- Deputi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menyatakan asap karhutla di Kalimantan berpotensi mencapai negara tetangga akibat pergerakan angin musiman pada Senin (24/06/2026).
- Pusdatin BNPB Berton Pandjaitan meminta negara tetangga tidak saling menyalahkan serta fokus mengurangi dampak asap lintas batas pada Minggu (23/08/2026).
- Pemerintah mengerahkan 52 pesawat serta berbagai sumber daya optimal guna mengendalikan karhutla dan menekan produksi asap dari sumbernya.
SuaraKalbar.id - Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan berpotensi terbawa hingga ke negara tetangga.
Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Ardhasena Sopaheluwakan menyebut kondisi tersebut dipengaruhi oleh pergerakan angin.
"(Asap karhutla sampai ke negara tetangga) Karena terbawa angin," kata Ardhasena kepada wartawan, Senin (24/68/2026).
Menurut dia, asap karhutla dapat bergerak mengikuti pola angin musiman yang secara rutin terjadi. Kondisi tersebut membuat asap dari wilayah Indonesia berpotensi mencapai kawasan negara lain.
"Angin musiman yang rutin terjadi," ujarnya.
Ardhasena mengatakan langkah penanganan dan antisipasi dampak asap karhutla saat ini dikoordinasikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
"Ini dikoordinasikan oleh BNPB," katanya.
Sementara itu, BNPB meminta negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura tidak saling menyalahkan terkait dampak asap karhutla di Kalimantan.
Kepala Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) BNPB Berton Pandjaitan mengatakan karhutla tidak mengenal batas administrasi maupun batas negara. Karena itu, penanganannya perlu dilakukan bersama tanpa memperdebatkan sumber asap secara spekulatif.
Baca Juga: Rudiansyah Jadi 'Superman' di Tengah 177 Karhutla Palangka Raya, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
"Jadi pendekatan kita bukan saling menyalahkan, tetapi bagaimana masing-masing negara melakukan upaya maksimal di wilayahnya dan bersama-sama mengurangi dampak asap lintas batas," kata Berton kepada wartawan, Minggu (23/8/2026).
Berton mengatakan pemerintah Indonesia memahami kekhawatiran negara-negara tetangga terhadap kemungkinan dampak asap lintas batas. Pemerintah, menurut dia, telah mengerahkan sumber daya besar untuk mengendalikan karhutla.
"Yang perlu kami sampaikan, Indonesia saat ini sudah melakukan upaya secara optimal dan mengerahkan sumber daya yang sangat besar untuk mengendalikan karhutla," ungkapnya.
Penanganan dilakukan melalui pemadaman darat, patroli dan pemadaman udara, water bombing, Operasi Modifikasi Cuaca, hingga penguatan personel TNI-Polri bersama pemerintah daerah dan masyarakat.
Selain itu, pemerintah juga melakukan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan.
Berton menyebut pemerintah telah mengerahkan 52 pesawat untuk operasi karhutla di enam provinsi prioritas. Sebanyak 30 pesawat beroperasi di Kalimantan, sedangkan 22 pesawat lainnya ditempatkan di Sumatra.
Berita Terkait
Terpopuler
- Total Dana Korban Penipuan Tembus Rp811,1 Miliar, Sebanyak 702.833 Rekening Diblokir
- Media Inggris: FIFA ASEAN Cup Akal-akalan Infantino Pertahankan Posisi, Prabowo Kena Prank
- Arti Mimpi Ketemu Orang yang Sudah Meninggal tapi Tidak Bicara Menurut Primbon Jawa
- Aliran Minyak di Selat Hormuz Sudah Normal, Mengapa Harga BBM Masih Mahal?
- Selamat Tinggal Kevin Diks, Cabut Lebih Cepat dari Skuad Timnas Indonesia Usai Juara
Pilihan
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
-
Satgas PKH Pamer Tumpukan Duit Rp13 Triliun Hasil Penyelamataan Keuangan Negara di Hadapan Prabowo
-
Nama Puan Disebut Jadi Pengganti Gibran, Begini Respons Ketua DPR
Terkini
-
Gugatan Karhutla Kalbar Masuk Pengadilan, Warga Soroti Data dan Penanganan Asap
-
BRI Peduli Siapkan 500 Volunteer Dari Program "Yok Kita Gas", Dukung MotoGP Mandalika 2026
-
Lewat PELOPOR 2026, BRI Perluas Agen Perubahan Budaya Antikorupsi
-
Leonardo DiCaprio Soroti Karhutla, 800 Ribu Hektar Hutan Terbakar: Ke Mana Orangutan Pergi?
-
Karhutla Belum Usai, Warga Kubu Raya Andalkan Hujan hingga Beli Air untuk Minum