Tasmalinda
Rabu, 03 Juni 2026 | 23:20 WIB
Petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing. Di Kalbar, pelemahan rupiah dinilai jadi berkah. [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap ringgit meningkatkan jumlah wisatawan Malaysia yang berkunjung ke Pontianak untuk berbelanja dan berwisata.
  • Peningkatan daya beli wisatawan Malaysia memberikan dampak ekonomi positif bagi sektor perdagangan, kuliner, hotel, serta pelaku UMKM lokal.
  • Kondisi kurs yang menguntungkan membuat aktivitas penukaran mata uang asing di Kota Pontianak meningkat secara signifikan selama periode ini.

SuaraKalbar.id - Di tengah kekhawatiran sebagian masyarakat terhadap pelemahan nilai tukar rupiah, kondisi tersebut justru membawa berkah tersendiri bagi sektor perdagangan dan pariwisata di Kalimantan Barat. Menguatnya nilai tukar ringgit membuat warga Malaysia semakin gencar datang ke Pontianak untuk berbelanja, menikmati kuliner, hingga berwisata.

Fenomena ini mulai terlihat dari meningkatnya aktivitas penukaran mata uang ringgit ke rupiah di sejumlah money changer di Kota Pontianak. Banyak wisatawan asal Malaysia memanfaatkan nilai tukar yang lebih menguntungkan untuk mendapatkan harga barang dan jasa yang relatif lebih murah dibandingkan di negara mereka.

Yoga, staf salah satu money changer di Pontianak, mengatakan warga Malaysia kini menjadi salah satu kelompok yang paling aktif menukarkan mata uangnya ke rupiah.

“Kalau orang Malaysia memang banyak yang tukar uang di sini karena mereka melihat nilai rupiah lebih murah. Satu ringgit bisa mendapatkan sekitar Rp4.000 lebih, sehingga mereka lebih tertarik datang ke Pontianak untuk makan, berbelanja, atau sekadar jalan-jalan,” ujarnya melansir suarakalbar-jaringan Suara.com.

Menurutnya, perubahan nilai tukar membuat daya beli wisatawan Malaysia meningkat signifikan. Jika beberapa tahun lalu wisatawan biasanya membawa sekitar 1.000 ringgit untuk berlibur, kini dengan modal sekitar 400 hingga 500 ringgit mereka sudah bisa menikmati liburan selama hampir sepekan di Pontianak.

Kondisi tersebut memberikan dampak positif bagi pelaku usaha lokal, mulai dari pusat perbelanjaan, restoran, hotel, hingga pelaku UMKM yang menjual produk khas Kalimantan Barat. Kehadiran wisatawan lintas negara menjadi suntikan tambahan bagi perputaran ekonomi daerah, khususnya di sektor konsumsi.

Pontianak selama ini memang menjadi salah satu destinasi favorit warga Malaysia, terutama dari Sarawak, karena jaraknya yang relatif dekat dan kemudahan akses transportasi. Selain berbelanja kebutuhan sehari-hari, banyak wisatawan juga berburu kuliner khas Pontianak yang terkenal memiliki cita rasa unik dengan harga yang kompetitif.

Di sisi lain, kondisi yang sama justru dirasakan berbeda oleh masyarakat Indonesia yang ingin bepergian ke Malaysia. Menguatnya ringgit membuat biaya perjalanan dan belanja di negeri jiran menjadi lebih mahal dibandingkan sebelumnya. Bahkan nilai tukar ringgit yang kini mendekati Rp4.500 membuat sebagian masyarakat memilih menunda perjalanan ke luar negeri.

Meski demikian, bagi Kalimantan Barat, situasi ini membuka peluang ekonomi yang cukup menjanjikan. Meningkatnya kunjungan wisatawan Malaysia berpotensi mendorong pertumbuhan sektor perdagangan, pariwisata, dan UMKM lokal jika mampu dimanfaatkan secara optimal.

Baca Juga: Pendapatan Hampir Sesuai Target, Mengapa Ada Rp138 Miliar Dana Tersisa di APBD Pontianak?

Di tengah gejolak ekonomi global dan pelemahan rupiah yang masih menjadi perhatian banyak pihak, Kalimantan Barat justru mendapatkan peluang baru. Ketika daya beli wisatawan Malaysia meningkat, Pontianak semakin menunjukkan potensinya sebagai destinasi belanja dan wisata lintas negara yang menarik di kawasan perbatasan.

Load More