- Penulis mewawancarai anak-anak berbagai usia untuk mengetahui pemahaman mereka tentang nilai mata uang rupiah.
- Anak-anak menyisihkan uang jajan untuk menabung di bank demi keamanan dan membeli barang yang diinginkan.
- Anak-anak menunjukkan pemahaman tentang pentingnya merawat rupiah sebagai bentuk menjaga kepribadian bangsa Indonesia.
SuaraKalbar.id - Kemampuan memahami nilai rupiah ternyata tumbuh bersama usia. Hal ini saya pahami setelah mewawancarai anak-anak dengan rentang usia berbeda.
Bagi anak usia 5 tahun, mungkin uang Rp10 ribu terasa banyak. Namun, bagi anak usia 10 tahun belum tentu demikian. Begitu pula sebaliknya.
Saya coba melontarkan pertanyaan sederhana kepada seorang anak bernama Jati (6), jika memiliki uang Rp10 ribu ia akan gunakan untuk apa. Jati mengaku akan menggunakan uang tersebut untuk membeli buku karena baginya uang Rp10 ribu masih cukup besar nilainya.
Sedangkan bagi Jagad (10), uang Rp10 ribu hanya cukup untuk membeli beberapa jajanan favorit.
Baca Juga:5 Tahun Holding UMi, BRI Perkuat Akses Keuangan bagi 33,8 Juta Debitur
"Kalau aku sih buat beli basreng, sama makaroni," kata Jagad.
Tidak hanya soal uang Rp10 ribu, mereka juga punya pemaknaan yang berbeda soal uang Rp1.000. Kali ini bukan karena usia, melainkan lingkungan tempat mereka beraktivitas.
Jati yang bersekolah di SD swasta mengaku bahwa uang Rp1.000 tidak ada nilainya karena tidak bisa ditukar dengan jajanan di kantinnya. Sedangkan Jagad dan Chiko (8) menilai uang Rp1.000 masih ada nilainya karena bisa ditukar dengan permen di kantin sekolah.
"Ndak dapat apa-apa di sekolah, dah ndak ada yang seribu," kata Jati.
Meski masih kecil, anak-anak ini sudah gemar menabung. Mereka menyisihkan uang jajannya untuk membeli barang-barang yang diinginkan, seperti mobil dan motor, serta untuk masa depan.
Baca Juga:Viral Tudingan Pakai APBN untuk Konser K-Pop, Ini 6 Fakta Klarifikasi Wagub Banten Soal Putrinya
Namun, yang menarik, mereka tidak hanya menabung di celengan, melainkan juga di bank. Jagad, misalnya, mengaku lebih memilih menabung di bank karena merasa lebih terjamin keamanannya.
"Lebih suka (nabung) di Bank, kalau di tabungan (celengan) seperti ada tuyul yang ambilnya," kata Jagad.
Di balik kepolosan anak-anak ini, mereka juga sudah memahami rupiah sebagai identitas bangsa.
Ketika saya bertanya mengapa uang harus dirawat, Jagad sontak menjawab bahwa hal itu untuk menjaga kepribadian bangsa.
Begitu juga saat saya melontarkan pertanyaan apakah mereka bangga terhadap mata uang rupiah. Jagad dan Jati awalnya mengaku tidak bangga lantaran nilainya lebih kecil dibanding dolar dan saat ini kian lemah. Ciko buru-buru menimpali.
"Aku sih bangga, kalau ndak bangga kalian pindah negara aja," celetuknya dengan penuh rasa bangga.