Budi Arista Romadhoni
Kamis, 15 Oktober 2026 | 13:05 WIB
Satu individu orangutan berhasil diselamatkan dari area karhutla di Kotim, Rabu malam (14/10/2026). (ANTARA/Devita Maulina)
Baca 10 detik
  • Tim gabungan mengevakuasi seekor orang utan betina yang terjebak di kawasan bekas karhutla Kabupaten Kotawaringin Timur pada Rabu (14/10/2026).
  • Pemerintah mengklaim tingkat keberhasilan pemadaman karhutla melampaui 80 persen, namun kabut asap lintas batas masih memicu protes serta gugatan hukum warga.
  • Presiden Prabowo Subianto menyatakan hujan sebagai solusi akhir, sementara para pakar menilai penanganan karhutla gambut harus dilakukan secara tuntas tanpa bergantung pada hujan.

Penyelamatan dilakukan pada malam hari dengan penerangan terbatas. Petugas menggunakan kendaraan roda dua sebelum melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, berbekal senter portabel.

Seluruh proses evakuasi hingga pemeriksaan awal kondisi fisik dan kesehatan orang utan berlangsung sekitar pukul 19.00–20.00 WIB.

Muriansyah mengatakan tim tidak menemukan sarang orang utan di sekitar lokasi. Karena itu, petugas menduga satwa tersebut sedang melintas untuk mencari makan sebelum ditemukan warga dan naik ke pohon.

"Seperti yang sebelumnya, orangutan saat terdesak kebakaran akan berpindah ke tempat yang lebih baik. Kami menduga kuat orangutan tadi mencari makan dan terlihat oleh warga, kemudian dilaporkan kepada petugas BKSDA," ujarnya.

Dokter hewan Ichlasul Khaerul menjelaskan pemeriksaan awal menunjukkan orang utan tersebut secara umum dalam kondisi sehat.

"Setelah melakukan pemeriksaan fisik, kami tidak menemukan adanya patah tulang, luka, ataupun peluru di tubuh orangutan tersebut," terang Ichlasul.

Pemeriksaan awal juga tidak menunjukkan gejala yang mengarah pada infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Berdasarkan pemeriksaan menggunakan stetoskop, suara paru-parunya masih tergolong baik. Sebelum dibius, orang utan tersebut juga masih menunjukkan aktivitas dan pergerakan yang aktif.

Meski demikian, Ichlasul menduga orang utan tersebut mengalami kekurangan asupan makanan. Dugaan itu didasarkan pada kondisi lapangan yang minim sumber pakan serta lingkar perut satwa tersebut.

Berat badannya tercatat 28 kilogram dan dinilai masih ideal untuk orang utan betina. Namun, pemeriksaan lanjutan tetap diperlukan untuk memastikan kondisi kesehatannya.

Baca Juga: IPOSC 2026 Digelar Saat Karhutla Parah, Muncul Desakan agar Acara Sawit Dibatalkan

"Untuk pemeriksaan lanjutan, kami akan memeriksa sampel darah di laboratorium. Kami juga akan melihat kondisinya setelah sadar dari pembiusan, apakah ada efek lain yang sebelumnya tidak ditemukan saat pemeriksaan di lapangan," katanya.

Hasil pemeriksaan tersebut akan menjadi bahan koordinasi dengan BKSDA untuk menentukan langkah berikutnya, termasuk kemungkinan pemindahan atau translokasi orang utan ke lokasi yang sesuai.

Penyelamatan ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan mengevakuasi satu satwa belum menyelesaikan persoalan kerusakan habitat akibat kebakaran. Selama api masih mengancam hutan dan lahan gambut, satwa liar berisiko kehilangan tempat berlindung dan sumber makanan.

Infografis kondisi karhutla di Indonesia.

Pemerintah Klaim Pemadaman di Atas 80 Persen

Di tengah penyelamatan satwa dan dampak karhutla terhadap masyarakat, pemerintah menyatakan operasi pemadaman telah menunjukkan perkembangan.

Dalam rapat terbatas di Istana Merdeka, Jakarta, pada 12 Oktober 2026, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto melaporkan bahwa lahan yang masih terbakar dan ditangani satuan tugas mencapai 639,23 hektare.

Load More