- Sebanyak 1.619 Tenaga Kerja Asing tercatat bekerja di Sumatera Selatan hingga tahun 2025, mayoritas berasal dari China.
- TKA tersebut tersebar di 14 kabupaten/kota, dengan konsentrasi terbesar berada di Kabupaten Muara Enim, terutama sektor pertambangan.
- Setiap TKA wajib memiliki pendamping dari tenaga lokal untuk memastikan terjadi alih pengetahuan dan kompetensi.
SuaraKalbar.id - Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Sumatera Selatan mencatat ada 1.619 tenaga kerja asing (TKA) yang bekerja di Sumsel hingga 2025. Mayoritas TKA tersebut, 70 berasal dari China.
Mereka tersebar di 14 kabupaten dan kota di Sumsel, dengan konsentrasi terbesar berada di Kabupaten Muara Enim. Hal ini dikatakan oleh Kepala Seksi Purna Kerja dan TKA Disnakertrans Sumsel Baidiah Febriani.
"Jumlah TKA sekitar 1.619 orang dan hampir 70 persennya berasal dari China. Mereka paling banyak bekerja di Muara Enim, khususnya di sektor pertambangan,” katanya melansir Antara, Senin, 2 Februari 2026.
Selain di Muara Enim, kata Baidiah, TKA asal China juga bekerja di Kota Palembang, terutama di sektor industri, seperti di Pabrik Pupuk Sriwidjaja (Pusri).
“Di Palembang mereka ditempatkan di pabrik, seperti di Pusri. Mereka merupakan pekerja profesional untuk kebutuhan teknis dan operator mesin,” ujarnya.
Seluruh proses perizinan TKA dilakukan secara terpusat melalui kementerian terkait. Perusahaan pengguna TKA wajib mengajukan Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing (RPTKA) yang disertai tahapan wawancara dan verifikasi kompetensi.
“RPTKA diajukan karena memang dibutuhkan keahlian khusus, misalnya untuk pemasangan dan pengaturan mesin, termasuk turbin besar di pabrik,” ucapnya.
Terkait kekhawatiran berkurangnya kesempatan kerja bagi tenaga lokal, ia memastikan keberadaan TKA tidak menggeser tenaga kerja Indonesia. Ini karena setiap TKA diwajibkan memiliki tenaga kerja pendamping dari lokal.
“Tenaga kerja pendamping wajib dari tenaga lokal agar terjadi alih pengetahuan. Setelah TKA selesai bekerja, tenaga kerja lokal diharapkan dapat melanjutkan,” ungkap Febriani.
Selain dari China, TKA yang bekerja di Sumsel juga berasal dari sejumlah negara lain, seperti Malaysia dan Jepang, meskipun jumlahnya relatif lebih sedikit dibandingkan TKA asal China.
Berita Terkait
-
Bos Bugatti Imbau Pabrikan Eropa Tidak Meniru Tren Mobil China, Fokus Kualitas
-
Kabut Asap Karhutla Picu 52.483 Kasus ISPA di Sumsel
-
Sinopsis Whisper of Time, Drama China Dibintangi Huang Xuan dan Liu Hao Cun
-
RI Impor 840 Ribu Ton Nikel dari Brasil, Filipina Hingga Turki Sepanjang 2026
-
Geger Bentrok TKA China vs Warga di Morowali, 53 Diperiksa Polisi
Terpopuler
- Jokowi Tak Lagi Optimis Prabowo-Gibran 2 Periode, Gerindra Respons Santai: Pilpres Masih Jauh
- KPU Bisa Tindaklanjuti Putusan MK dengan Menyatakan Syarat Pendidikan Gibran di Pilpres 2024 Tak Sah
- Selundupkan 1.689 Burung Liar ke Jakarta, Bus Sinar Jaya Dicegat di Pelabuhan Bakauheni
- Profil Suhartoyo, Ketua MK yang Menolak Gugatan Soal Ijazah Gibran
- Jokowi Tampak Tak Lagi Optimistis Gibran Jadi Pasangan Prabowo di Pilpres 2029
Pilihan
-
Inilah 5 Menteri yang Kinerjanya Paling Buruk Menurut Survei CELIOS
-
Polri Gerebek Sarang Narkoba Kampung Boncos dan Ambon! Operasi Masih Berlangsung
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
Terkini
-
BRI Peduli Hadirkan Aksi Nyata Jaga Kebersihan Mandalika di Ajang MotoGP 2026
-
BRI Pertahankan Posisi Merek Paling Bernilai di Indonesia di Tengah Persaingan Industri Keuangan
-
Investasi Mulai Rp100.000, BRI Hadirkan Tiga Produk Reksa Dana Eastspring
-
Gugatan Karhutla Kalbar Masuk Pengadilan, Warga Soroti Data dan Penanganan Asap
-
BRI Peduli Siapkan 500 Volunteer Dari Program "Yok Kita Gas", Dukung MotoGP Mandalika 2026