SuaraKalbar.id - Tepat pada hari ini, masyarakat Tionghoa merayakan Hari Bacang 2575/2024. Bacang atau Bakcang, makanan tradisional Tionghoa yang kerap disajikan dalam perayaan Festival Duanwu, merupakan makanan yang terdiri dari nasi ketan yang dibungkus daun bambu ini bukan hanya dikenal karena kelezatannya, tetapi juga karena sejarah dan makna budaya.
Festival Duanwu, atau yang lebih dikenal dengan nama Festival Perahu Naga, diperingati setiap tanggal 5 bulan ke-5 dalam kalender Tionghoa. Festival ini merayakan legenda Qu Yuan, seorang penyair dan pejabat setia dari Negara Chu pada periode Negara Berperang (475-221 SM).
Mengutip dari berbagai sumber, Qu Yuan dikenal karena kesetiaannya dan sering menulis puisi yang mengkritik pemerintahan yang korup.
Setelah diasingkan dan menyaksikan negaranya jatuh ke tangan musuh, Qu Yuan memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan cara menceburkan diri ke Sungai Miluo.
Masyarakat setempat, yang sangat menghormati Qu Yuan, berusaha menyelamatkannya dengan berperahu di sungai. Ketika mereka gagal menemukan tubuhnya, mereka melemparkan nasi yang dibungkus daun bambu ke sungai untuk mencegah ikan memakan tubuh Qu Yuan. Dari sinilah asal mula bakcang, yang kemudian menjadi makanan simbolis dalam peringatan tersebut.
Selama Festival Duanwu, bakcang menjadi sajian utama yang dinikmati bersama keluarga. Tradisi ini tidak hanya memperingati kematian Qu Yuan tetapi juga merayakan nilai-nilai kebersamaan dan kekeluargaan.
Dalam berbagai variasinya, bakcang dapat ditemukan di seluruh Tiongkok dan di berbagai negara Asia, termasuk Indonesia.
Di wilayah selatan Tiongkok, bakcang cenderung manis dengan isian kacang merah atau pasta lotus. Sementara di wilayah utara, bakcang lebih sering berisi daging babi, jamur, dan telur asin yang bercita rasa gurih.
Di Indonesia, bakcang mengalami adaptasi sesuai dengan selera lokal, sering menggunakan daging ayam atau bahan lainnya yang sesuai dengan kearifan lokal.
Makna simbolis bakcang juga memiliki sejumlah nilai. Nasi ketan yang lengket melambangkan kebersamaan dan persatuan keluarga, sedangkan daun bambu yang digunakan untuk membungkus mencerminkan ketahanan dan kesederhanaan.
Proses pembuatan bakcang, yang melibatkan kerjasama dan ketelitian, juga mencerminkan nilai-nilai kekeluargaan dan gotong royong.
Dalam setiap gigitan bakcang, tersimpan cerita dan nilai yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Makanan ini tidak hanya menjadi simbol kebanggaan dan identitas budaya Tionghoa tetapi juga pengingat akan pentingnya menghargai sejarah dan tradisi.
Kontributor : Maria
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Pilihan HP RAM 16 GB Paling Murah, Penyimpanan Besar dan Performa Kencang
- Dari Koruptor Kembali ke Rakyat: Aset Rp16,39 Miliar Kini Disulap Jadi Sekolah hingga Taman di Jabar
- Prabowo Bakal Copot Lagi Pejabat 'Telur Busuk', Hashim Djojohadikusumo: Semua Opsi di Atas Meja
- 35 Link Poster Ramadhan 2026 Simpel dan Menarik, Gratis Download!
- Lebih Bagus Smart TV atau Android TV? Ini 6 Rekomendasi Terbaik Harga di Bawah Rp3 Juta
Pilihan
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
-
Kabar Baik dari Elkan Baggott untuk Timnas Indonesia
-
Jaminan Kesehatan Dicabut, Ribuan Warga Miskin Magelang Tercekik Cemas: Bagaimana Jika Saya Sakit?
-
Lagu "Cita-citaku (Ga Jadi Polisi)" Milik Gandhi Sehat Ditarik dari Peredaran, Ada Apa?
-
Geger Taqy Malik Dituding Mark-up Harga Wakaf Alquran, Keuntungan Capai Miliaran
Terkini
-
Pontianak Canangkan Zero Knalpot Brong
-
Kecelakaan Maut di Jalan Trans Kalimantan Sanggau, Satu Pengendara Tewas
-
Pilihan Krim Cukur Terbaik untuk Kulit Normal dan Sensitif agar Bebas Iritasi
-
2 Tersangka Korupsi Dana Desa Ditahan Kejari Sabang
-
Orkes Bahagia Pontianak Juara Cover Republik Fufufafa Slank