- Kabupaten Kubu Raya mengekspor 38 ton buah pinang ke Bangladesh karena tingginya permintaan pasar global untuk kebutuhan tradisional.
- Buah pinang secara tradisional dimanfaatkan sebagai penambah energi, pelancar pencernaan, serta bahan baku obat herbal di berbagai negara.
- WHO memperingatkan konsumsi pinang berisiko memicu kanker dan masalah kesehatan lain sehingga masyarakat perlu waspada dalam penggunaannya.
SuaraKalbar.id - Buah pinang mendadak jadi sorotan setelah sebanyak 38 ton komoditas asal Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, berhasil menembus pasar ekspor ke Bangladesh.
Komoditas lokal yang selama ini identik dengan budaya menginang di sejumlah daerah Indonesia itu ternyata punya nilai ekonomi besar di pasar global. Namun di balik tingginya permintaan ekspor, muncul pertanyaan: apa sebenarnya manfaat buah pinang?
Pinang atau Areca catechu sejak lama digunakan dalam tradisi masyarakat Asia, termasuk Indonesia, India, dan Bangladesh. Buah ini biasa dikunyah bersama daun sirih, kapur, atau diolah menjadi bahan herbal tradisional.
Secara tradisional, pinang dipercaya memiliki sejumlah manfaat kesehatan. Beberapa di antaranya adalah membantu meningkatkan energi karena kandungan alkaloid seperti arekolin yang memberi efek stimulan, membantu melancarkan pencernaan, hingga dipercaya memiliki efek antiparasit untuk membantu mengatasi cacingan. Selain itu, beberapa penelitian awal juga menyebut kandungan tanin dan antioksidan dalam pinang berpotensi membantu kesehatan mulut.
Namun, manfaat tersebut tidak sepenuhnya tanpa catatan. Sejumlah penelitian justru menunjukkan konsumsi pinang dalam jangka panjang dapat menimbulkan efek samping serius.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengategorikan buah pinang sebagai bahan yang berpotensi karsinogenik atau dapat memicu kanker, terutama kanker mulut dan tenggorokan, apalagi jika dikonsumsi bersama tembakau. Kebiasaan mengunyah pinang juga dikaitkan dengan kerusakan gigi, gangguan gusi, hingga iritasi mulut.
Selain itu, konsumsi berlebihan juga dapat memicu mual, muntah, diare, peningkatan detak jantung, bahkan berisiko terhadap kesehatan hati berdasarkan sejumlah studi pada hewan uji.
Meski demikian, di pasar internasional, pinang tetap memiliki permintaan tinggi. Di Bangladesh dan India, pinang banyak digunakan untuk konsumsi tradisional, bahan campuran kunyahan, hingga industri herbal.
Fenomena ekspor 38 ton pinang ini menunjukkan bahwa komoditas lokal Indonesia masih memiliki daya saing global. Namun bagi masyarakat, penting untuk memahami bahwa nilai ekonomi tinggi tidak selalu sejalan dengan manfaat kesehatan.
Baca Juga: Kisah Slamet, Muslim Penjaga Kelenteng Tengah Laut Kubu Raya Selama 30 Tahun
Dengan kata lain, buah pinang memang menjanjikan dari sisi bisnis, tetapi untuk konsumsi sehari-hari, masyarakat tetap perlu bijak dan memahami risiko di baliknya.
Berita Terkait
-
Putus Cinta Berujung Tragis, Kakak Beradik di Pontianak Aniaya Mantan Pacar
-
Bukan Gula atau Tepung, Plastik Justru Jadi Biang Pedagang Kue Pontianak Terjepit
-
Bibir Pecah-Pecah karena Panas Pontianak? Cara Ini Diam-Diam Jadi Andalan Banyak Orang
-
Akses Vital Putus! Feri Bardan - Siantan Tutup, Warga Pontianak Harus Putar Jauh?
-
7 Jadwal Misa Paskah 2026 di Pontianak, Rangkaian Lengkap dari Jumat Agung hingga Minggu
Terpopuler
- 7 SD Swasta Terbaik di Palembang dan Estimasi Biayanya, Panduan Lengkap Orang Tua 2026
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- Aksi Kritik Gubernur Rudy Mas'ud 21 April, Massa Diminta Tak Tutup Jalan Umum
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
Pilihan
-
Purbaya Copot Febrio dan Luky dari Dirjen Kemenkeu
-
Heboh! Gara-gara Putar Balik, Sopir Truk Ini Kena Tilang Polisi Rp 22 Juta
-
Bukan Hoaks! 9 Warga Papua Termasuk Balita Tewas Ditembak saat Operasi Militer TNI
-
Harga Pangan Hari Ini Naik, Cabai dan Minyak Goreng Meroket
-
Perang AS vs Iran: Trump Perpanjang Gencatan Senjata Tanpa Batas Waktu
Terkini
-
Sudah Lunas Rp54 Juta, Jemaah Haji Kalbar Masih Dibebani Biaya Tambahan Rp7,1 Juta
-
7 SD Swasta Favorit di Pontianak untuk PPDB 2026, Lengkap dengan Estimasi Biaya dan Keunggulannya
-
38 Ton Pinang Asal Kubu Raya Diekspor ke Bangladesh, Tapi Apa Khasiat dan Risikonya?
-
Telepon Itu Tak Pernah Dijawab, Charles Korban Helikopter Sekadau Pulang dalam Keheningan
-
Panggilan yang Terlewat di Tragedi Sekadau, Kisah Korban Helikopter yang Menggetarkan