SuaraKalbar.id - Gus Sahal menilai bulan Ramadhan kali ini sebagai momen spesial karena tanpa kehadiran Front Pembela Rakyat (FPI).
Gus Sahal menuturkan ini menjadi kali pertama Ramadhan tanpa FPI sejak tahun berdirinya ormas tersebut pada 1998 yang kemudian resmi dibubarkan oleh pemerintah pada Desember 2020 lalu.
Hal itu disampaikannya lewat video yang ditayangkan kanal YouTube Cokro TV, Senin (12/4/2021)
"Ramadhan saat ini sebenarnya adalah Ramadhan yang sangat spesial, karena pada saat inilah untuk pertama kalinya, Ramadhan tanpa keberadaan FPI," ungkap Gus Sahal.
Dia mengatakan sejak berdirinya berdirinya, beberapa bulan setelah Soeharto jatuh, baru kali ini menjalani puasa tanpa kehadiran ormas yang selalu tampil dengan seragam putih-putih.
"Selalu mengklaim melakukan anti kemaksiatan, tapi dengan cara-cara penggalangan massa, sweeping, menggeruduk, dan main hakim sendiri. Sekarang itu tidak kita lihat lagi, mulai Ramadhan tahun ini," tambahnya.
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCINU) Amerika tersebut menilai pelarangan FPI oleh pemerintah merupakan sebuah langkah tepat.
Gus Sahal merinci alasan terkait pandangannya tersebut. Pertama, kata dia, keputusan pelarangan FPI menandakan sinyal kalau pemerintah tegas dengan kelompok intoleran. Terlebih sebelumnya muncul desakan agar pemerintah menindak kaum-kaum intoleran.
"Jadi sebelumnya kan selalu ada kekecewaan dan tuntutan agar Pak Jokowi tegas terhadap kelompok intoleran. Ini bukti kalau pemerintah tegas harus kita syukuri," ungkap Gus Sahal.
Baca Juga: Penumpang KRL Commuter Boleh Buka Puasa di Dalam Gerbong Selama Ramadhan
Sementara alasan kedua, Gus Sahal menyoroti eksistensi FPI selama ada di RI yang kerap menggaungkan gerakan amar ma'ruf nahi mungkar. Dia berpendapat klaim tersebut justru bertentangan dengan cara yang dilakukan oleh FPI.
"FPI melakukan nahi mungkar, tetapi cara-cara yang dipakai itu justru kemungkaran. Jadi ini sesuatu yang bertentangan dengan spirit amar makruf nahi mungkar," tegasnya.
Gus Sahal menyebut, amar makruf nahi mungkar tak bisa dilakukan secara sewenang-wenang dan harus mengikuti aturan. Namun ormas yang dikomandoi Rizieq Shihab justru tak melanggarnya.
"Nahi mungkar harus didasarkan pada pemerintah yang sah (ulil amri) dalam hal ini pemerintahan Jokowi kalau tidak bisa main hakim sendiri, ujung-ujungnya chaos," kata Gus Sahal.
"Selanjutnya, FPI sebagai kelompok yang nahi mungkar itu juga bermasalah karena caranya pakai kemungkaran seperti kekerasan, pemaksaan kehendak, sweeping, intimidasi, penggerudukan. Jadi, ini bertentangan," sambungnya.
Dua hal tersebut, kata Gus Sahal, menjadi masalah bagi FPI sendiri. Menegakkan amar makruf nahi mungkar dengan kemungkaran justru membuat FPI mencoreng citra agama Islam.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil Bekas 50 Jutaan Cocok untuk Milenial, Bodi Stylish Tak Repot Perawatan
- 5 Moisturizer dengan Alpha Arbutin untuk Memudarkan Flek Hitam, Cocok Dipakai Usia 40-an
- Kronologi Lengkap Petugas KAI Diduga Dipecat Gara-Gara Tumbler Penumpang Hilang
- 5 Rekomendasi Ban Tubeless Motor Matic, Tidak Licin saat Hujan dan Jalan Berpasir
- 7 Mobil Boros Bahan Bakar Punya Tenaga Kuda, Tetapi Banyak Peminatnya
Pilihan
-
Dirumorkan Latih Indonesia, Giovanni van Bronckhorst Tak Direstui Orang Tua?
-
Jadi Kebijakan Progresif, Sineas Indonesia Ingatkan Dampak Ekonomi LSF Hapus Kebijakan Sensor Film
-
Daftar Maskapai RI yang Pakai Airbus A320
-
5 Tempat Ngopi Tersembunyi di Palembang yang Bikin Ketagihan Sejak Seduhan Pertama
-
6 HP 5G Paling Murah di Bawah Rp 4 Juta, Investasi Terbaik untuk Gaming dan Streaming
Terkini
-
Bank Mandiri Perkuat Sinergi Majukan Negeri Lewat Akselerasi KUR & Penguatan Komoditas Daerah Kalbar
-
Turunkan Berat Badan dengan Perbanyak Konsumsi Sayur
-
3 Skenario Operasi Feri Ketapang-Gilimanuk Selama Nataru
-
Warga Kalbar Merapat! Ada Saldo Gratis Rp 230 Ribu Sore Ini, Klik 3 Link Dana Kaget Ini
-
ABPD Pontianak 2026 Disepakati Rp 2,092 Triliun