Christian Mara, Seniman Alat Musik Sape Khas Dayak yang Mendunia

Ia membuat alat musik khas Dayak dan menciptakan lagu.

Husna Rahmayunita
Minggu, 08 November 2020 | 12:57 WIB
Christian Mara, Seniman Alat Musik Sape Khas Dayak yang Mendunia
Christian Mara, seniman alat musik tradisional khas Dayak memainkan Sappe. (Suara.com/Eko Susanto)

SuaraKalbar.id - Bagi masyarakat Kalimantan Barat tentu tak asing mendengar nama Christian Mara. Dia adalah seniman musik tradisional Dayak.

Christian Mara mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan musik etnis Dayak. Ia membuat alat musik khas Dayak dan menciptakan lagu.

SuaraKalbar.id berkesempatan mengunjungi rumah sang seniman di Jalan Arteri Supadio, Desa Arang Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Jumat (6/11/2020).

Saat melangkah memasuki ruang tamu, terpajang berbagai alat musik dayak tradisional buatan pria yang karib Christian Mara. Mulai dari Sape, Ketobong (gendang panjang), Sobang (bedug), Seruling, Gong, Kenong, Saron, dan Bansilabu (semacam seruling yang dibuat dari tangkai labu).Semuanya terawat meski sudah berumur puluhan tahun.

Baca Juga:Unik, Kini Ada Perhiasan Motif Dayak

Mara --sapaan Christian Mara-- lalu mengajak ke luar rumah untuk melihatnya aksinya membuat Sape. Ia nampak fokus membuat alat musik tradisional ini.

Pria paruh baya itu lantas menceritakan awal mula dirinya tertarik dengan alat musik tradisional.

Christian Mara, seniman alat musik tradisional khas Dayak menunjukkan Sappe karyanya. (Suara.com/Eko Susanto)
Christian Mara, seniman alat musik tradisional khas Dayak menunjukkan Sappe karyanya. (Suara.com/Eko Susanto)

Bermula dari menyaksikan pertunjukan seni saat peringatan kemerdekaan Republik Indonesia di Kecamatan Jangkang, Kabupaten Sanggau pada tahun 1980-an. Dalam acara tersebut, sering menampilkan pertunjukkan seni tradisional, ia pun tergugah untuk membuat alat musik sendiri.

"Saya sejak kecil sudah senang membuat alat musik tradisional. Sejak saya bisa bergabung dengan orang dewasa saya sering menonton pertunjukan orang main musik waktu 17-an. Dari situ saya pulang ke rumah buat gitar sendiri untuk belajar bermain," ungkapnya.

Setelah dewasa, dia lalu merantau ke Negeri Jiran untuk mencari pengalaman. Sesampainya di sana, ia merasa tak betah. Akhirnya pulang kampung lalu pindah ke Pontianak, membentuk sanggar  karena kecintaannya akan seni khususnya musik tradisional.

Baca Juga:Tas Anjat Khas Suku Dayak Hadir di Panggung IFW 2019

"Waktu itu saya masih kerja di Banua indah, saya merantau ke Pontianak sekitar tahun 1982, dan tahun 1986 mulai kami buat musik sambil kami membina sanggar dan mencari akar-akar budaya itu sendiri. Kami melakukan percobaan mula dari sape dan alat gong bahkan alat tradisional beberapa lainya untuk dimainkan," sambungnya.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Lifestyle

Terkini