"Pemerintah menanam mangrove hanya memikirkan kuantitas jumlah. Mereka tidak melihat aspek kualitas dan perawatan. Mau berapa pun banyaknya, itu sia-sia," kata Fajar.
Menanam mangrove harus mengikuti panduan. Banyak-banyak membaca literasi. Sebab, ada banyak faktor penyebab mangrove hidup atau mati, setelah ditanam. Masyarakat harus dilibatkan. Edukasi tentang lingkungan berkelanjutan, mesti diberikan ke warga. Pemerintah sering mengabaikan hal itu.
"Masyarakat mindset-nya, ketika ada kegiatan menanam mangrove itu proyek pemerintah. Bahkan ada yang minta bagi proyek ke saya," katanya.
Menjadi aktivis lingkungan dengan menanam mangrove, ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan. Niat dan tekad harus kuat. Kalau tidak, mungkin saja hari ini semangat menanam, besok sudah lemah kehilangan semangat. Fajar pernah disebut orang gila. Mendengar selentingan itu, dia anggap hal biasa.
Baca Juga: Rapor Daihatsu: Raih Peringkat Kedua Pasar Otomotif Nasional Semester Pertama
"Itu salah satu tantangan bagi saya di 2011," katanya.
Banyak mendengar selentingan orang. Dia berpikir, mindset masyarakat harus benar-benar diubah. Tidak perlu lagi menilai, menanam mangrove adalah kegiatan proyek pemerintah. Masyarakat harus tahu bahwa, relawan MMC hanya bergerak di bidang sosial. Dengan begitu, diharapkan mereka mau ikut ambil peran.
Tahun demi tahun berlalu. MMC melewati banyak tahapan, termasuk seleksi alam. Ada relawan yang bergabung, ada juga yang keluar. Tapi, Fajar dan dua temannya tetap bertekad. Sampai 2013, dia mulai sadar, bekerja tiga orang saja tidak cukup. Mereka harus cari cara lain.
"Sampai 2013, kami tidak dibantu sama sekali, semua sumber daya dari kantong sendiri. Kami pikir, kalau begini terus, kami tidak akan mampu harus cari ide lain," ungkap Fajar.
Sempat bingung mencari volunteer atau relawan, ia tak hilang akal. Dia masuk ke sekolah-sekolah. Sebelumnya sudah coba ajak para orang tua, namun gagal. Orang tua harus bekerja dan menafkahi keluarga masing-masing. Tidak cocok jadi relawan yang tak digaji. Anak-anak muda dirasa cocok untuk diajak.
Baca Juga: Genre Otomotif, "F9" Menjadi Film Terbesar Hollywood Masa Pandemi Covid-19
Fajar mengubah dirinya menjadi sales marketing. Dia berjualan program menanam mangrove ke sekolah-sekolah. Pada 2013, ia adakan satu kegiatan bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup, dan siswa-siswi SMA 1 Mempawah Hilir.
Berita Terkait
-
Yamaha Tanam Ratusan Ribu Mangrove di Bone
-
Hutan Mangrove Lestari, Ekonomi Masyarakat Adat Kaltim Kuat Berkat Beasiswa Kemitraan Baznas
-
Serap 8 Ton Karbon/Tahun, PTPP Tanam 1.000 Mangrove di Semarang
-
Penanaman 1000 Mangrove di Sultra demi Kurangi Emisi Karbon
-
BRI Peduli Berdayakan Petani Kalimantan Timur: Atasi Lahan Kritis, Tanam Durian & Serap Karbon
Tag
Terpopuler
- Dedi Mulyadi Sebut Masjid Al Jabbar Dibangun dari Dana Pinjaman, Kini Jadi Perdebatan Publik
- Baru Sekali Bela Timnas Indonesia, Dean James Dibidik Jawara Liga Champions
- Terungkap, Ini Alasan Ruben Onsu Rayakan Idul Fitri dengan "Keluarga" yang Tak Dikenal
- Yamaha NMAX Kalah Ganteng, Mesin Lebih Beringas: Intip Pesona Skuter Premium dari Aprilia
- JakOne Mobile Bank DKI Bermasalah, PSI: Gangguan Ini Menimbulkan Tanda Tanya
Pilihan
-
Hasil Liga Thailand: Bangkok United Menang Berkat Aksi Pratama Arhan
-
Prediksi Madura United vs Persija Jakarta: Jaminan Duel Panas Usai Lebaran!
-
Persib Bandung Menuju Back to Back Juara BRI Liga 1, Ini Jadwal Lengkap di Bulan April
-
Bocoran dari FC Dallas, Maarten Paes Bisa Tampil Lawan China
-
Almere City Surati Pemain untuk Perpanjang Kontrak, Thom Haye Tak Masuk!
Terkini
-
Desa Wunut Bagikan THR dan Jaminan Sosial, Bukti Nyata Inovasi Desa Berkat Program BRI
-
Panduan Jelajah Bukit Kelam: Destinasi Wisata di Sintang yang Menakjubkan
-
Mengenal Tradisi Gawai Dayak: Tempat Liburan Sekaligus Menyelami Budaya Lokal
-
Rute Perjalanan Darat dari Pontianak ke Kapuas Hulu: Apa yang Perlu Kamu Siapkan?
-
Kuliner Khas Kalimantan Barat: 7 Makanan yang Wajib Dicoba Saat Liburan