- Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyatakan titik panas di Kalimantan Barat menurun pada Kamis, 3 September 2026.
- Meskipun titik panas berkurang, kabut asap pekat tetap bertahan sehingga kondisi wilayah tersebut dinilai belum aman.
- Pemerintah mengerahkan operasi modifikasi cuaca, helikopter pengebom air, serta petugas gabungan untuk mengatasi bencana kebakaran.
SuaraKalbar.id - Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyebut jumlah titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat (Kalbar) mengalami penurunan. Namun, kondisi kabut asap masih menjadi persoalan serius karena asap tetap bertahan meski titik panas berkurang.
Raja Juli mengatakan, berdasarkan data pemantauan, jumlah hotspot di Kalbar sempat melonjak tajam pada 1 September 2026.
“Jadi kalau kita lihat data, sebenarnya dari jumlah hotspot per malam kemarin, dari jam 12 malam yang lalu, hotspot di Kalimantan Barat ini sebenarnya turun. Kita tahu tanggal 31 Agustus itu 272. Kemudian tanggal 1 naik 859, tinggi sekali. Dan kemarin itu sebenarnya turun jadi 268,” kata Raja Juli saat kunjungan kerja ke Kalbar, Kamis (3/9/2026).
Meski jumlah hotspot menurun, Raja Juli mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap persoalan karhutla telah selesai. Sebab, api yang sudah padam tidak lagi terbaca sebagai hotspot dalam sistem pemantauan, sementara asap yang ditimbulkan dapat tetap bertahan.
“Namun, teman-teman media mohon diedukasi kembali publik, api padam tidak terbaca sebagai hotspot di Sipongi. Namun itu tidak berarti bahwa tidak ada asap,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut terlihat dari masih pekatnya asap di sejumlah wilayah, termasuk Pontianak.
“Tidak lagi ada hotspot di sini. Tapi asapnya terus eksis. Dan itulah yang membuat sore hari ini, misalnya teman-teman lihat di Pontianak sangat berasap,” katanya.
Karena itu, pemerintah bersama TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, KPH, relawan, dan masyarakat terus melakukan pemadaman serta pendinginan di sejumlah lokasi.
Raja Juli menegaskan, kondisi Kalbar saat ini belum dapat dikatakan aman.
Baca Juga: Lima Perusahaan Kena Sanksi Karhutla Kalbar, Izin Dibekukan dan Wajib Pulihkan Lingkungan
“Namun, saya ingin mengatakan bahwa kondisi Kalbar tidak sedang baik-baik saja. Angkanya menurun, angka hotspotnya menurun ketimbang hari lalu. Tapi, asapnya hari ini sangat tidak baik,” tegasnya.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah secara terpadu. Salah satunya melalui operasi modifikasi cuaca (OMC).
Raja Juli mengatakan, dirinya telah berkoordinasi dengan Kepala BNPB dan BMKG agar OMC dilakukan ketika terdapat potensi awan yang dapat disemai.
“Saya sudah putuskan bersama Bapak Kepala BNPB dan BMKG, bila ada sedikit saja potensi awan hujan yang bisa disemai garam, maka kita akan lakukan operasi modifikasi cuaca,” ujarnya.
OMC tidak hanya ditujukan untuk wilayah yang sedang mengalami karhutla. Pemerintah juga mempertimbangkan wilayah lain yang berpotensi mengalami kebakaran dengan melakukan pelembapan dan pembasahan.
“Bahkan, di lokasi-lokasi atau kabupaten-kabupaten yang sebenarnya tidak terdampak karhutla, karena kita tetap ingin melakukan pelembapan, pembasahan, dan memastikan tinggi muka air tanah di daerah tersebut tetap baik, sehingga daerah tersebut tidak rentan terhadap kebakaran. Jadi, OMC ini penting,” katanya.
Selain OMC, pemerintah juga mengerahkan armada water bombing untuk membantu pemadaman dari udara.
“Kemudian, water bombing. Saya lupa angkanya, tapi kalau tidak salah sudah ada tujuh. Ada tujuh pesawat ada di sini, tujuh helikopter ada di sini,” ujar Raja Juli.
