Scroll untuk membaca artikel
RR Ukirsari Manggalani
Jum'at, 16 Juli 2021 | 07:00 WIB
Raja Fajar Azansyah memandu anak-anak memahami mangrove [InsidePontianak.com/Ist].

"Pemerintah menanam mangrove hanya memikirkan kuantitas jumlah. Mereka tidak melihat aspek kualitas dan perawatan. Mau berapa pun banyaknya, itu sia-sia," kata Fajar.

Menanam mangrove harus mengikuti panduan. Banyak-banyak membaca literasi. Sebab, ada banyak faktor penyebab mangrove hidup atau mati, setelah ditanam. Masyarakat harus dilibatkan. Edukasi tentang lingkungan berkelanjutan, mesti diberikan ke warga. Pemerintah sering mengabaikan hal itu.

"Masyarakat mindset-nya, ketika ada kegiatan menanam mangrove itu proyek pemerintah. Bahkan ada yang minta bagi proyek ke saya," katanya.

Menjadi aktivis lingkungan dengan menanam mangrove, ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan. Niat dan tekad harus kuat. Kalau tidak, mungkin saja hari ini semangat menanam, besok sudah lemah kehilangan semangat. Fajar pernah disebut orang gila. Mendengar selentingan itu, dia anggap hal biasa.

Baca Juga: Rapor Daihatsu: Raih Peringkat Kedua Pasar Otomotif Nasional Semester Pertama

"Itu salah satu tantangan bagi saya di 2011," katanya.

Banyak mendengar selentingan orang. Dia berpikir, mindset masyarakat harus benar-benar diubah. Tidak perlu lagi menilai, menanam mangrove adalah kegiatan proyek pemerintah. Masyarakat harus tahu bahwa, relawan MMC hanya bergerak di bidang sosial. Dengan begitu, diharapkan mereka mau ikut ambil peran.

Tahun demi tahun berlalu. MMC melewati banyak tahapan, termasuk seleksi alam. Ada relawan yang bergabung, ada juga yang keluar. Tapi, Fajar dan dua temannya tetap bertekad. Sampai 2013, dia mulai sadar, bekerja tiga orang saja tidak cukup. Mereka harus cari cara lain.

"Sampai 2013, kami tidak dibantu sama sekali, semua sumber daya dari kantong sendiri. Kami pikir, kalau begini terus, kami tidak akan mampu harus cari ide lain," ungkap Fajar.

Sempat bingung mencari volunteer atau relawan, ia tak hilang akal. Dia masuk ke sekolah-sekolah. Sebelumnya sudah coba ajak para orang tua, namun gagal. Orang tua harus bekerja dan menafkahi keluarga masing-masing. Tidak cocok jadi relawan yang tak digaji. Anak-anak muda dirasa cocok untuk diajak.

Baca Juga: Genre Otomotif, "F9" Menjadi Film Terbesar Hollywood Masa Pandemi Covid-19

Fajar mengubah dirinya menjadi sales marketing. Dia berjualan program menanam mangrove ke sekolah-sekolah. Pada 2013, ia adakan satu kegiatan bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup, dan siswa-siswi SMA 1 Mempawah Hilir.

Load More