Suhardiman
Selasa, 03 Februari 2026 | 14:45 WIB
Satiman (54), penyapu jalan yang kini dipercaya menjadi mandor penyapuan, telah mengabdikan dirinya selama 33 tahun. (ANTARA/HO)
Baca 10 detik
  • Petugas PPSU Pontianak, seperti Satiman (54), telah mendedikasikan puluhan tahun menjaga kebersihan kota sejak subuh.
  • Dedikasi petugas kebersihan ini membuahkan hasil nyata, termasuk penghargaan PPSU Terbaik dari DLH Kota Pontianak.
  • Lebih dari 700 petugas PPSU merupakan mitra Pemkot Pontianak dalam menjaga kebersihan lingkungan kota yang diapresiasi.

SuaraKalbar.id - Setiap pagi, sebelum hiruk pikuk aktivitas warga Kota Pontianak, Kalimantan Barat, dimulai, derap langkah para petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) telah lebih dulu terdengar. Di antara mereka, ada Satiman (54), sosok sederhana yang selama 33 tahun mendedikasikan hidupnya untuk menjaga kebersihan jalan kota.

Satiman bukan figur yang akrab dengan sorotan kamera atau panggung penghargaan. Sejak fajar menyingsing hingga matahari mulai terasa terik, ia setia menyapu aspal, membersihkan sisa aktivitas malam, dan memastikan wajah kota tampak rapi ketika warga memulai hari. Panas, hujan, dan debu adalah bagian dari rutinitas yang telah ia jalani sejak era Wali Kota Pontianak Majid Hasan.

"Saya sudah menjadi penyapu jalan sejak zaman Pak Majid Hasan menjadi Wali Kota. Bagi saya, bekerja itu amanah. Selama masih diberi kesehatan, tugas harus dijalankan sebaik mungkin," ujar Satiman, melansir Antara, Selasa, 3 Februari 2026.

Dedikasi tersebut membuahkan apresiasi. Pada 2021, Satiman menerima penghargaan sebagai PPSU Terbaik dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pontianak.

Lebih dari sekadar pekerjaan, menyapu jalan bagi Satiman adalah bentuk pengabdian. Ia adalah seorang ayah dari dua anak yang tengah menempuh pendidikan tinggi. Setiap ayunan sapu adalah ikhtiar demi masa depan keluarga dan kenyamanan masyarakat.

"Kalau kota bersih, orang jadi nyaman. Itu sudah jadi kebanggaan tersendiri," ujarnya.

Tak banyak yang menyangka, dari penghasilan sebagai petugas PPSU, Satiman mampu menabung hingga akhirnya menunaikan ibadah haji.

"Alhamdulillah penghasilan saya dari pekerjaan ini, sedikit demi sedikit saya tabung dan dengan izin Allah, hasil tabungan itu, saya bisa menunaikan ibadah haji," ungkapnya.

Kisah seperti Satiman berlangsung setiap hari. Penghargaan datang belakangan, setelah kerja itu dijalani bertahun-tahun tanpa sorotan.

Pengabdian semacam ini sering luput terlihat, tetapi manfaatnya dirasakan luas. Selain Satiman, terdapat lebih dari 700 orang PPSU yang menjadi mitra Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Perempuan Tangguh di Balik Jalan Bersih

Kisah inspiratif tak berhenti pada Satiman. Wahideh (58), petugas PPSU perempuan, telah 22 tahun menyapu jalan sambil membesarkan anak-anaknya seorang diri. Ketekunannya membuahkan penghargaan PPSU Terbaik pada 2019.

Satu anaknya telah berkeluarga, sementara satu lainnya masih duduk di bangku SMA. Setiap pagi, Wahideh berangkat bekerja untuk memastikan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.

"Yang penting datang tepat waktu, kerja rapi, pulang tanpa beban," ungkapnya.

Hal serupa dijalani Parni (46), warga asli Pontianak yang juga telah lebih dari dua dekade mengabdikan diri sebagai petugas kebersihan. Seperti Wahideh, ia merupakan penerima penghargaan PPSU Terbaik.

Load More