Budi Arista Romadhoni
Sabtu, 22 Agustus 2026 | 10:38 WIB
petugas BPBD Kalbar memadamkan karhutla di Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalbar. ANTARA/Ho- Sucia Lucinda
Baca 10 detik
  • BMKG Kalbar memperingatkan ancaman asap karhutla di Ketapang dan Kayong Utara dapat mencapai Pontianak hingga negara tetangga.
  • Peluang hujan yang sangat rendah hingga akhir September 2026 menyebabkan risiko karhutla di wilayah selatan Kalbar tetap tinggi.
  • Operasi Modifikasi Cuaca difokuskan ke wilayah utara karena minimnya pertumbuhan awan hujan di kawasan selatan Kalbar.

SuaraKalbar.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat berpotensi berubah menjadi persoalan lintas wilayah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalbar memperingatkan asap dari titik-titik kebakaran di Ketapang dan Kayong Utara dapat terbawa angin menuju Kota Pontianak, Bandara Supadio, bahkan berpotensi menyeberang ke negara tetangga.

Ancaman tersebut diperparah kondisi cuaca yang masih kering. BMKG memperkirakan peluang hujan di sejumlah wilayah rawan karhutla masih sangat rendah hingga akhir September 2026.

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Kalbar Soetikno mengatakan arah angin dominan dari tenggara hingga selatan memungkinkan asap bergerak dari wilayah selatan Kalbar menuju kawasan lain.

“Kalau ada karhutla kemungkinan akan cepat merambat. Arah gerak angin dominan dari tenggara hingga selatan, sehingga ketika di wilayah Ketapang, Kayong Utara yang di sana ada banyak titik karhutla, asapnya bisa terbawa sampai ke Bandara Supadio hingga ke Kota Pontianak,” kata Soetikno di Pontianak, Jumat.

Kondisi tersebut membuat Kubu Raya bagian selatan, Kayong Utara dan Ketapang menjadi wilayah yang perlu mendapat perhatian serius. Ketiga kawasan itu diperkirakan masih menghadapi curah hujan yang sangat rendah dalam sepekan ke depan.

“Potensi karhutla masih tinggi, setidaknya sampai seminggu ke depan. Terutama wilayah Kabupaten Kubu Raya bagian selatan, Kayong Utara dan Ketapang, peluang terjadi hujannya sangat rendah sekali,” ujarnya.

Ancaman bukan hanya berada di lokasi kebakaran. Angin yang cukup kencang di wilayah laut sebelah barat hingga pesisir Ketapang dapat mempercepat pergerakan asap menuju kawasan yang lebih padat aktivitas, termasuk Pontianak dan Bandara Supadio.

Jika konsentrasi asap meningkat, sejumlah fasilitas penerbangan juga perlu diwaspadai, termasuk Bandara Rahadi Oesman di Ketapang.

Lebih jauh, BMKG menyebut sebaran asap berpotensi meluas hingga lintas negara. Meski demikian, luas dan arah penyebaran sangat bergantung pada perkembangan titik panas, lokasi kebakaran, serta arah dan kecepatan angin.

Baca Juga: Keluhan Warga Sungai Laur Ditindaklanjuti, Pertamina dan Pemprov Kalbar Siap Salurkan BBM Bersubsidi

Persoalannya, kondisi kering diperkirakan belum segera berakhir. BMKG memperkirakan risiko karhutla masih bertahan hingga September sebelum curah hujan berangsur kembali normal pada Oktober.

Dalam periode 23-26 Agustus 2026 memang terdapat peluang hujan di sejumlah wilayah Kalbar. Namun, hujan lebih berpotensi terjadi di kawasan utara dan timur seperti Kapuas Hulu, Sintang, Sekadau, Sanggau bagian utara, Bengkayang dan Sambas.

Hujan yang turun pun diperkirakan berintensitas ringan dan tidak merata sehingga belum cukup untuk secara signifikan menekan risiko karhutla di wilayah selatan.

“Namun, hujan diperkirakan berintensitas ringan dan tidak merata sehingga belum cukup untuk mengurangi risiko karhutla secara signifikan,” kata Soetikno.

Kondisi ini juga membatasi upaya penanganan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). BMKG menjelaskan OMC hanya dapat dilakukan ketika terdapat potensi pertumbuhan awan hujan yang memungkinkan dilakukan penyemaian.

Karena itu, OMC pada 23-26 Agustus lebih diarahkan ke wilayah utara Kalbar seperti Sanggau, Bengkayang dan Sambas yang masih memiliki potensi pertumbuhan awan hujan.

Load More