SuaraKalbar.id - Angka kematian Covid-19 di Kalimantan Barat menuai sorotan. Pemicunya, muncul kabar ada beda datang kematian Covid-19 di Kalbar.
Publik mempertanyakannya setelah dipublikasikan oleh akun Instagram kawalcovid19.id, Jumat (18/6/2021). Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, dr Harisson buka suara.
Dalam data yang viral, ditunjukkan kalau angka kematian Covid-19 di Kabupaten Sintang pada Kamis (17/6) ada 131 orang. Sedangkan laporan kematian Covid-19 di seluruh Provinsi Kalbar pada mencapai 125 korban meninggal, jadi jumlahnya lebih sediukit.
Harisson pun menjelaskan bahwa, tim Satgas Penanganan Covid-19 Kalbar hanya melaporkan kasus kematian yang setelah dikaji memang disebabkan oleh Covid-19.
"Kami tidak melaporkan kasus kematian yang penyebab utamanya adalah penyakit komorbid yang sedang diderita, tetapi pada saat yang bersamaan virus corona sedang ada di tubuhnya," kata Harisson, Sabtu (19/6/2021).
Ia mencontohkan, misalnya seseorang yang sedang menderita kanker lalu meninggal, tetapi dalam pemeriksaan PCR positif.
"Maka tidak kami laporkan sebagai kematian karena Covid-19," jelasnya.
Contoh lainnya, jika seseorang yang meninggal karena sudah lama menderita gagal ginjal kronis, sering melakukan cuci darah, seseorang meninggal karena stroke perdarahan, seseorang meninggal karena kasus kecelakaan lalu lintas dan proses melahirkan, namun hasil PCR menunjukkan positif Covid-19, maka itu tidak bisa dikategorikan kematian karena Covid-19.
Menurut Harisson, ini hanya beda persepsi laporan yang mana masuk ke mana. Laporan yang dibuat di kabupaten/kota, kata Harisson, digunakan untuk kepentingan daerah itu sendiri.
Baca Juga: Sutarmidji Ungkap Ada Pasien Covid-19 dengan Kandungan Miliaran Virus di Kalbar
"Provinsi ini tidak ada wilayah. Harusnya data mereka (kab/kota) dijadikan dasar untuk pengambilan kebijakan di daerah masing-masing. Bukan menjadi dasar keputusan bagi provinsi untuk intervensi ke mereka," tegas Harisson.
Agar memudahkan publik menyikapi perbedaan data ini, Harisson kembali memberikan contoh. Misalnya Rudi, seorang pria 24 tahun dinyatakan positif PCR hasil razia penerapan kedisiplinan protokol kesehatan.
Rudi sebelumnya adalah OTG. Dua hari kemudian pulang dari mal dan jatuh dari motor dirawat di rumah masih. Ia mengalami cedera kepala berat, lalu meninggal. Karena Rudi positif Covid-19, laporannya meninggal bukan karena Covid-19.
"Walaupun prosedur pemakaman secara covid, laporan kematian tidak akan kami laporkan karena covid," tegas Harisson.
Kontributor : Ocsya Ade CP
Berita Terkait
Terpopuler
- Duduk Perkara Gibran Tipu Malaysia, Anwar Ibrahim Buka Suara Parlemen Bakal Usut
- Siapa Chika Yenalovy? Istri Kasespri Prabowo yang Jejak Digitalnya Misterius
- Harga Kulkas Mini 1 Pintu Termurah di Pasaran, Ini 3 Rekomendasinya Mulai Rp400 Ribuan
- Harga Sepeda Lipat Entry Level Terbaik Berapa? Ini 5 Rekomendasinya di Tahun 2026
- 3 HP Infinix Murah dengan Fast Charging 33W, Mulai Rp2 Jutaan
Pilihan
-
Rumor Jadi Kutu Loncat ke PSI, Ini Respon Menohok Dedi Mulyadi
-
Tokyo Diguncang Gempa 5,9 M: 37 Orang Terluka, Transportasi Terganggu
-
Jet Tempur Sukhoi TNI AU Tergelincir Nyaris Hantam Jalan Raya di Maros
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
Terkini
-
Asap Karhutla Kalimantan Sampai ke Negara Tetangga, Ini Kata BMKG
-
Kejutan BRI di Taiwan, Yuni Akhirnya Bertemu Sang Ibu Setelah Hampir Satu Dekade
-
Perkuat Layanan untuk PMI, BRI Resmi Luncurkan BRImo Taiwan
-
Kabut Asap Kepung Kubu Raya, Presiden Prabowo Tinjau Karhutla di Tengah Udara 'Sangat Tidak Sehat'
-
Prabowo Datang ke Titik Karhutla Kubu Raya, Minta Pemadaman Dipercepat