Suhardiman
Jum'at, 30 Januari 2026 | 12:07 WIB
Ilustrasi TBC. (Freepik)
Baca 10 detik
  • Indonesia menduduki peringkat kedua kasus Tuberkulosis (TBC) terbanyak secara global setelah India.
  • Wamenkes Benjamin Paulus Octavianus menyampaikan hal ini saat acara skrining TBC di Kulon Progo, 29 Januari 2026.
  • Penanggulangan TBC melibatkan 31 kementerian/lembaga karena faktor lingkungan sangat memengaruhi penularan penyakit.

SuaraKalbar.id - Indonesia saat ini menempati peringkat kedua dunia dengan jumlah kasus Tuberkulosis (TBC) tertinggi setelah India. Bahkan, jika dilihat dari rasio jumlah penduduk, angka kasus TBC di Indonesia dinilai lebih tinggi.

Hal ini dikatakan oleh Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus saat menghadiri Ceremony Active Case Finding (ACF) Tuberkulosis yang dirangkai dengan kegiatan skrining TBC terhadap 200 warga Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Kamis, 29 Januari 2026 kemarin.

“Saat ini Indonesia berada di peringkat kedua dunia kasus TBC tertinggi setelah India. Bahkan jika dibandingkan rasio per penduduk, angka kita lebih tinggi. Karena itu presiden menugaskan kami untuk serius membereskan TBC,” katanya melansir suarakalbar.

Menurut Benjamin, percepatan eliminasi TBC menjadi salah satu program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming yang masuk dalam delapan program hasil terbaik cepat di bidang kesehatan.

Penanganan TBC tidak bisa hanya dibebankan pada sektor kesehatan. Pemerintah melibatkan 31 kementerian dan lembaga, mulai dari Kementerian Desa, Kementerian Dalam Negeri, TNI–Polri, hingga Kementerian Perumahan, mengingat faktor lingkungan dan hunian sangat memengaruhi penularan TBC.

“Rumah tanpa ventilasi di daerah lembap bisa menyimpan kuman TBC berbulan-bulan tetapi terkena sinar matahari 15–30 menit, kumannya bisa mati. Maka intervensi lingkungan menjadi sangat penting,” jelasnya.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan, di Kabupaten Kulon Progo baru ditemukan 429 kasus TBC dari estimasi lebih dari 800 kasus. Artinya, masih terdapat ratusan penderita yang belum terdeteksi dan berpotensi menularkan penyakit di masyarakat. Kondisi tersebut menjadi dasar pelaksanaan ACF melalui penelusuran aktif kasus TBC.

Load More