Selain upaya mempertahankan budaya literasi bangsa di era digital, inisiatif tersebut juga sebagai bentuk pelestarian cerita bergambar yang sempat populer pada masanya.
Konvensi komik pertama berkisar dari tahun 1965 hingga 1990.
"Kalau sekarang penyewa agak berkurang, tapi mau gimana?mau tutup sayang juga, kita cuma berharap agar adik-adik yang baru tumbuh kembali kesini, dibawa sama orang tuanya,"katanya lagi.
Meski penikmat komik cetak hanyalah sedikit, namun keberadaan industri komik bukan bearti punah. Sebab, masih adanya kolektor maupun komunitas pembaca komik secara tidak langsung membantu buku cerita bergambar itu masih bertahan ditengah gempuran relevansi digital.
Baca Juga:Ulasan Buku Umar Bin Abdul Aziz, Sosok Pemimpin Zuhud dan Khalifah Cerdas
"Kita tetap bertahanlah apalagi sekarang era digital, pasti masih ada peminatnya,"ungkap Yen Yen
Yen Yen tak hanya sendiri. Dia juga ditemani oleh asisten yang menjaga ratusan ribu komik itu. Dia bernama Sentiani Novianti. Setiap hari, Sentiani merapikan komik, disusun dan diatur untuk keperluan para pembaca.
"Sudah kurang lebih 1 tahun, kalau dulu memang ramai, banyak yang datang kesini, komik-komik seperti detektif conan, dan masih banyak lagi,"ucap
Harga yang ditawarkan untuk para pembaca yang menjadi langganan bervariasi. Mulaindari Rp 3500 hingga Rp 20 ribu.
"Sewanya dari Rp 3500 sampai Rp 20 ribu. Kalau untuk komik jangka waktunya 1 mingguan, kalau orang baru biasa 5 buku aja, kalau orang yang sudah lama langganan disini boleh diatas 5 buku,"tukasnya.
Baca Juga:Ulasan Buku Kumpulan Materi Khotbah dan Kultum Penyemangat Hidup
Kontributor: Diko Eno