Tasmalinda
Rabu, 15 April 2026 | 19:12 WIB
Pedagang di pasar tradisional Pontianak
Baca 10 detik
  • Pelaku UMKM di Kota Pontianak menghadapi tantangan berat akibat lonjakan harga bahan baku kue serta kemasan plastik sejak Ramadan.
  • Kenaikan biaya produksi memaksa pedagang menaikkan harga jual produk sehingga mengakibatkan penurunan omzet harian hingga lima puluh persen.
  • Situasi global dan lemahnya daya beli masyarakat memperparah kondisi ekonomi para pedagang kecil yang kini kesulitan menjaga keberlangsungan usaha.

SuaraKalbar.id - Di sebuah sudut Kota Pontianak, aroma kue tradisional masih mengepul hangat setiap pagi. Wangi gula dan tepung yang dipanggang itu biasanya menjadi tanda awal hari yang penuh harapan bagi para pedagang kecil. Namun belakangan, harapan itu mulai terasa getir.

Siti Maryam, seorang pelaku UMKM kue, kini tak lagi hanya memikirkan resep dan rasa. Ia harus menghitung ulang segalanya dari harga gula, tepung, hingga plastik pembungkus yang dulu terasa sepele, kini justru menjadi beban paling berat. “Bukan cuma minyak goreng, semua ikut naik,” ujarnya lirih.

Kenaikan harga bahan pokok memang bukan cerita baru. Namun bagi pedagang kecil seperti Siti, setiap kenaikan bukan sekadar angka, melainkan ancaman langsung pada keberlangsungan usaha.

Yang paling mengejutkan bagi Siti bukan hanya bahan baku utama, melainkan plastik kemasan. Jika dulu plastik hanyalah pelengkap, kini ia berubah menjadi salah satu komponen biaya terbesar. Harganya bahkan melonjak hingga hampir tiga kali lipat sejak Ramadan.

Dari sekitar Rp14.500, kini mencapai Rp22.000. “Kita tidak mungkin minta pembeli bawa wadah sendiri,” katanya.

Kalimat sederhana itu menggambarkan dilema yang nyata: antara menjaga harga tetap terjangkau atau tetap melayani dengan standar yang sama.

Keputusan menaikkan harga jual bukanlah pilihan, melainkan keterpaksaan.

Kue yang dulu dijual Rp1.000 kini harus naik menjadi Rp1.500. Selisih yang terlihat kecil bagi sebagian orang, tetapi cukup untuk membuat pelanggan berpikir dua kali.

Omzet yang dulu bisa menyentuh Rp2 juta per hari, kini turun drastis menjadi sekitar Rp1 juta. Penurunan hingga 50 persen ini bukan hanya soal angka, tetapi tentang berkurangnya harapan.

Baca Juga: Bukan Sekadar Rumah Adat Dayak, Radakng Samilik Dibangun Rp1,5 Miliar, Ini Keunikannya

Siti bukan satu-satunya. Banyak pedagang kecil di Pontianak merasakan tekanan yang sama, harga bahan naik, biaya produksi membengkak, sementara daya beli masyarakat justru melemah.

Situasi global, termasuk konflik di Timur Tengah, disebut-sebut ikut memicu kenaikan harga bahan pokok. Di sisi lain, perubahan kebijakan dan program sosial juga turut memengaruhi pola konsumsi masyarakat.

Bagi pelaku UMKM, semua tekanan itu datang bersamaan, tanpa jeda.

Di tengah segala keterbatasan, harapan Siti sebenarnya sederhana: harga tidak naik bersamaan.

Karena ketika semuanya naik sekaligus, yang paling dulu goyah adalah mereka yang berdiri di lapisan paling bawah—pedagang kecil yang menggantungkan hidup dari keuntungan tipis setiap harinya.

“Yang penting jangan semua naik bareng,” harapnya melansir suarakalbar-jaringan Suara.com.

Load More