SuaraKalbar.id - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalimantan Barat meminta pemerintah untuk segera menghentikan aktivitas yang merusak hutan dan lahan yang telah menyebabkan banjir besar di wilayah Kalbar. Direktur Eksekutif Walhi Kalbar, Hendrikus Adam, menyatakan bahwa untuk penanganan jangka panjang, pemerintah harus secara serius menegakkan hukum terhadap pelanggaran dan melakukan pemulihan terhadap wilayah kritis yang telah rusak.
“Pemerintah harus menghentikan deforestasi yang melibatkan pembabatan hutan dan penggantian dengan tanaman monokultur, seperti yang diisyaratkan oleh Presiden Prabowo. Jika ini diteruskan, bencana akan terus terjadi,” ujar Adam dalam pernyataan yang disampaikan di Pontianak pada Sabtu (31/01).
Menurut Walhi, bencana banjir yang terjadi belakangan ini tidak bisa hanya disalahkan pada faktor cuaca atau curah hujan yang tinggi. Hendrikus menjelaskan bahwa hujan hanyalah pemicu, sementara akar masalah terletak pada perusakan alam yang sudah berlangsung lama, termasuk praktek ekstraktif seperti illegal logging, alih fungsi hutan untuk perkebunan sawit, dan pertambangan ilegal.
Adam juga menekankan bahwa pemerintah memiliki kewajiban untuk mengendalikan dan mencegah perusakan alam yang terus terjadi, yang menjadi penyebab utama bencana alam di Kalbar.
“Curah hujan sering dijadikan alibi, sementara pemerintah tidak melaksanakan kewajiban untuk melindungi alam,” tambahnya.
Sementara itu, Anggota DPRD Kalimantan Barat, Agus Sudarmansyah, mengingatkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah provinsi dan kabupaten untuk menegakkan peraturan daerah terkait Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) sebagai langkah strategis dalam mengatasi bencana banjir.
“Kolaborasi antara pemerintah provinsi dan kabupaten sangat penting untuk menyelesaikan masalah banjir yang terus berulang, dengan memperbaiki kerusakan lingkungan dan pengelolaan pemanfaatan lahan,” kata Sudarmansyah.
Pernyataan ini menggema sebagai peringatan untuk semua pihak agar lebih serius dalam menangani kerusakan lingkungan yang menjadi akar dari bencana ekologis yang melanda wilayah Kalimantan Barat.
Baca Juga: Dramatis! Ibu Hamil Melahirkan di Atas Truk Saat Evakuasi Banjir Mempawah
Berita Terkait
-
Dramatis! Ibu Hamil Melahirkan di Atas Truk Saat Evakuasi Banjir Mempawah
-
Banjir di Kalimantan Barat Meluas, 2 Korban Meninggal Dunia
-
Banjir Melanda 7 Kabupaten di Kalbar, Ribuan Rumah Terendam dan Ratusan Warga Mengungsi
-
Banjir Putus Akses Jalan ke PLBN Entikong, Warga Terjebak di Perbatasan
-
Banjir Melanda Perbatasan Indonesia-Malaysia di Bengkayang, Kalbar: Ratusan Rumah Terendam
Terpopuler
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Duduk Perkara Gibran Tipu Malaysia, Anwar Ibrahim Buka Suara Parlemen Bakal Usut
- 5 Sepatu Lari yang Nyaman untuk Jalan Jauh, Sol Empuk Bisa Buat Traveling
- Siapa Chika Yenalovy? Istri Kasespri Prabowo yang Jejak Digitalnya Misterius
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
Pilihan
-
Jet Tempur Sukhoi TNI AU Tergelincir Nyaris Hantam Jalan Raya di Maros
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
Terkini
-
Kejutan BRI di Taiwan, Yuni Akhirnya Bertemu Sang Ibu Setelah Hampir Satu Dekade
-
Perkuat Layanan untuk PMI, BRI Resmi Luncurkan BRImo Taiwan
-
Kabut Asap Kepung Kubu Raya, Presiden Prabowo Tinjau Karhutla di Tengah Udara 'Sangat Tidak Sehat'
-
Prabowo Datang ke Titik Karhutla Kubu Raya, Minta Pemadaman Dipercepat
-
Duh! Asap Karhutla Ketapang Mengancam Pontianak hingga Negara Tetangga