“Karena tak tinggal sama orangtua lagi, jadi mandiri,” kata Daud.
Berbekal restu dan kepercayaan orang tua, Daud kecil makin bersemangat. Ia giat belajar sambil berlatih. Mimpinya jelas, menjadi petinju kelas dunia.
Kerja keras, berlatih tekun selalu ditanamkan sang kakak. Jika ingin sukses, tahapan sejak dini harus dijalankan. Termasuk jauh dari orang tua, berdikari tanpa mengeluh.
“Anak –anak zaman sekarang seusia itu masih banyak menyusu, tapi saya sudah pindah. Pisah sama orangtua untuk mengejar cita-cita,” ungkap Daud.
Baca Juga:Kembali Naik Ring, Daud Yordan Hadapi Petinju Thailand pada Oktober 2021
Matang di usia dini dan tau apa yang dimau, Daud mulai menemukan jati diri. Dengan latihan keras dibimbing sang kakak, fisik dan mental terbentuk.
Pelatih Herman Wimpi
![Petinju Indonesia Daud Yordan (kanan) melakukan latihan jelang pertandingan di Batu, Jawa Timur, Jumat (15/11/2019), bersama sang kakak Damianus Yordan. [Antara/Ari Bowo Sucipto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2019/11/15/80702-daud-yordan.jpg)
Daud ingat betul, pertama kali menginjakan kaki di pusat kota Ketapang. Ia dibawa sang kakak bertemu pelatih Herman Wimpi. Mereka diizinkan tinggal dan menetap di rumah, sekaligus merangkap sasana tinju. Tanjungpura Boxing Camp.
Ternyata bukan ia dan kakaknya saja, Herman juga menampung para anak-anak muda yang tertarik berlatih tinju. Mereka dari seluruh wilayah Kalbar.
Herman Wimpi tampil sebagai sosok protagonis bagi para petinju pemula, seperti Daud. Anak kampung beradu nasib. Entah sukses atau tidak. Semua dimulai dari tangan dingin Herman Wimpi.
Baca Juga:Daud Yordan Pastikan Statusnya Masih Pemegang Gelar Juara Dunia
Herman adalah atlet tinju dengan segudang prestasi. Ia menjadi petinju legendaris di Ketapang.