Tasmalinda
Senin, 15 Juni 2026 | 21:19 WIB
Ilustrasi menu makanan bergizi gratis. Di kabupaten Landak, Siswa SD urung makan setelah temukan ayam berulat dalam menu MBG.
Baca 10 detik
  • Siswa SD Negeri 13 Nyanyum, Kabupaten Landak, menemukan ulat pada lauk ayam dalam program Makan Bergizi Gratis pemerintah.
  • Pemerintah daerah menemukan sembilan dapur penyedia tidak memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi sehingga menyebabkan standar kualitas pangan menurun.
  • Bupati Landak memerintahkan evaluasi menyeluruh serta memperketat pengawasan penyedia makanan demi menjamin keamanan konsumsi bagi para siswa sekolah.

SuaraKalbar.id - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan gizi siswa di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, menjadi sorotan setelah ditemukan ulat pada lauk ayam yang disajikan kepada murid SD Negeri 13 Nyanyum. Temuan tersebut membuat sejumlah siswa memilih tidak melanjutkan makan siang mereka.

Kejadian itu terungkap saat guru dan pihak sekolah memeriksa makanan yang diterima siswa. Dalam video yang kemudian beredar di masyarakat, terlihat ayam goreng yang dibelah mengandung ulat-ulat kecil di bagian dalamnya. Sebelumnya, beberapa siswa juga mengaku mencium aroma tidak sedap dari lauk yang dibagikan.

Temuan tersebut langsung memicu kekhawatiran di lingkungan sekolah. Pasalnya, makanan yang disediakan merupakan bagian dari program pemerintah yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak-anak usia sekolah.

Mengetahui kejadian tersebut, Bupati Landak Karolin Margret Natasa segera mengambil langkah dengan meminta evaluasi menyeluruh terhadap penyedia makanan dalam program MBG. Ia menegaskan bahwa kesehatan dan keselamatan siswa harus menjadi prioritas utama.

"Saya sangat berterima kasih dan mengapresiasi pihak sekolah yang tanggap merekam serta melaporkan kejadian ini. Jangan pernah takut bersuara. Pemerintah daerah berdiri sepenuhnya di belakang pihak sekolah, orang tua, dan masyarakat. Anak-anak kita berhak mendapatkan yang terbaik, bukan makanan tak layak konsumsi," kata Karolin.

Hasil evaluasi pemerintah daerah menemukan masih ada dapur penyedia makanan yang belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Tercatat sembilan dapur penyedia di Kabupaten Landak masih beroperasi tanpa sertifikat tersebut.

Karolin menilai kondisi itu sebagai kelalaian serius yang harus segera diperbaiki agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

"Saya sudah menerima laporannya dan ini adalah keteledoran yang sangat fatal. Tidak ada toleransi untuk masalah higienitas," ujarnya melansir suarakalbar-jaringan Suara.com, Senin (15/6/2026).

Sementara itu, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kuala Behe mengakui adanya kesalahan dalam proses pengolahan dan distribusi makanan. Kepala SPPG Kuala Behe, Deri Suraji, menyebut ayam yang digunakan berada dalam kondisi kurang layak sehingga memicu masalah tersebut.

Sebagai langkah antisipasi, pihaknya telah menarik makanan yang didistribusikan ke sejumlah sekolah. Deri menjelaskan bahwa persoalan muncul akibat kualitas bahan baku yang tidak lagi segar serta proses distribusi yang memakan waktu cukup lama.

Ia juga mengakui bahwa kejadian tersebut merupakan bentuk kelalaian yang harus menjadi bahan evaluasi bagi pengelola program.

Kasus ini mendapat perhatian luas karena menyangkut kepercayaan masyarakat terhadap program pemenuhan gizi bagi anak sekolah. Banyak orang tua berharap makanan yang diberikan kepada siswa tidak hanya bergizi, tetapi juga memenuhi standar keamanan pangan.

Pemerintah Kabupaten Landak memastikan akan memperketat pengawasan terhadap seluruh dapur penyedia MBG. Inspeksi rutin akan dilakukan untuk memastikan setiap penyedia memenuhi standar kebersihan dan keamanan makanan.

Karolin bahkan menegaskan bahwa penyedia yang tidak mematuhi aturan dan standar higienitas dapat dicoret dari program.

"Bagi penyedia yang membandel dan tidak segera memperbaiki standar kebersihannya, saya pastikan tidak akan diizinkan lagi menjadi pemasok makanan bagi anak-anak sekolah," tegasnya.

Load More