- Polemik penilaian Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar MPR RI di Pontianak memicu kritik luas dari masyarakat umum.
- Dewan Pendidikan Kalbar dan DPRD menyoroti pentingnya objektivitas, transparansi, serta profesionalitas juri dalam setiap kompetisi pendidikan.
- Penyelenggara diminta melakukan evaluasi menyeluruh untuk memastikan kompetisi di masa depan berjalan adil dan kredibel.
SuaraKalbar.id - Polemik penilaian dalam Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat yang viral di media sosial terus menjadi perhatian berbagai pihak. Setelah ramai diperbincangkan publik, kini Dewan Pendidikan Komite Pendidikan Menengah Kalbar hingga DPRD Kalbar ikut memberikan sorotan.
Sorotan terbaru datang dari Dewan Pendidikan Komite Pendidikan Menengah Kalbar, Yudi Darma. Ia menegaskan bahwa kompetisi pendidikan tidak semata-mata berbicara soal menang dan kalah, tetapi juga harus menjunjung tinggi nilai keadilan dan kebenaran.
“Dalam sebuah kompetisi besar, terutama di ajang pendidikan, tentu kompetisi itu tidak serta-merta hanya bicara tentang sebatas menang dan kalah. Tapi lebih dari itu, bahwa pendidikan harus tetap menjaga marwahnya tentang prinsip kebenaran, keadilan, suportivitas, dan termasuk mengembangkan karakter serta nilai-nilai mentalitas,” ujar Yudi pada Rabu (13/05/2026).
Menurutnya, keberatan yang disampaikan peserta maupun pihak sekolah tidak boleh langsung dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap penyelenggara atau dewan juri.
Baca Juga:Usai Polemik LCC Kalbar Viral, Beredar Unggahan Soal MC yang Disebut Diputus Kerja
“Kami juga ingin menyampaikan kepada seluruh pihak penyelenggara, termasuk dalam hal ini dewan juri. Ketika ada peserta, bahkan pihak sekolah yang menyampaikan terkait hasil keputusan, tentu itu tidak secara otomatis menjadi sebuah perlawanan. Tapi justru upaya mereka untuk menjaga marwah pendidikan, bahwa kebenaran tetap ditegakkan,” katanya.
Yudi menilai polemik yang viral saat ini harus menjadi momentum evaluasi untuk memperbaiki sistem penyelenggaraan kompetisi pendidikan ke depan.
“Kondisi viral ini harus menjadi momentum refleksi balik, bahwa ke depan harus menyelenggarakan kompetisi yang lebih suportif, menjunjung tinggi keadilan, menjunjung tinggi kebenaran, dan terutamanya akuntabel, transparan, serta lebih profesional,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya pemanfaatan teknologi digital dalam kompetisi pendidikan, termasuk penggunaan siaran langsung dan rekaman sebagai bentuk transparansi.
“Kalau seandainya ini disiarkan secara live, bahkan ada recording-nya terbukti bahwasannya ketika nanti bisa dilihat di recording-nya ternyata mereka benar, ini akan menjadi bumerang bagi pihak penyelenggara,” ujarnya.
Baca Juga:Kronologi Lengkap Polemik LCC Kalbar yang Viral, dari Protes Josepha hingga Tawaran Beasiswa
Menurut Yudi, profesionalitas penyelenggara tidak hanya diukur dari aspek administratif, tetapi juga dari kemampuan menjaga kompetisi tetap berjalan adil, transparan, dan humanis.
“Karena tentu rasa profesionalitas itu tidak hanya ketertiban secara administratif saja, tetapi dalam penyelenggaraan apakah secara seremonial maupun kompetensi inti, harus profesional, akuntabel, transparan, dan humanis,” pungkasnya.
Sebelumnya, polemik LCC 4 Pilar Kalbar mencuat usai beredarnya video perdebatan antara peserta dan dewan juri pada babak final di Pontianak.
Perbedaan penilaian terhadap jawaban peserta yang dianggap memiliki substansi serupa memicu kritik luas dari masyarakat di media sosial.
Wakil Ketua Komisi V DPRD Kalbar dari Fraksi PAN, Yuliani, turut menyayangkan polemik tersebut dan meminta kejadian serupa tidak kembali terulang.
“Saya sangat menyayangkan ada kejadian seperti ini. Jadi untuk ke depan, dewan juri harus teliti dan dewan juri jangan sewenang-wenang juga. Seperti ini kan akhirnya mengecewakan banyak masyarakat,” ujarnya saat dikonfirmasi pada Selasa (12/05/2026).