Untuk diketahui, banjir yang menerjang Desa Kenyauk, cukup parah. Ketinggian air mencapai hingga kini masih mencapai tiga meter, meski sempat surut beberapa centimeter.
"Kemarin surut sedikit. Tapi hujan seharian sampai pagi ini malah naik lebih tinggi dari sebelumnya. Capek tak jelas banjir ini. Berkemas tak selesai-selesai naik-naikkan barang," katanya.
Dari data yang dihimpun sementara, ada enam RT di Desa Kenyauk yang terendam banjir. Karena keberadaan enam RT ini ada di bantaran sungai. Selain disebabkan curah hujan tinggi, banjir juga karena meluapnya Sungai Kapuas dan Sungai Sepauk.
Banjir yang menerjang ini melumpuhkan sejumlah aktivitas di beberapa wilayah di Kecamatan Sepauk.
Aliran listrik PLN dipadamkan total untuk menghindari hal yang bahaya, kondisi itu menyebabkan pusat-pusat ATM tak berfungsi. Pun toko atau pusat perbelanjaan mulai banyak yang tutup.
Bagi warga yang masih memiliki stok bahan makanan dan bahan keperluan sehari-hari, mereka masih bertahan. Namun, ada juga yang terpaksa mengungsi ke lokasi-lokasi yang bisa diakses dan mudah mendapat kebutuhan selama air belum surut.
"Ya begitulah kisah di kampung kami. Memang masih ada aktivitas tapi di daerah Manis Raya. Lokasinya di tepi jalan raya. Di sana cukup besar pasarnya. Sementara yang masih bertahan di kampungnya, mengandalkan tukang sayur yang jualan pakai sampan," jelas Rai.
Ia mengatakan, banyak yang tak menyangka banjir tahun ini sangat besar. Air begitu cepat naik ke permukaan. Sehingga warga tidak keburu memindahkan harta benda ke dataran yang lebih tinggi.
"Karena setiap tahun pasti banjir di desa ini, jadi dikira tak bakal sampai setinggi ini banjirnya. Ternyata banjir tahun ini tinggi sekali," jelasnya.
Baca Juga: Banjir Besar di Sintang, Mobil Warga Sepauk Terendam Hingga Dua Minggu
Ketinggian air dari permukaan tanah mencapai kurang lebih tiga meter. Sedangkan dalam rumah warga, air sudah setinggi pinggang orang dewasa.
"Di sini rata-rata rumah panggung karena tepian Sungai Kapuas. Paling dalam di rumah sudah ada yang di atas pinggang," kata Rai.
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, bencana banjir di Kabupaten Sintang berdampak di 12 dari 14 kecamatan yang ada di kabupaten tersebut.
Kemudian, sebanyak 140.468 jiwa terdampak banjir tersebut dan dua warga dilaporkan meninggal dunia. Sementara itu, sejumlah 32 titik lokasi pengungsian dan 24 dapur umum sudah tersedia.
BPBD Kabupaten Sintang mencatat sebanyak 35.117 unit rumah yang terendam banjir hingga tiga meter, lima unit jembatan rusak berat dan beberapa sarana prasarana lainnya juga terdampak.
Pemkab Sintang telah memperpanjang masa tanggap darurat bencana banjir selama 30 hari terhitung mulai 13 Oktober hingga 16 November 2021.
Berita Terkait
Terpopuler
- 50 Orang Berambut Cepak 'Serbu' Polda Metro Jaya: 'Mau Ambil Saksi Kasus Jampidsus'
- Jampidsus Febrie Adriansyah Tengah Disorot Publik, Keberadaannya Masih Misterius
- Mencekam! 50 Pria diduga Tentara Datangi Polda Metro Jaya Usai Penggeledahan Rumah Febrie Adriansyah
- Surat Edaran Rahasia Kejagung Bocor, Jaksa Diminta Waspada dan Dilarang Berkomentar soal Perkara
- Rumah Jampidsus Febrie Adriansyah Dijaga Ketat Tentara Usai Polisi Geledah Kafe deClan Signature
Pilihan
-
Jampidsus Febrie Adriansyah: Saya Tidak Mundur! Masih Terima Perintah Usut Kasus Korupsi
-
BREAKING NEWS: Penyidik Geledah Ruko di Cipete terkait 3 Perkara Korupsi
-
BREAKING NEWS! KPK Dikabarkan OTT Bupati Sukoharjo dan Sejumlah Orang
-
Jampidsus Febrie Adriansyah Tengah Disorot Publik, Keberadaannya Masih Misterius
-
Mobil Dinas TNI Tabrak Tiang Rambu di Depan DPR, Polisi Duga Pengemudi Microsleep
Terkini
-
BRI Peduli Dorong KWT Bogor Naik Kelas Lewat Inovasi Olahan Pala
-
BRI dan Danantara Perkuat Fundamental, Cost of Fund Turun ke 2,33%
-
BRI dan Danantara Perkuat Transformasi, Dividen Jumbo Capai Rp52,1 Triliun
-
Perkuat Tata Kelola, BRI Terapkan Zero Tolerance untuk Fraud dan Korupsi
-
Baru Keluar dari Warkop, Anggota DPRD Sekadau Tewas usai Bertabrakan dengan Truk Tangki