- Helikopter TNI AD jatuh di Seruyan pada Rabu (4/11/2026) saat memadamkan kebakaran hutan.
- Tim SAR gabungan mengerahkan 25 penyelam dan kapal tugboat untuk mengevakuasi korban di perairan keruh.
- Seluruh korban berhasil dievakuasi dengan rincian lima selamat dan tiga prajurit gugur.
SuaraKalbar.id - Proses evakuasi helikopter Mi-17V5 milik TNI Angkatan Darat (AD) yang jatuh di perairan Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, menghadapi sejumlah kendala serius. Kondisi air yang keruh bercampur lumpur, gelombang besar, hingga risiko sengatan listrik membuat tim penyelam harus bekerja ekstra hati-hati.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengungkapkan, buruknya jarak pandang di bawah permukaan air menjadi salah satu hambatan utama dalam proses evakuasi badan helikopter dan korban kecelakaan.
Bahkan, dalam penyelaman sebelumnya, petugas tidak dapat melihat badan helikopter yang berada di dasar perairan. Mereka hanya bisa mengandalkan perabaan untuk mengenali posisi bangkai pesawat.
"Pertama memang visibility bagi para penyelam sangat terbatas, airnya sangat kotor, sangat keruh, berlumpur. Sehingga kemarin juga dicoba dimasuki (penyelam), sama sekali tidak bisa dilihat. Jadi hanya bisa meraba badan helikopter tersebut," ujar Raja Juli Antoni di Bandara Kuala Pembuang, Kalimantan Tengah, Jumat (6/11/2026).
Baca Juga:3 Prajurit TNI Gugur dalam Kecelakaan Helikopter Mi-17 di Kalteng, 2 Jenazah Dipulangkan
Kecelakaan helikopter Mi-17V5 dengan nomor registrasi HA-5235 tersebut terjadi ketika menjalankan misi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Rabu (4/11/2026).
Air Keruh dan Ombak Besar Hambat Penyelam
Menurut Raja Juli Antoni, selain jarak pandang yang sangat terbatas, tim gabungan juga menghadapi gelombang besar di lokasi jatuhnya helikopter.
Kondisi tersebut membuat proses penyelaman dan pencarian korban tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Tim harus memperhitungkan keselamatan penyelam sekaligus kondisi badan helikopter yang berada di dasar perairan.
Untuk membantu proses evakuasi, para penyelam telah dibekali gambar dan video yang memperlihatkan struktur helikopter Mi-17V5.
Baca Juga:Menhut Bidik 6 Perusahaan Lagi soal Karhutla, Siapa yang Terancam Kehilangan Izin Usaha?
Dokumentasi tersebut diperlukan agar penyelam dapat mengenali bagian-bagian pesawat, termasuk posisi pintu utama, pintu darurat, serta mekanisme pelepasan sabuk pengaman.
Bekal informasi itu diharapkan membantu tim menemukan akses menuju bagian dalam kabin meskipun kondisi air tidak memungkinkan penyelam melihat objek secara langsung.
Pemerintah bersama TNI, Polri, Basarnas, dan unsur terkait memperkuat operasi evakuasi dengan menambah personel penyelam.
Raja Juli Antoni menyebut terdapat penambahan penyelam dari Basarnas, TNI Angkatan Laut, serta penyelam lokal. Jumlah keseluruhan personel penyelam yang disiapkan mencapai sekitar 25 orang.
Sebelumnya, enam penyelam telah diterjunkan untuk membantu proses pencarian dan evakuasi.
Selain menggunakan tenaga penyelam, tim juga mengerahkan helikopter Kamov untuk membantu proses penanganan bangkai pesawat yang terbenam di dasar perairan.