Tasmalinda
Senin, 11 Mei 2026 | 21:54 WIB
ilustrasi rumah tradisional melayu Kalimantan Barat
Baca 10 detik
  • Masyarakat Melayu di tepian Sungai Kapuas, Pontianak, membangun rumah panggung untuk beradaptasi dengan banjir dan luapan sungai.
  • Desain rumah panggung memiliki ventilasi alami dan atap tinggi untuk menjaga kesejukan hunian di tengah iklim tropis.
  • Konsep rumah tradisional ini mulai kembali diterapkan pada hunian modern sebagai solusi efektif menghadapi risiko cuaca ekstrem.

SuaraKalbar.id - Di tepian Sungai Kapuas, rumah-rumah panggung khas Melayu masih bertahan di tengah modernisasi Kota Pontianak.

Sekilas bentuknya terlihat sederhana. Namun di balik desain kayu dan tiang tinggi itu, tersimpan cara hidup masyarakat lama yang ternyata sangat menyesuaikan kondisi alam Kalimantan Barat.

Salah satu alasan utama rumah Melayu Pontianak dibangun tinggi adalah untuk menghadapi banjir pasang dan luapan Sungai Kapuas yang sejak dulu menjadi bagian dari kehidupan warga.

Di tengah perubahan cuaca yang makin sulit diprediksi, banyak orang mulai menyadari bahwa desain rumah tradisional ini sebenarnya memiliki konsep yang sangat cerdas. Pontianak dikenal sebagai kota yang tumbuh di sekitar aliran sungai besar.

Karena itu, masyarakat Melayu sejak lama membangun rumah dengan menyesuaikan kondisi tanah dan air.

Rumah panggung menjadi solusi agar bagian utama bangunan tetap aman ketika air sungai naik atau tanah menjadi lembap.

Tiang rumah biasanya dibuat cukup tinggi menggunakan kayu keras yang tahan terhadap kondisi basah.

Sementara bagian bawah rumah dibiarkan terbuka agar air bisa lewat tanpa langsung merusak ruang utama tempat tinggal.

Selain membantu menghadapi genangan air, desain rumah Melayu Pontianak juga dibuat untuk menyesuaikan iklim tropis Kalimantan yang panas dan lembap.

Baca Juga: Kalbar Jadi Provinsi dengan Ekonomi Tertinggi di Kalimantan pada 2026, Ini Pendorong Utamanya

Bentuk rumah yang memiliki banyak ventilasi membuat sirkulasi udara lebih baik dibanding rumah tertutup modern.

Hal ini membuat bagian dalam rumah terasa lebih sejuk meski tanpa pendingin ruangan. Atap yang tinggi juga membantu mengurangi hawa panas pada siang hari.

Karena itu, banyak arsitek mulai menilai rumah tradisional Melayu sebenarnya memiliki konsep ramah lingkungan yang relevan hingga sekarang.

Belakangan, desain rumah panggung kembali menjadi perhatian setelah sejumlah daerah di Kalimantan Barat beberapa kali mengalami banjir akibat hujan ekstrem dan pasang air sungai.

Tidak sedikit warga mulai membandingkan ketahanan rumah lama dengan bangunan modern yang dibangun terlalu rendah dari permukaan tanah.

Di media sosial, foto-foto rumah Melayu di tepian Sungai Kapuas juga mulai banyak dibahas karena dianggap lebih “siap” menghadapi kondisi alam dibanding sebagian rumah modern.

Load More