Industri Ekspor Jawa Barat Tertekan, Pelaku Usaha Desak Solusi Konkret Hadapi Gempuran Tarif AS

Ekonomi Jabar tertekan perang dagang AS-China. Ekspor terhambat, PHK massal mengancam. Pengendalian impor, TKDN, & inovasi jadi solusi.

Bella
Jum'at, 23 Mei 2025 | 12:31 WIB
Industri Ekspor Jawa Barat Tertekan, Pelaku Usaha Desak Solusi Konkret Hadapi Gempuran Tarif AS
Para narasumber memaparkan tantangan dan solusi bagi industri ekspor Jawa Barat dalam diskusi publik di Bandung, Selasa (20/5). (Ist)

SuaraKalbar.id - Gejolak ekonomi global kembali menekan sektor industri ekspor Indonesia.

Jawa Barat, sebagai pusat manufaktur dan ekspor nasional, menjadi salah satu daerah yang paling terdampak.

Guncangan ini menjadi semakin serius menyusul meningkatnya tensi perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang ikut memengaruhi kondisi ekonomi domestik.

Dalam diskusi publik bertajuk “Gempuran Tarif AS: Ekonomi Indonesia di Ujung Tanduk? Dialog Kritis Mencari Solusi” yang digelar oleh Suara.com bersama Core Indonesia di El Hotel Bandung, Selasa (20/5), sejumlah pakar, pelaku industri, dan pemangku kebijakan menyuarakan kekhawatiran sekaligus mendesak hadirnya respons kebijakan yang tegas dari pemerintah.

Baca Juga:Kalbar Gebrak Pasar Malaysia! Siap Ekspor 1.000 Ton Beras Premium Tahun Ini

Pemimpin Redaksi Suara.com, Suwarjono, menyampaikan bahwa tekanan terhadap sektor ekspor sudah terasa sejak awal tahun ini.

“Kita menghadapi perlambatan ekonomi yang nyata. Bandung dipilih karena menjadi salah satu sentra ekspor nasional—dari tekstil, alas kaki, hingga furnitur—yang kini sedang tertekan. Ini momentum penting untuk mencari solusi dari daerah sebagai rujukan kebijakan nasional,” ujarnya dalam sambutan.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa ekspor nonmigas Jawa Barat ke Amerika Serikat pada Januari 2025 mencapai USD 499,53 juta atau 16,62% dari total ekspor nonmigas provinsi.

Sementara dari Kota Bandung, ekspor ke pasar AS pada Maret 2025 tercatat sebesar USD 7,7 juta.

Namun, di balik angka tersebut, tersembunyi persoalan besar: gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang menghantam sektor tekstil dan produk tekstil (TPT).

Baca Juga:BRI Ungkap Strategi Jitu Hadapi Krisis Global: UMKM Jadi Kunci!

Menurunnya permintaan ekspor serta membanjirnya produk impor menjadi tekanan ganda yang mengancam kelangsungan industri dalam negeri.

Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, Ph.D., mengungkapkan bahwa Indonesia tengah menghadapi risiko yang signifikan akibat konflik dagang antara AS dan Tiongkok.

Ia menyebut bahwa ekspor Tiongkok ke AS telah menurun hingga 10,5% pada 2025, sementara ekspor ke kawasan ASEAN melonjak sebesar 19,1%.

Hal ini membuka peluang terjadinya lonjakan impor ilegal ke Indonesia dari Tiongkok yang ditaksir mencapai USD 4,1 miliar, berpotensi menyebabkan kerugian negara hingga Rp 65,4 triliun.

Prof. Rina Indiastuti dari Universitas Padjadjaran juga turut mengingatkan bahwa sektor-sektor unggulan Jawa Barat seperti tekstil, pakaian jadi, dan alas kaki mengalami tekanan luar biasa hingga beberapa perusahaan mengalami kerugian berat, menutup usahanya, dan melakukan PHK besar-besaran.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Jawa Barat, Ning Wahyu Astutik, secara tegas menyampaikan berbagai hambatan yang kini dihadapi dunia usaha.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini