkan Tersangka Penyadapan Presiden Prabowo
Pilihan
-
Seskab Teddy Dikabarkan Diperiksa POM TNI, Soal Penyadapan Prabowo?
-
Jokowi Tak Banyak Komentar Soal Penyadapan Prabowo: Kita Hormati Proses Hukum
-
Dicecar soal Listyo Sigit Prabowo, Jokowi: Semua Orang juga Sudah Tahu
-
Jokowi Ngaku Lupa Nama 3 Temannya yang Wisuda Bareng di UGM
-
Hakim Potong Omongan Jokowi yang Melebar: Jawab Saja Pertanyaannya!
Terkini
-
3 Prajurit TNI Gugur dalam Kecelakaan Helikopter Mi-17 di Kalteng, 2 Jenazah Dipulangkan
-
BRI Raih 4 Penghargaan, Perkuat Komitmen Dukung Digitalisasi dan UMKM
-
BRI Konsisten Buyback Saham untuk Optimalkan Nilai Pemegang Saham
-
Sempat Mangkir, Pamar Lubis Kini Ditahan Polda Kalbar
-
BRI Buka Peluang Karier Bagi Talenta Muda Lewat Program Magang Nasional