- Dokter Kunal Sood mengidentifikasi lima kebiasaan harian yang dapat meningkatkan hormon stres kortisol secara berkelanjutan.
- Kebiasaan tersebut meliputi kurang tidur, olahraga berlebihan, konsumsi kafein berlebih, serta melewatkan waktu makan.
- Terlalu lama menatap layar terbukti mengubah ritme sirkadian sehingga kortisol malam hari cenderung meningkat.
SuaraKalbar.id - Akumulasi kebiasaan sehari-hari dapat membuat hormon kortisol tetap aktif. Kondisi ini dapat menimbulkan stres, kegelisahan, atau kelelahan emosional terus menerus.
Melansir dari Hindustan Times, dokter ahli anestesi dan pengobatan nyeri Kunal Sood mengemukakan kebiasaan sehari-hari yang dapat mengganggu keseimbangan kortisol, yang disebut hormon stres, dan meningkatkan respons stres tubuh.
"Kortisol membantu Anda mengatasi stres, tetapi kebiasaan sehari-hari dapat membuat kadarnya tetap tinggi atau mengganggu ritme normalnya. Hal ini dapat memengaruhi tidur, metabolisme, suasana hati, dan pemulihan. Peningkatan kortisol sering kali berasal dari berbagai stres harian," katanya melansir Antara.
Berikut kebiasaan-kebiasaan sehari-hari yang menurut Dr. Kunal Sood bisa mengganggu keseimbangan kortisol di dalam tubuh.
Kurang tidur
Tidur cukup membantu menekan kadar kortisol pada malam hari dan kurang tidur malam menyebabkan hormon stres ini meningkat, memperbesar respons stres keesokan harinya.
Olahraga berlebihan
Latihan olahraga berlebihan tanpa istirahat cukup dapat membuat kadar kortisol tetap tinggi dan mengganggu keseimbangan stres tubuh.
"Olahraga meningkatkan kortisol secara singkat, lalu seharusnya kembali normal. Ketika latihan melebihi pemulihan, ritme kortisol menjadi tidak normal, mencerminkan disfungsi sumbu HPA, bukan adaptasi yang sehat," ujarnya.
Konsumsi kafein berlebihan
Kafein adalah stimulan yang meningkatkan kewaspadaan dengan menaikkan kadar kortisol, yang ketika dikombinasikan dengan stres berkelanjutan bisa menimbulkan efek berlipat ganda terhadap respons stres tubuh.
Melewatkan waktu makan
Selain mengganggu metabolisme, Dr Sood mengatakan, melewatkan waktu makan, terutama sarapan, dapat meningkatkan kadar kortisol.
"Kortisol meningkat untuk menjaga kadar glukosa darah, dan kebiasaan sering melewatkan makan mengubah ritme kortisol normal," ungkapnya.
Terlalu lama menatap layar
Berita Terkait
-
Stop Kebanyakan Scroll! Saatnya Kamu Memberi Jeda untuk Diri Sendiri
-
Hasil CKG Jakarta: Lemak Darah Tak Normal Ditemukan pada 67 Persen Peserta Berisiko
-
U by Prodia Luncurkan U-Buddy, Integrasikan Data dari Berbagai Wearable dalam Satu Aplikasi
-
Gen Z dan Milenial Makin Rajin Jaga Kesehatan, Tidur hingga Kesehatan Mental Jadi Prioritas
-
Privilege Layanan Diagnostik Eksklusif BRI dan Laboratorium Prodia
Terpopuler
- Dapat Warisan PR Karhutla, Menko Polkam Dudung Siap Terjun Langsung ke Lokasi
- 4 Rekomendasi Pelembap Viva untuk Kulit Kering, Bantu Perbaiki Skin Barrier
- Aliran Minyak di Selat Hormuz Sudah Normal, Mengapa Harga BBM Masih Mahal?
- Selamat Tinggal Kevin Diks, Cabut Lebih Cepat dari Skuad Timnas Indonesia Usai Juara
- 8 Sneakers Lokal Paling Nyaman dan Modis untuk Gaya Harian, Mulai Rp200 Ribuan
Pilihan
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
-
Satgas PKH Pamer Tumpukan Duit Rp13 Triliun Hasil Penyelamataan Keuangan Negara di Hadapan Prabowo
-
Nama Puan Disebut Jadi Pengganti Gibran, Begini Respons Ketua DPR
-
Disaksikan Andi Gani dan Perwakilan Buruh, DPR Resmi Sahkan RUU Perlindungan Ketenagakerjaan Jadi UU
Terkini
-
Gugatan Karhutla Kalbar Masuk Pengadilan, Warga Soroti Data dan Penanganan Asap
-
BRI Peduli Siapkan 500 Volunteer Dari Program "Yok Kita Gas", Dukung MotoGP Mandalika 2026
-
Lewat PELOPOR 2026, BRI Perluas Agen Perubahan Budaya Antikorupsi
-
Leonardo DiCaprio Soroti Karhutla, 800 Ribu Hektar Hutan Terbakar: Ke Mana Orangutan Pergi?
-
Karhutla Belum Usai, Warga Kubu Raya Andalkan Hujan hingga Beli Air untuk Minum