SuaraKalbar.id - Banjir Sintang yang terjadi sejak beberapa pekan terakhir tak menyurutkan perawat di Pondok Bersalin Desa (Polindes) Desa Kenyauk, Kecamatan Sepauk, Kabupaten Sintang untuk tetap melayani warga.
Kisah tersebut dituturkan perawat Polindes Desa Kenyauk, Rai Pratiwi kepada SuaraKalbar.id. Banjir yang tak menunjukan kapan akan surutnya diterjang Rai untuk tetap memberikan pelayanan kesehata kepada warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan.
Tak jarang, dia memberikan pelayanan kesehatan atau pengobatan di atas sampan. Walau sebenarnya, dia juga korban terdampak banjir di Sintang.
"Saya sempat layani pasiennya di atas sampan (perahu). Sementara saya dalam air (berendam) karena ruang pelayanan di Polindes sudah terendam, sudah saya jadikan gudang untuk simpan barang dan berkas. Ada juga yang kami datangi ke lantingnya," katanya, Kamis (11/11/2021).
Pengabdian perempuan usia 35 tahun asal Kabupaten Mempawah ini sudah tak diragukan lagi. Sejak 11 tahun silam, ia mengabdikan diri sebagai perawat di Kenyauk.
"Rumah saya yang tiangnya setinggi semeter setengah saja, kebanjiran. Air dalam rumah sudah setinggi sampai pinggang. Sementara air di Polindes sudah sepaha. Saya sempat tenggelam setelah terpeleset di teras rumah. Tapi saya harus bangkit untuk memberikan pelayanan," katanya.
Apalagi, kata dia, saat ini warga di enam RT di desanya yang terendam banjir sudah diserang beragam penyakit, seperti gatal-gatal, demam, sakit telinga dan penyakit lainnya, mulai menyerang warga.
Namun karena akses jalan banyak yang terputus selama banjir, Polindes Kenyauk inilah yang menjadi andalan satu-satunya untuk mendapat pelayanan kesehatan.
Baca Juga: Banjir Besar di Sintang, Mobil Warga Sepauk Terendam Hingga Dua Minggu
"Sudah mulai banyak yang berobat. Ada yang gatal-gatal. Luka-luka karena injak benda tajam. Benda-benda dalam air itukan nggak kelihatan. Ada yang terinjak aquarium sehingga telapak kaki terbelah. Ada yang lagi pegang pisau terperosok, akhirnya pembuluh darah di tangan terkena pisau," jelasnya.
Ia mengatakan, susah untuk dibayangkan ketika memberi perawatan kepada pasien dengan kondisi bersimbah darah, kemudian pasien tiba-tiba tidak sadarkan diri. Lalu, akses menjangkau pasien cukup sulit.
"Bayangkan, itu semua kami layani dalam air. Kerja di air, serba cepat. Kami juga harus mendatangi warga ke lanting-lanting," ujarnya.
Ibu empat anak ini selalu berharap dan berdoa, mudah-mudahan tidak ada lagi yang berobat dan masyarakat diberi kesehatan karena sanitasi sudah tidak jelas. Air minum yang digunakan pun sudah bercampur jadi satu dengan air banjir.
"Mudah-mudahan keluarga dan warga kami di sini sehat-sehat semua," ucapnya.
Banjir Tiga Meter
Berita Terkait
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- 3 Rekomendasi Helm Half Face Rp200 Ribuan yang Paling Dicari Bikers, Nyaman Buat Harian
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
- Defisit APBN 'Cuma' 0,91 Persen, Purbaya Khawatir Kementerian-Lembaga Minta Anggaran Tambahan
Pilihan
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
-
Dilantik Jadi Menkeu, Suahasil Akui Tak Berkomunikasi Dengan Purbaya
-
Purbaya Diganti, Nilai Tukar Rupiah Langsung Loyo ke Level Rp17.699
-
Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
-
Ada Pelantikan di Istana Sore Ini, Pratikno Ngaku Dapat Undangan Mendadak
Terkini
-
Belajar Rupiah dari Anak-Anak: Nilainya Berbeda, Bangganya Harus Sama
-
IPOSC 2026 Digelar Saat Karhutla Parah, Muncul Desakan agar Acara Sawit Dibatalkan
-
KM Virgo 8 Dikira Tenggelam, Menhub Ungkap Kondisi Terbaru Kapal Ternyata Terbalik
-
5 Tahun Holding Ultra Mikro Naikkelaskan Jutaan UMKM
-
Dari PMI Jadi Pengusaha, Tati Purwanti Bawa Bubur Cirebon ke Jantung Kota Taipei