Penanganan dari darat juga terus dilakukan oleh Manggala Agni, TNI, Polri, KPH, relawan, dan masyarakat peduli api.
Raja Juli memberikan apresiasi kepada petugas yang berada di garis depan penanganan karhutla.
“Inilah yang dikerjakan oleh Manggala Agni yang gagah berani berada paling depan. Kalau orang ada api lari, ada asap lari teman-teman Manggala Agni justru mendatangi,” katanya.
Ia mengatakan penguatan penanganan karhutla diperlukan karena September diperkirakan menjadi periode puncak kebakaran. Pemerintah, menurutnya, telah melakukan persiapan sejak Agustus dengan menata personel dan peralatan.
“Karena puncak karhutla ini September seperti yang sudah diprediksi. Agustus kemarin sudah mulai naik. Ini kan bulan latihan kita kemarin menata barisan melakukan kampanye menata peralatan semacam itu lebih masif sekarang saatnya benar-benar kita sedang berada pada bulan perjuangan,” ujarnya.
Selain penanganan di lapangan, Raja Juli menilai kesadaran masyarakat menjadi faktor penting dalam mencegah munculnya titik api baru. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak membakar sampah sembarangan, membuang puntung rokok, maupun membersihkan kebun dengan cara membakar.
“Ini edukasi atau kesadaran publik. Empat faktor baik semuanya tapi kalau kesadaran publiknya lemah masyarakat kita masih bakar sampah sembarangan buang puntung rokok sembarangan membersihkan kebun mereka dengan cara membakar,” katanya.
Ia meminta media turut mengedukasi masyarakat mengenai bahaya pembakaran dan kondisi karhutla yang sedang terjadi.
“Oleh karena itu ini harus dikerjakan secara bersama-sama dan saya meminta kepada media untuk mengedukasi,” ujarnya.
Raja Juli mengatakan pemerintah pusat akan terus melakukan evaluasi terhadap penanganan karhutla di Kalbar. Kepala BNPB juga dijadwalkan datang ke Kalimantan Barat untuk memimpin rapat dan memetakan kembali kebutuhan operasi modifikasi cuaca, water bombing, serta penguatan pasukan darat.
“Besok Bapak Kepala BNPB akan datang dan akan memimpin rapat untuk memapping kembali tadi, OMC kita bagaimana kapan potensinya dimana kemudian tadi pasukan, apa namanya water bombing kita apakah kita perlu akan mengerahkan kembali atau menambah kembali jumlah-jumlah water bomber kita,” katanya.
Ia menegaskan seluruh unsur harus bergerak bersama untuk melindungi masyarakat dari dampak karhutla.
“Karena itu ayo kita bersama-sama bergotong royong untuk kebaikan merapatkan barisan,” pungkasnya.
Kontributor : Maria
Berita Terkait
-
Godzilla El Nino Muncul di Aksi Keadilan Iklim Jakarta
-
Suahasil Akui APBN Habis RP 60 T buat Banjir Sumatra & Karhutla, Belanja Negara Naik ke Rp 3.942 T
-
OMC Tekan Hotspot Karhutla Papua Selatan dari 1.169 Jadi 65 Titik
-
356 Perusahaan Diperiksa soal Karhutla, Jumhur Ancam Cabut Izin Korporasi Nakal!
-
Titik Baru Api Karhutla Masih Muncul, Sugiono Minta Patroli Darat Diperketat
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Konser Andrea Bocelli di Borobudur Tetap Digelar, KIBBM Siapkan Tablig Akbar Penolakan
- Kenapa Deretan Musisi Mundur dari Rans Carnival Jogja? Ini Kronologinya
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
BRI Raih 4 Penghargaan, Perkuat Komitmen Dukung Digitalisasi dan UMKM
-
BRI Konsisten Buyback Saham untuk Optimalkan Nilai Pemegang Saham
-
Sempat Mangkir, Pamar Lubis Kini Ditahan Polda Kalbar
-
BRI Buka Peluang Karier Bagi Talenta Muda Lewat Program Magang Nasional
-
BRI Rayakan Perjalanan 131 Tahun dengan Semangat Kolaborasi dan Kepedulian