
SuaraKalbar.id - Pengerusakan dan pembakaran Masjid Ahmadiyah di Kecamatan Tempunak, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat pada Jumat (3/9/2021), sempat membuat trauma sejumlah masyarakat di sana khususnya anak-anak.
Namun menurut Komisioner Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD) Kalbar, Tumbur Manalu mengatakan dibutuhkan assessment psikologi lebih lanjut untuk mengukur dampak pemulihan trauma bagi warga yang terdampak kejadian itu.
"Kalau mengenai dampak pemulihannya, ya sebenarnya kan sejauh mana kita harus ada assessment psikologinya, cuman kan kalau melakukan assessment psikologi ini kan memerlukan waktu dan tenaga sehingga kita belum bisa melakukan.” ucap Tumbur.
Sayangnya, hal itu hingga kini belum dapat dilakukan oleh pihaknya, meskipun dirinya sadar jika proses pemulihan trauma memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
Baca Juga: Usai Terjadi Bentrok Dua Kelompok Buruh Bongkar Muat, Polisi Pastikan Situasi Sudah Aman Terkendali
Atas hal itu, dirinya pun berharap agar dinas terkait dapat memberikan bimbingan lebih lanjut. Terutama agar membuat program-program pembinaan bagi anak-anak yang terdampak peristiwa pembakaran Masjid tersebut.
“Maka dari itu kita percayakan kepada Dinas terkait agar memberikan bimbingan lebih lanjut, kami menyampaikan kepada Dinas terkait untuk menindak lanjuti bagaimana supaya ada program-progam untuk pembinaan anak-anak disana," tuturnya.
Ia juga memberikan rekomendasi agar pihak-pihak terkait memanfaatkan karakter psikologis anak yang mudah bergaul.
Sebab, baginya, sifat mudah bergaul yang ada pada diri anak-anak merupakan poin penting yang harus diberikan perhatian. Anak-anak bisa diberikan dorongan untuk membuat kegiatan positif secara Bersama-sama agar trauma yang dimiliki anak-anak bisa dengan mudah hilang.
"Secara psikologis anak-anak mudah untuk bergaul, satu sifat anak-anak itu sangat mudah untuk bergaul kembali, itu merupakan salah satu point yang harus diangkat. Usia mereka usia bermain, sehingga mereka harus didorong untuk sesama anak-anak disana agar bisa saling bermain bersama, dan dapat menciptakan kegiatan-kegiatan positif sehingga hal-hal yang dikhawatirkan itu, trauma, bisa mudah hilang," paparnya.
Baca Juga: Dua Kelompok Buruh Bongkar Muat Bentrok di Kubu Raya, Diduga Persoalan Sistem Kerja
Adapun saat ini, bangunan tempat ibadah Jamaah Ahmadyah Indonesia (JAI) itu sedang dalam proses pengalihan fungsi menjadi bangunan tempat tinggal.
Berita Terkait
-
Gaza: Ladang Ranjau Tak Terlihat, Anak-Anak Jadi Korban Utama Setelah Gencatan Senjata
-
BRI Pegang Peran Penting dalam Penyaluran KUR di Kalimantan Barat
-
Dampak Psikologis di Balik Teror Terhadap Tempo: Trauma yang Tak Selalu Langsung Terlihat
-
Berkaca dari Sikap Orang Tua Arra, Ini Efek Buruk Jahili Anak sampai Nangis
-
Apa Itu Religious Trauma? Diduga Dialami Gitasav Sampai Nyaris Bunuh Diri
Terpopuler
- Kode Redeem FF 2 April 2025: SG2 Gurun Pasir Menantimu, Jangan Sampai Kehabisan
- Ruben Onsu Pamer Lebaran Bareng Keluarga Baru usai Mualaf, Siapa Mereka?
- Aib Sepak Bola China: Pemerintah Intervensi hingga Korupsi, Timnas Indonesia Bisa Menang
- Suzuki Smash 2025, Legenda Bangkit, Desain Makin Apik
- Rizky Ridho Pilih 4 Klub Liga Eropa, Mana yang Cocok?
Pilihan
-
Demi Jay Idzes Merapat ke Bologna, Legenda Italia Turun Gunung
-
Misi Mathew Baker di Piala Asia U-17 2025: Demi Negara Ibu Tercinta
-
Dear Timnas Indonesia U-17! Awas Korsel Punya Dendam 23 Tahun
-
Piala Asia U-17: Timnas Indonesia U-17 Dilumat Korsel Tanpa Ampun
-
Media Korsel: Hai Timnas Indonesia U-17, Kami Pernah Bantai Kalian 9-0
Terkini
-
Panduan Jelajah Bukit Kelam: Destinasi Wisata di Sintang yang Menakjubkan
-
Mengenal Tradisi Gawai Dayak: Tempat Liburan Sekaligus Menyelami Budaya Lokal
-
Rute Perjalanan Darat dari Pontianak ke Kapuas Hulu: Apa yang Perlu Kamu Siapkan?
-
Kuliner Khas Kalimantan Barat: 7 Makanan yang Wajib Dicoba Saat Liburan
-
10 Tempat Wisata Alam Terbaik di Kalimantan Barat yang Wajib Dikunjungi