Budi Arista Romadhoni
Senin, 19 Oktober 2026 | 08:22 WIB
Ilustrasi asap akibat Karhutla. (Suara.com/Syahda)
Baca 10 detik
  • Kementerian Kesehatan mencatat 277.075 kasus ISPA di enam puluh tiga kabupaten hingga dua belas Oktober 2026.
  • Dua anak balita di Samarinda dan Kayong Utara meninggal dunia setelah sempat mendapat perawatan medis karena gangguan pernapasan.
  • Ketua IAKMI Hermawan Saputra mendesak pemerintah memperkuat layanan kesehatan dan fasilitas puskesmas untuk menghadapi kedaruratan karhutla.

SuaraKalbar.id - Kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia bukan sekadar mengganggu jarak pandang. Di balik udara yang tercemar, ribuan anak menghadapi ancaman gangguan pernapasan, sementara keluarga harus berjuang mencari pertolongan medis di tengah kondisi yang kian mengkhawatirkan.

Kementerian Kesehatan mencatat 277.075 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di 63 kabupaten/kota pada tujuh provinsi terdampak karhutla hingga 12 Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 62.400 kasus atau 22,5 persen dialami anak berusia 0–5 tahun.

Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI), Hermawan Saputra, menilai angka tersebut berpotensi belum menggambarkan keseluruhan dampak kesehatan akibat paparan asap.

"Jadi angka 62.400 itu kan yang didiagnostik ya, tetapi yang under-recorded, under-diagnosed itu seperti fenomena gunung es, ratusan ribu sudah itu angkanya," ujar Hermawan dikutip BBC News Indonesia, Senin (19/10/2026).

Menurut Hermawan, persoalan ini perlu dipandang sebagai kedaruratan kesehatan karena dampaknya tidak terbatas pada satu daerah. Paparan asap di wilayah Sumatra dan Kalimantan dapat menjangkau populasi yang sangat besar, termasuk kelompok rentan.

Kisah Balita 14 Bulan di Tengah Kepungan Asap

Di Samarinda, Kalimantan Timur, Cindy masih menyimpan duka setelah putrinya, Yazlyn Syanindita yang akrab dipanggil Canin, meninggal dunia pada usia 14 bulan.

BBC News Indonesia melaporkan, kondisi Canin menurun ketika kabut asap mengepung permukiman keluarganya di Kecamatan Palaran. Cindy sempat membawa putrinya berobat karena kesulitan bernapas. Setelah beberapa kali mendapatkan penanganan medis, kondisi Canin kembali memburuk hingga akhirnya meninggal pada 15 Oktober 2026.

Cindy mengaku melihat anak-anak lain mengalami gangguan pernapasan saat berada di ruang perawatan. Ia pun meminta pemerintah tidak meremehkan situasi yang dialami warga.

Baca Juga: Karhutla Belum Usai, Warga Kubu Raya Andalkan Hujan hingga Beli Air untuk Minum

"Pemerintah jangan buta. Jangan bilang kondisi asap tidak parah. Banyak yang kena ISPA. Kemarin di ruang inap, saya melihat ada tiga balita sesak napas. Tolong jangan sepelekan asap karhutla," tegasnya.

Meski Canin mengalami gangguan pernapasan di tengah kepungan asap, dokter spesialis anak yang merawatnya, Ikhsan Ali, menyatakan belum bisa memastikan bahwa karhutla menjadi penyebab kematian. Gangguan pernapasan pada anak dapat dipicu berbagai kondisi, termasuk pneumonia.

Keterangan medis tersebut penting untuk membedakan dampak paparan asap secara umum dengan penyebab kematian seseorang yang harus ditentukan melalui pemeriksaan medis.

Asap Berbulan-bulan, Warga Kayong Utara Juga Berduka

Kisah lain datang dari Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Nurul Khadafit kehilangan anaknya, Anya Shezan Banafsya, yang berusia enam tahun.

Menurut laporan BBC News Indonesia, Anya menjalani perawatan selama enam hari sebelum meninggal pada 14 Oktober. Surat kematian rumah sakit mencatat gagal napas akibat Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) yang disertai syok sepsis.

Load More