- Gaharu dari hutan Kalimantan merupakan komoditas berharga tinggi yang digunakan sebagai bahan baku industri parfum dan ritual internasional.
- Proses pembentukan resin gaharu alami memerlukan waktu lama melalui infeksi jamur pada pohon tertentu di pedalaman hutan tropis.
- Masyarakat adat menjaga kelestarian gaharu melalui ritual dan aturan tradisional guna memastikan keseimbangan ekosistem serta warisan budaya lokal.
SuaraKalbar.id - Di pedalaman hutan Kalimantan, ada satu kayu yang nilainya bisa melampaui harga emas. Warga setempat menyebutnya gaharu, kayu beraroma khas yang selama ratusan tahun diburu pedagang dari Timur Tengah hingga Asia Timur. Namun bagi sebagian masyarakat adat, gaharu bukan sekadar komoditas mahal. Ia dianggap sebagai warisan hutan yang harus dijaga dengan aturan dan ritual khusus.
Karena harganya yang tinggi, gaharu bahkan dijuluki sebagai “emas hitam” dari hutan Kalimantan.
Aroma gaharu yang kuat dan menenangkan membuatnya menjadi bahan utama parfum mewah, dupa, minyak atsiri, hingga perlengkapan ritual keagamaan di berbagai negara. Semakin tua dan pekat aromanya, semakin tinggi pula nilainya di pasar internasional.
Namun mendapatkan gaharu bukan perkara mudah.
Tidak semua pohon bisa menghasilkan gaharu. Resin harum itu muncul ketika pohon tertentu mengalami luka atau terinfeksi jamur alami. Proses tersebut bisa berlangsung bertahun-tahun di tengah hutan tropis yang lebat.
Karena itulah para pencari gaharu tradisional biasanya memiliki pengetahuan khusus untuk mengenali pohon yang dianggap “berisi”. Pengetahuan itu diwariskan turun-temurun dan sering kali tidak dibagikan kepada orang luar.
Di sejumlah wilayah pedalaman Kalimantan, aktivitas mencari gaharu bahkan masih disertai ritual adat. Sebelum masuk hutan, sebagian masyarakat adat menggelar doa atau meminta izin kepada penjaga alam menurut kepercayaan setempat. Ada pula pantangan tertentu yang tidak boleh dilanggar selama proses pencarian gaharu berlangsung.
Bagi masyarakat adat, aturan tersebut bukan sekadar tradisi mistis, melainkan cara menjaga hubungan manusia dengan hutan agar tetap seimbang.
Konon, pelanggaran terhadap aturan adat diyakini bisa membuat pencari gaharu tersesat di hutan atau pulang tanpa hasil.
Baca Juga: Gawai Dayak Melawi: Ketika Budaya Tak Sekadar Dirayakan, Tapi Dipertahankan dari Zaman
Di balik nilai ekonominya yang besar, gaharu juga menyimpan cerita tentang perubahan hidup masyarakat pedalaman. Pada era 1990-an hingga awal 2000-an, demam gaharu sempat membuat banyak warga berbondong-bondong masuk hutan selama berhari-hari demi mencari bongkahan kayu bernilai tinggi.
Tak sedikit yang berhasil mengubah nasib dari hasil gaharu. Namun eksploitasi berlebihan juga membuat pohon penghasil gaharu semakin sulit ditemukan.
Kini, keberadaan gaharu mulai dijaga lebih ketat. Sejumlah komunitas adat dan pegiat lingkungan mendorong pemanfaatan gaharu secara berkelanjutan agar hutan Kalimantan tidak kehilangan salah satu kekayaan alaminya yang paling berharga.
Sebab bagi masyarakat pedalaman, gaharu bukan hanya soal uang.
Ia adalah simbol hubungan panjang antara manusia, hutan, dan tradisi yang diwariskan lintas generasi.
Tag
Berita Terkait
-
Gawai Dayak Melawi: Ketika Budaya Tak Sekadar Dirayakan, Tapi Dipertahankan dari Zaman
-
Viral Bule Sebut IKN Ibu Kota Koruptor Nepotisme, Masyarakat Dayak Tuntut Hukum Adat
-
Shenina Cinnamon jadi Gadis Dayak di Film Tale of the Land, Angkat Cerita Masyarakat Dayak di Tengah Konflik Lahan
-
Dear Prabowo-Gibran, Masyarakat Adat Dayak Kalimantan Titip Pesan soal Kesenian Lokal
-
Viral Video Panglima Pajaji dan Aliansi Masyarakat Adat Dayak Ditangkap Polisi di Kalteng
Terpopuler
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- 5 Pilihan HP Samsung RAM 12 GB Agustus 2026, Performa Ngebut Anti Lag
- Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
BRI Perkuat Ekonomi Daerah Lewat Transformasi BRILink Agen
-
Bea Cukai Kalbagbar Gagalkan Penyelundupan 2,7 Juta Rokok Ilegal
-
Karhutla Ganggu Kualitas Udara, 934 Kasus ISPA Tercatat di Kayong Utara
-
BRI Sambut Positif Penempatan Dana SAL, Fokus Dorong Pembiayaan UMKM
-
BRI Catat Setoran Pajak Rp8,1 Triliun pada Kuartal I 2026, Pengamat Soroti Peran Danantara