Suhardiman
Jum'at, 02 Januari 2026 | 10:34 WIB
Jalan lintas di Aceh Tamiang sudah bisa dilalui kendaraan pascabanjir. [Suara.com/M.Aribowo]
Baca 10 detik
  • Akses jalan nasional Medan-Aceh di Aceh Tamiang telah kembali normal pasca lumpuh akibat longsor dan banjir lumpur beberapa waktu lalu.
  • Normalisasi jalan berhasil dilakukan oleh tim Ditjen Bina Marga Kementerian PU setelah sempat terputus total sejak 27 November 2025.
  • Normalisasi memulihkan aktivitas ekonomi masyarakat Aceh Tamiang yang sempat lumpuh total selama tiga hingga tujuh hari akibat material longsor.

SuaraKalbar.id - Akses jalan nasional yang menghubungkan Medan-Aceh melalui wilayah Aceh Tamiang kini kembali normal dan dapat dilalui kendaraan setelah sempat lumpuh akibat longsor dan banjir lumpur beberapa waktu lalu.

Normalisasi jalan dilakukan berkat kerja cepat tim dari Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) yang turun langsung ke lokasi bencana.

Sebelumnya, kondisi jalan nasional tersebut sempat terputus total sejak 27 November 2025. Material longsor dan lumpur dengan ketinggian mencapai satu lutut orang dewasa menghambat arus lalu lintas dan membuat kendaraan tidak bisa melintas selama beberapa hari.

"Di awal-awal titik bencana, sebelumnya jalan ini lumpuh total, dari mulai longsor hingga lumpur. Sehingga jalannya terhambat sewaktu bencana itu,” ujar Yogi, driver mobil rental rute Medan-Aceh, Jumat 2 Januari 2026.

Yogi mengatakan, kehadiran tim dari Ditjen Bina Marga sangat membantu masyarakat dan pengguna jalan, terutama pengemudi lintas provinsi yang setiap hari mengandalkan jalur tersebut.

"Adanya tim dari petugas Ditjen Bina Marga, Kementerian PU yang turun untuk membantu membereskan longsor dan lumpur, sehingga perjalanan ini kondusif seperti semula," ujarnya.

Ia menjelaskan, saat kejadian awal, lumpur menutup badan jalan cukup parah. Akibatnya, aktivitas transportasi lumpuh hingga berhari-hari dan berdampak langsung pada sektor ekonomi masyarakat.

"Waktu pertama kejadian itu, lumpur sampai sekitar satu lutut, bahkan lebih. Jalan ini tidak bisa dilalui, aktivitas terhambat, lumpuh selama tiga hari bahkan sampai seminggu," ucap Yogi.

Menurutnya, terhentinya akses jalan nasional tersebut menimbulkan kerugian besar, mulai dari pemborosan bahan bakar, keterlambatan pekerjaan, hingga melemahnya perputaran ekonomi masyarakat.

"Ruginya aktivitas itu terhambat. Pekerjaan lumpuh sehingga ekonomi melemah. Saya kan sehari-harinya menggunakan jalan ini dari Medan, Tamiang, menuju Banda Aceh," ungkapnya.

Yogi berharap pemerintah terus menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat, khususnya warga Aceh Tamiang yang kerap terdampak banjir dan bencana alam.

"Saya harap dari pemerintah peduli terhadap rakyat di seluruh wilayah Aceh Tamiang yang terdampak banjir selama ini. Dengan adanya tim-tim Kementerian PU dan rekan-rekannya yang disediakan pemerintah, perjalanan ini kembali lancar dan kondusif seperti semula," jelasnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi dan semangat kepada para petugas yang telah bekerja tanpa lelah di lapangan.

"Selalu semangat untuk petugas yang tidak mengenal lelah membantu akses dan penanganan bencana ini. Semoga selalu sehat, termasuk keluarga yang di rumah,” tutup Yogi.

Amatan di lokasi Jalan Aceh Tamiang yang sebelumnya terputus akibat lumpur tebal, kini sudah dilintasi pengendara mobil dan sepeda motor. Kondisi ini membuat aktivitas ekonomi perlahan bangkit di Aceh Tamiang. Warga mulai berjualan dan pasar-pasar tradisional mulai ramai.

Load More