- BMKG memprakirakan Bibit Siklon Tropis 90S di Samudera Hindia selatan Jawa Tengah berpotensi jadi badai.
- Siklon 90S bergerak menuju timur, berpotensi mendekati perairan selatan NTB antara Kamis malam hingga Jumat dini hari.
- Keberadaan dua bibit siklon memicu prakiraan cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi di NTB (3-8 Maret 2026).
SuaraKalbar.id - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan bibit siklon tropis 90S yang terdeteksi di perairan Samudera Hindia selatan Jawa Tengah berpeluang besar berkembang menjadi badai tropis. Perkembangan ini berpotensi memicu cuaca ekstrem di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 3-8 Maret 2026.
"Bibit siklon tropis 90S berpeluang tinggi untuk menjadi siklon tropis dalam 24 jam ke depan," kata Ketua Kelompok Kerja Observasi, Data, dan Informasi Stasiun Meteorologi, Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) Ari Wibianto, melansir Antara, Rabu, 4 Maret 2026.
BMKG melalui Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC) Jakarta melaporkan bibit siklon tropis 90S memiliki tekanan sebesar 998 hectopascal dengan kecepatan angin maksimum mencapai 35 knot.
Ari mengatakan sistem cuaca tersebut bergerak ke arah timur dan berpotensi mendekati wilayah perairan selatan Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Kamis malam hingga Jumat dini hari.
Saat ini kondisi cuaca di wilayah NTB masih terpantau relatif cerah hingga berawan meski ada dua bibit siklon tropis di Samudera Hindia.
Kondisi cuaca cerah hingga berawan tersebut dipengaruhi oleh posisi bibit siklon 90S yang masih berada di selatan Jawa Tengah, sementara bibit siklon 93S masih berada di dekat daratan sebelah barat laut Australia.
"Jika dilihat dari kelembapan lapisan atas belum terlalu basah. Jadi, NTB saat ini masih cerah hingga berawan," ujar Ari.
Berdasarkan pemberitaan sebelumnya, BMKG memprakirakan cuaca ekstrem melanda NTB pada 3-8 Maret 2026 akibat keberadaan bibit siklon tropis 90S di Samudera Hindia sebelah selatan Pulau Jawa dan bibit siklon tropis 93S di Samudera Hindia sebelah barat laut Australia.
Kedua bibit badai tropis yang muncul secara bersamaan tersebut berkontribusi terhadap peningkatan suplai massa udara basah dan penguatan pertumbuhan awan hujan.
Selain itu, gelombang atmosfer yang aktif seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Low Frequency, dan gelombang Kelvin turut memperkuat proses konvektif di Nusa Tenggara Barat.
BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem, seperti banjir, tanah longsor, angin kencang, pohon tumbang, serta sambaran petir.
Berita Terkait
-
BMKG: Ada Potensi Hujan di Sumatra dan Kalimantan Hari Ini
-
Peringatan Dini BMKG, 13 Kecamatan di Jakarta Berpotensi Diterpa Angin Kencang
-
Gergaji Mesin Mini ZPER 6 Inci 200 Ribuan Apakah Awet? Begini Testimoni Pengguna
-
Yogyakarta Tak Kunjung Hujan, BMKG Ungkap Kondisi Terkini Kemarau DIY
-
Karhutla Masih Selimuti Kalimantan, WALHI Desak Tanggung Jawab Korporasi
Terpopuler
- Cara Menghilangkan Iklan yang Tiba-Tiba Muncul di Layar HP Android Tanpa Aplikasi Tambahan
- Ajudan Gubernur Kaltim Masuk Desil 1 DTSEN, Mensos Buka Suara
- Wabup Syaefudin Ditahan karena Kasus Korupsi, Bupati Lucky Hakim Minta Maaf ke Pemilih
- Sepasang Sepatu Nike dari Manhattan dan Cerita di Balik Sosok Jenderal Maruli Simanjuntak
- 4 Moisturizer Skintific untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun, Wajah Cerah dan Awet Muda
Pilihan
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
-
Kamaruddin Simanjuntak Pengacara Brigadir J Meninggal Dunia di RS Pelni
Terkini
-
BRI Buka Peluang Karier Bagi Talenta Muda Lewat Program Magang Nasional
-
BRI Rayakan Perjalanan 131 Tahun dengan Semangat Kolaborasi dan Kepedulian
-
Dari Investor Global hingga UMKM, BRI Bangun Koneksi Bisnis Lintas Negara
-
Dukung Pembangunan Nasional, BRI Salurkan KUR Rp167,01 Triliun hingga September 2026
-
Karhutla Kian Mengancam, 62.400 Balita Terserang ISPA: Pemerintah Harus Bertindak!