SuaraKalbar.id - Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada Hewan di sejumlah daerah di indonesia berimbas pada pedagang daging sapi di Kalimantan Barat.
Harga daging sapi di sejumlah pasar Kabupaten Mempawah sampai saat ini masih terbilang mahal. Usai hari raya Idul Fitri lalu, harga saat masih ini masih mencapai Rp 135 Ribu per kilo.
Satu di antara pedagang daging sapi di Pasar Rakyat Jongkat, Weni mengatakan faktor penyebab harga yang tak kunjung turun terkait masalah penyakit mulut dan kaki pada hewan ternak itu. Hingga hari ini, pasokan daging masih kosong, bahkan harga mencapai Rp 135 Ribu.
"Sapi banyak kosong, sapi dari Jawa pun banyak kosong karema banyak sakit kan, jadi harga dari lebaran tidak turun. Harga dari Rp 135 ribu itu tidak turun sampai sekarang,"katanya kepada Suara.com, Senin (6/06/2022).
Baca Juga:Apa itu Kasus PMK Sapi? Penyakit Menular Menyerang Hewan Ternak di Indonesia
Ia menambahkan, semenjak wabah penyakit mulut dan kaku (PMK) melanda di Kalbar pelanggan daging menjadi sepi.
"Kalau pelanggan untuk rumah makan biasa saja, kalau pelanggan untuk konsumsi hari-hari agak kurang, soalnya mereka juga tahu kalau ada penyakit sapi,"ujarnya.
Bahkan, jika stok ketersediaan daging tak terpenuhi, maka ada rencana para pedagang akan mengimport daging dari luar negeri.
"Tergantung juga, ada wacana kemungkinan untuk daging sapi beku(daging impor) dari Malaysia dan dari Arab. harganya memang agak lebih murah,"ungkapnya.
Pedagang lainnya, Mahmud mengatakan hal yang senada. Usah idul fitri lalu, harga daging sapi tidak relatif turun. Harga itu masih bertahan Rp 135 Ribu.
Baca Juga:Musim PMK, Pemkab Sleman Akui Ketersediaan Hewan Kurban Masih Terbatas
"Semenjak habis lebaran masih tidak turun harganya masih harga Rp 135 Ribu,"katanya.
Mahmud katakan, untuk ketersediaan daging sapi menjelang idul adha mendatang dipastikan aman. Sebab, beberapa peternak sapi lokal yang ada di daerah Kabupaten Mempawah masih mempunya stok hewan untuk dijual dipasaran.
"Kalau saya lihat peternak lokal sini masih ada sapinya, untuk idul adha nanti pasti aman,"ucapnya.
Sementara itu, peternak sapi asal desa Jungkat, Sadi mengatakan sampai saat ini sapi-sapi miliknya belum tersentuh oleh penyakit. Sebab, perawatan dan makanan hewan ternaknya dibarengi obat-obat tradisional. Supaya dapat menjaga kekebalan tubuh bagi hewan itu.
"Satu minggu sekali dibersihkan, dirawat lah untuk dijual menjelang idul adha,"ungkapnya.
Menurut Sadi, cara memang paling ampuh untuk mencegah wabah penyakit mulut dan kaki yak nibdengan memberikan obat tradisional kepada hewan ternak. Dengan begitu dirinya tak merasa khawatir. Cara-cara untuk mencegah wabah itu sudah dilakukan sebelum isu merebaknya penyakit tersebut.