Scroll untuk membaca artikel
Husna Rahmayunita
Selasa, 13 April 2021 | 09:27 WIB
Akhmad Sahal atau Gus Sahal dalam Video YouTube Cokro TV (YouTube/CokroTV).

"FPI melakukan nahi mungkar, tetapi cara-cara yang dipakai itu justru kemungkaran. Jadi ini sesuatu yang bertentangan dengan spirit amar makruf nahi mungkar," tegasnya.

Gus Sahal menyebut, amar makruf nahi mungkar tak bisa dilakukan secara sewenang-wenang dan harus mengikuti aturan. Namun ormas yang dikomandoi Rizieq Shihab justru tak melanggarnya.

Brimob dan tentara bongkar atribut FPI di Petamburan, Jakarta Pusat. (Suara.com/Novian)

"Nahi mungkar harus didasarkan pada pemerintah yang sah (ulil amri) dalam hal ini pemerintahan Jokowi kalau tidak bisa main hakim sendiri, ujung-ujungnya chaos," kata Gus Sahal.

"Selanjutnya, FPI sebagai kelompok yang nahi mungkar itu juga bermasalah karena caranya pakai kemungkaran seperti kekerasan, pemaksaan kehendak, sweeping, intimidasi, penggerudukan. Jadi, ini bertentangan," sambungnya.

Baca Juga: Penumpang KRL Commuter Boleh Buka Puasa di Dalam Gerbong Selama Ramadhan

Dua hal tersebut, kata Gus Sahal, menjadi masalah bagi FPI sendiri. Menegakkan amar makruf nahi mungkar dengan kemungkaran justru membuat FPI mencoreng citra agama Islam.

"Islam itu ditampilkan oleh FPI jadi sesuatu yang garang, menakutkan, dan sesuatu yang membuat orang ngeri melihat Islam," ujar Gus Sahal.

Oleh karenanya, Gus Sahal bersyukur akhirnya FPI resmi dilarang oleh pemerintah. Dia berharap hal ini terus berlanjut dan menjadi titik pijak untuk melangkah melawan segala bentuk premanisme agama, dan premanisme berjubah.

"Jadi dengan adanya Ramadhan tanpa FPI ini, semoga ke depan Indonesia menjadi lebih baik dan pemerintah semakin menunjukkan konsistensinya untuk tegas terhadap kelompok intoleransi, terutama kelompok intoleransi berbasis agama," pungkas Gus Sahal.

Baca Juga: Suasana Salat Tarawih di Masjid Gedhe Kauman Digelar Dengan Terapkan Prokes

Load More