- Kementerian Kesehatan mencatat 277.075 kasus ISPA di enam puluh tiga kabupaten hingga dua belas Oktober 2026.
- Dua anak balita di Samarinda dan Kayong Utara meninggal dunia setelah sempat mendapat perawatan medis karena gangguan pernapasan.
- Ketua IAKMI Hermawan Saputra mendesak pemerintah memperkuat layanan kesehatan dan fasilitas puskesmas untuk menghadapi kedaruratan karhutla.
Nurul menceritakan bahwa anaknya sempat mengalami demam, kemudian didiagnosis mengalami infeksi paru-paru dan infeksi bakteri di kaki. Ia juga mengungkapkan kekhawatirannya karena kondisi pernapasan putrinya tidak kunjung membaik.
Kabut asap di Kayong Utara dilaporkan telah berlangsung selama berbulan-bulan. Luas lahan terbakar di wilayah tersebut tercatat mencapai 2.244 hektare.
Namun, hubungan langsung antara paparan asap karhutla dan kematian Anya belum dapat dipastikan dari informasi yang tersedia. Rumah sakit yang merawatnya juga belum memberikan keterangan resmi mengenai penyebab kematian dan rekam medis pasien.
Dua kisah tersebut memperlihatkan beratnya situasi yang dihadapi keluarga di tengah bencana asap. Pada saat yang sama, penyelidikan medis dan keterbukaan informasi tetap diperlukan agar penyebab kematian tidak disimpulkan tanpa bukti yang memadai.
Baca Juga:Karhutla Belum Usai, Warga Kubu Raya Andalkan Hujan hingga Beli Air untuk Minum
Pakar: Penanganan Kesehatan Tidak Bisa Menunggu
Hermawan Saputra mengingatkan, keterlambatan penanganan ISPA dapat berdampak luas, terutama bagi kelompok yang sudah memiliki penyakit penyerta. Karena itu, ia mendorong penguatan layanan kesehatan mulai dari puskesmas, penyediaan masker dan oksigen, hingga sistem rujukan pasien.
"Jadi kalau bicara risiko populasi, ratusan ribu bahkan mungkin jutaan manusia terpapar dengan keadaan yang buruk dan berdampak terhadap kesehatan," ujarnya.
Dokter spesialis anak Fifi Sofiah menjelaskan, partikel polutan PM2.5 berukuran sangat kecil sehingga dapat menembus bagian terdalam paru-paru dan berpotensi masuk ke aliran darah. Anak-anak lebih rentan karena sistem kekebalan tubuhnya masih berkembang dan frekuensi pernapasannya berbeda dari orang dewasa.
Paparan tersebut dapat memperburuk gangguan pernapasan, terutama pada anak yang memiliki penyakit paru-paru atau kondisi kesehatan tertentu.
Baca Juga:IPOSC 2026 Digelar Saat Karhutla Parah, Muncul Desakan agar Acara Sawit Dibatalkan
Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat, khususnya kelompok rentan, untuk mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kabut asap memburuk. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan:
"Kalau sudah kondisinya seperti ini, kita tahu alamnya sudah begini, kita sebagai manusia harus segera beradaptasi dan usahakan stay di rumah. Jangan keluar kecuali benar-benar perlu," ujar Budi kepada wartawan, Kamis (15/10).
Masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah disarankan menggunakan masker yang sesuai, mengurangi paparan asap, serta segera memeriksakan diri jika mengalami keluhan kesehatan.
Pemerintah Perlu Menjawab Lebih dari Sekadar Imbauan
Besarnya jumlah kasus ISPA menuntut respons yang tidak berhenti pada imbauan agar masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan. Pemerintah perlu memastikan layanan kesehatan siap menghadapi peningkatan pasien, informasi kualitas udara mudah diakses, serta kelompok rentan memperoleh perlindungan yang memadai.
Di sisi penanganan karhutla, evaluasi juga perlu mencakup kecepatan pemadaman, ketersediaan peralatan, kesiapan petugas, dan efektivitas pencegahan agar kebakaran tidak terus berulang.