Cerita Karomah Guru Sekumpul, Datangkan Hujan dengan Menggoyangkan Pohon Pisang

Ia adalah sosok waliyullah kharismatik asal Kalimantan yang menyatukan syariat, tarekat, dan hakikat dalam dirinya.

Denada S Putri
Senin, 14 Februari 2022 | 20:09 WIB
Cerita Karomah Guru Sekumpul, Datangkan Hujan dengan Menggoyangkan Pohon Pisang
Peringatan Haul ke-17 Guru Sekumpul di Musala Raudhatul Muhibbin Desa Sungai Bundung Laut. [SuaraKalbar.co.id]

SuaraKalbar.id - Peringatan Haul ke-17 Guru Sekumpul di Desa Sungai Bundung Laut, Kecamatan Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah, berlangsung hikmat. Haul yang digelar di Musala Raudhatul Muhibbin, Minggu (13/2/2022) pagi kemarin, dihadiri banyak ulama dan masyarakat.

Melansir dari SuaraKalbar.co.id--Jaringan Suara.com, Senin (14/2/2022) turut hadir, Kapolsek Sungai Kunyit, AKP Joni, Kades Sungai Bundung Laut, Mulyadi, Pengasuh Majelis, KH Syarifuddin Bin H. Ahmad, Ketua Ponpes Al Khairiyah, Desa Sungai Bundung Laut, Ustadz Kholil, serta penceramah Habib Rizal Bin Hasan Al-Qadri.

Dalam pembacaan riwayat dan tausiah tentang Guru Sekumpul, mengungkap berbagai karomah sang ulama besar dari Banjar yang dicintai seluruh umat. Guru Sekumpul memiliki nama lengkap Al alim al allamah al arif billah Syaikh Maulana Muhammad Zaini bin Abdul Ghani.

Ia adalah sosok waliyullah kharismatik asal Kalimantan yang menyatukan syariat, tarekat, dan hakikat dalam dirinya. Meski memiliki karomah, ia selalu berpesan agar jangan tertipu dengan segala keanehan dan keunikan. Ke-tawadhu-an dan kesederhanaannya telah membuatnya mencapai maqom yang tinggi.

Baca Juga:Beda! Belanja Keperluan Dapur, Bayarnya Cuma Pakai Doa di Mempawah Kalbar

Guru Sekumpul lahir 11 Februari 1942 (27 Muharram 1361 H) di Kampung Tunggul Irang Seberang, Martapura, Kalimantan Selatan. Ia wafat dalam usia 63 tahun di Martapura pada 10 Agustus 2005 silam.

Masa kecil Guru Sekumpul memiliki keistimewaan, yakni tak pernah sekalipun mengalami mimpi basah (ihtilam). Sejak kecil dididik orangtuanya, Haji Abdul Ghani dan Hajjah Masliah binti Haji Mulya, serta neneknya bernama Salbiyah.

Mereka menanamkan akhlak, kedisiplinan dan pendidikan tauhid serta belajar membaca Al-Qur’an. Suatu ketika terjadi musim kemarau panjang, dan sumur-sumur mengering. Masyarakat pun meminta Guru Sekumpul agar berdoa meminta hujan.

Ia lalu mendekati sebatang pohon pisang, menggoyang-goyangkan pohon itu dan tak lama kemudian hujan pun turun. Guru Sekumpul juga dikenal bisa menyembuhkan banyak orang dengan kekuatan spiritualnya.

Kelebihan lain yang dimiliki Guru Sekumpul adalah hafal Al-Quran sejak berusia 7 tahun. Kemudian hafal tafsir Jalalain pada usia 9 tahun. Dalam usia kurang lebih 10 tahun, sudah mendapat khususiat (anugerah) berupa Kasyaf Hissi, yaitu melihat dan mendengar apa yang ada di dalam atau yang terdinding.

Baca Juga:Patut Ditiru! Sekdes Sungai Bakau Kecil Ahmad Sahari Sediakan Rumahnya Jadi Titik Vaksinasi Covid-19

Adapun sebagian karomah Abah Guru Sekumpul diambil dari Manakib Risalah Riwayat KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghoni Albanjari yang disusun Guru H Muhammad Hudhari.

Guru Hudhari menceritakan, Guru Sekumpul sewaktu kecil pernah bermimpi bertemu Sayidina Hasan dan Sayidina Husin, cucunya Rasulullah SAW yang keduanya membawakan pakaian jubah dan memasangkan kepadanya lengkap dengan surban.

Kemudian keduanya memberikan nama Zainal Abidin. Setelah bangun, ia menceritakan mimpi itu kepada ayahnya. Karenanya, nama Guru Sekumpul pun diganti ayahnya, yang dulunya Qusyairi menjadi Muhammad Zaini.

Kisah lain, suatu hari Guru Sekumpul berburu burung. Ketika sampai di Padang Karang, ia mendengar suara dzikir “Laa ilaha illallah”. Spontan ia pun berjalan naik ke Kampung Karang Tengah mencari asal suara itu.

Ternyata dzikir itu berasal dari makom Tuan Guru Haji Abdullah Khotib. Ia langsung berziarah dan setiap tengah malam bulan terang Guru Sekumpul melakukan ziarah ke makam itu. Di akhir hayat Guru Sekumpul sebelum meninggal dunia, sempat dirawat di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, selama 10 hari. Namun, pada Selasa malam, ia pulang dan tiba di Banjarmasin.

Keesokan harinya, Rabu 10 Agustus 2005, pukul 5.10 waktu setempat, ia berpulang ke Rahmat Allah. Ribuan orang dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan berdatangan ke Martapura untuk memberikan penghormatan terakhir dan mengiringi jenazahnya hingga ke pemakaman.

Guru Sekumpul merupakan keturunan ke-8 dari ulama besar Banjar, Maulana Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah Al Banjari. Semasa hidupnya, Guru Sekumpul pernah berpesan tentang karomah. Dia mengatakan, jangan pernah berpikir atau berniat untuk mendapatkan karomah dengan melakukan ibadah atau wiridan-wiridan. Sebab, karomah yang paling mulia dan tinggi nilainya adalah istiqamah di jalan Allah.

“Kalau ada orang mengaku sendiri punya karomah tapi salatnya tidak karuan, maka itu bukan karomah,” ucap Guru Sekumpul berpesan.

Kapolsek Sungai Kunyit, AKP Joni, mengungkapkan, kegiatan peringatan Haul Guru Sekumpul yang dilaksanakan masyarakat Desa Sungai Bundung Laut ini merupakan bentuk kecintaan terhadap sang ulama besar.

“Karena kecintaan itu lah, maka warga Desa Sungai Bundung Laut rutin tiap tahun melaksanakan haul Guru Sekumpul,” tandasnya mengakhiri.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini