- WHO dan IDAI memperbolehkan ibu menyusui berpuasa jika kesehatan ibu dan bayi tetap optimal serta produksi ASI mencukupi.
- Produksi ASI lebih dipengaruhi frekuensi menyusui daripada asupan kalori saat puasa, namun hidrasi sangat penting.
- Ibu menyusui harus mengonsumsi 2,5-3 liter cairan saat berbuka dan sahur, serta makanan bergizi seimbang.
SuaraKalbar.id - Puasa Ramadan adalah momen spiritual yang sangat dinantikan. Namun, bagi ibu menyusui, muncul pertanyaan besar: bolehkah ibu menyusui berpuasa tanpa mengganggu produksi ASI dan kesehatan bayi?
Kekhawatiran umum meliputi produksi ASI menurun, bayi kekurangan asupan, hingga risiko dehidrasi pada ibu.
Bolehkah Ibu Menyusui Berpuasa?
Menurut World Health Organization (WHO), pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama sangat penting bagi bayi. Namun, WHO tidak secara khusus melarang ibu menyusui untuk berpuasa selama kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi.
Sementara itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan ibu menyusui boleh berpuasa jika kondisi tubuhnya sehat, bayi tumbuh optimal, dan produksi ASI tetap mencukupi
Dalam ajaran Islam, ibu menyusui juga termasuk golongan yang mendapat keringanan (rukhsah) untuk tidak berpuasa apabila khawatir terhadap kesehatan diri atau bayinya. Artinya, keputusan berpuasa harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing ibu dan bayi.
Dampak Puasa terhadap Produksi ASI
Secara umum, penelitian menunjukkan puasa tidak langsung menghentikan produksi ASI karena tubuh ibu memiliki mekanisme adaptasi yang baik. Namun beberapa hal tetap perlu diperhatikan:
- Kekurangan cairan dapat menyebabkan dehidrasi
- Asupan kalori rendah membuat ibu cepat lelah
- Pola menyusui bisa berubah akibat perubahan jadwal makan
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), produksi ASI lebih dipengaruhi frekuensi menyusui dan pengosongan payudara dibanding jumlah makanan yang dikonsumsi. Meski begitu, kebutuhan energi ibu menyusui lebih tinggi sehingga pengaturan nutrisi selama puasa menjadi sangat penting.
Tips Aman Berpuasa bagi Ibu Menyusui
Agar puasa tetap aman dan produksi ASI terjaga, berikut sejumlah langkah yang disarankan para ahli kesehatan:
1. Penuhi Kebutuhan Cairan
Dehidrasi menjadi risiko utama saat berpuasa. Ibu menyusui disarankan mengonsumsi sekitar 2,5–3 liter cairan antara berbuka hingga sahur dengan pola sebagai berikut:
- 2 gelas saat berbuka.
- 2 gelas setelah makan malam.
- 2 gelas sebelum tidur.
- 2 gelas saat sahur.
Air mineral menjadi pilihan terbaik. Batasi minuman berkafein karena dapat menambah risiko dehidrasi.
2. Konsumsi Makanan Bergizi Seimbang
Ibu menyusui membutuhkan tambahan sekitar 300–500 kalori per hari. Pastikan menu sahur dan berbuka mengandung:
- Karbohidrat kompleks (nasi merah, oatmeal, roti gandum).
- Protein berkualitas (telur, ayam, ikan, tahu, tempe).
- Lemak sehat (alpukat, kacang-kacangan).
- Sayur dan buah kaya serat.
Menurut Kementerian Kesehatan, gizi seimbang tetap penting selama Ramadan untuk menjaga daya tahan tubuh.
3. Tidak Melewatkan Sahur
Sahur menjadi sumber energi utama sepanjang hari. Pilih makanan yang dicerna lebih lambat agar energi bertahan lama, serta tambahkan protein dan cairan yang cukup.
4. Kenali Tanda Bahaya pada Ibu
Segera batalkan puasa jika mengalami pusing berat atau hampir pingsan, mulut sangat kering dan jarang buang air kecil, jantung terasa berdebar cepat, lemas berlebihan karena sejumlah kondisi ini bisa menjadi tanda dehidrasi serius.
5. Rutin Cek Kondisi Bayi
Perhatikan tanda bayi mungkin kekurangan ASI, seperti contohnya bayi lebih rewel dari biasanya, frekuensi buang air kecilnya berkurang, dan berat badan tidak naik sesuai grafik pertumbuhan. IDAI menyarankan untuk melakukan pemantauan berat badan bayi secara rutin.
6. Istirahat Cukup
Kurang tidur dapat memengaruhi stamina dan hormon produksi ASI. Usahakan tidur siang singkat dan hindari aktivitas fisik berat selama berpuasa.
7. Konsultasi dengan Dokter
Jika bayi berusia di bawah enam bulan atau lahir prematur, konsultasi dengan dokter anak atau konselor laktasi sangat dianjurkan sebelum memutuskan berpuasa.
Siapa yang Sebaiknya Tidak Berpuasa?
Ibu menyusui disarankan menunda puasa apabila bayi lahir prematur, produksi ASI rendah, bayi mengalami gangguan pertumbuhan dan ibu memiliki penyakit tertentu seperti diabetes, anemia berat, atau gangguan tiroid. Perlu diingat, dalam Islam, sesungguhnya kesehatan ibu dan bayi tetap menjadi prioritas utama.
Kiat aman berpuasa bagi ibu menyusui fokus pada tiga hal utama, yaitu kecukupan cairan, asupan gizi seimbang, serta pemantauan kondisi ibu dan bayi.
Secara umum, ibu menyusui boleh berpuasa selama kondisi kesehatan mendukung dan tidak mengganggu produksi ASI. Namun, jika muncul tanda dehidrasi, penurunan ASI, atau gangguan pada bayi, stop berpuasa merupakan langkah bijak dan diperbolehkan secara medis maupun agama. (suarakalbar)