Bella
Senin, 14 September 2026 | 20:54 WIB
Tiga anak menunjukkan uang pecahan Rp10.000 saat berbincang mengenai nilai uang dan kebiasaan menabung, Senin (14/9/2026). (Suara.com/Bella)
Baca 10 detik
  • Penulis mewawancarai anak-anak berbagai usia untuk mengetahui pemahaman mereka tentang nilai mata uang rupiah.
  • Anak-anak menyisihkan uang jajan untuk menabung di bank demi keamanan dan membeli barang yang diinginkan.
  • Anak-anak menunjukkan pemahaman tentang pentingnya merawat rupiah sebagai bentuk menjaga kepribadian bangsa Indonesia.

SuaraKalbar.id - Kemampuan memahami nilai rupiah ternyata tumbuh bersama usia. Hal ini saya pahami setelah mewawancara anak-anak dengan rentang usia berbeda.

Bagi anak usia 5 tahun mungkin uang Rp10 ribu banyak, namun bagi anak usia 10 tahun tidak, atau sebaliknya.

Saya coba melontarkan pertanyaan sederhana kepada seorang anak bernama Jati (6), jika memiliki uang Rp10 ribu ia akan gunakan untuk apa. Jati mengaku akan menggunakan uang tersebut untuk membeli buku, karena baginya uang Rp10 ribu masih cukup besar nilainya.

Sedangkan bagi Jagad (10), uang Rp10 ribu hanya cukup untuk membeli beberapa jajanan favorit.

"Kalau aku sih buat beli basreng, sama makaroni," kata Jagad.

Tidak hanya soal uang Rp10 ribu, mereka juga punya pemaknaan yang berbeda soal uang Rp1000. Kali ini bukan karena usia namun soal lingkungan.

Jati yang bersekolah di SD swasta mengaku bahwa uang Rp1000 tidak ada nilainnya karena tidak bisa ditukar dengan jajanan di kantinnya. Sedangkan Jagad dan Chiko (8) menilai bahwa uang Rp1000 masih ada nilainnya karena bisa ditukar dengan permen di kantin sekolah.

"Ndak dapat apa-apa di sekolah, dah ndak ada yang seribu," kata Jati.

Meski masih kecil, anak-anak ini sudah gemar menabung. Mereka menyisihkan uang jajannya untuk nanti membeli barang-barang yang dinginkan seperti mobil, motor dan untk masadepannya.

Baca Juga: 5 Tahun Holding UMi, BRI Perkuat Akses Keuangan bagi 33,8 Juta Debitur

Namun yang menarik, mereka tidak hanya menabung sekedar di celengan malainkan menabung di Bank. Jagad misalnya, mengaku lebih memilih nabung di Bank karena lebih terjamin keamanannya.

"Lebih suka (nabung) di Bank, kalo di tabungan (celengan) seperti ada tuyul yang ambilnya," kata Jagad.

Dibalik kepolosan anak-anak ini, mereka juga sudah memahami rupiah sebagai identisat bangsa.

Ketika saya bertanya mengapa uang harus dirawat, Jagad sontak menjawab untuk menjaga keperibadian bangsa.

Begitu juga saat saya melontarkan pertanyaan apakah mereka bangga terhadap mata uang rupiah, Jagad dan Jati awalnya mengaku tidak bangga lantaran nilainya lebh kecil dibanding dolar dan saat ini kian lemah, Ciko buru-buru menimpalii.

"Aku sih bangga, kalau ndak bangga kalian pnda Negaja aja," celetuknya dengan penuh rasa bangga.

Load More