SuaraKalbar.id - Seorang pria di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar), diduga mencabuli anak kandungnya sendiri. Parahnya, perbuatan bejat tersebut telah dilakukan sang ayah selama 10 tahun.
"Ada orang tua mencabuli anak kandungnya di Ketapang. Infonya kasus ini sudah dilaporkan ke polisi dan Dinas Sosial (Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) dan Keluarga Berencana (KB) di Ketapang," kata seorang warga yang enggan disebutkan namanya, dikutip dari Antara, Sabtu (1/1/2022).
Ia menceritakan, berdasarkan info yang ada bahwa korban sudah dicabuli sejak kecil hingga berusia belasan tahun. Tidak tanggung-tanggung, korban menjadi pelampiasan ayah kandungnya lebih kurang selama 10 tahun.
"Saya dengar kejadiannya sejak korban usia enam hingga 16 tahun," tutur warga tersebut.
Saat dikonfirmasi ke Bagian Humas Polres Ketapang, pihaknya mengaku belum mendapatkan keterangan terkait kasus tersebut. Lantaran di Bagian Humas mengaku belum mendapatkan baket atau bahan keterangan mengenai kejadian itu.
"Sampai sekarang kami Bagian Humas belum ada dapat baket dari polsek dan Bagian Reskrim," kata Paur Subaghumas Polres Ketapang, Iptu Laury Tessalonica Lawdia.
Ia menjelaskan, prosedur rilis berita yang harus mendapatkan persetujuan dari Kapolres.
Sementara itu, Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Dinas Sosial PPPA dan KB Ketapang, Dian Rianita, membenarkan kejadian tersebut. "Prinsipnya kami stop kekerasan. Jadi kami tidak ingin mengekspos kasus, siapa pelaku, korban, di mana dan kapan kejadiannya. Jadi mohon maaf kalau bapak bertanya rentetan kejadiannya kami tidak bisa memberikan keterangan," ujar Dian.
"Tapi kalau saya bilang tak ada tentu salah. Jadi memang kasus incest di Ketapang memang ada terjadi di Ketapang ini, seperti anak dengan bapak tiri, ada anak dengan bapak kandung, ada juga adik dengan kakak. Hanya namanya siapa dan di mana juga tidak bisa kita sampaikan," lanjutnya.
Baca Juga: Tiga Rumah Warga Ketapang Ludes Terbakar
Ia menegaskan terhadap kasus-kasus itu juga tidak bisa disebutkannya satu persatu. Lantaran pihaknya juga melindungi pihak terkait seperti pelapornya dan tak ingin ada rentetan kekerasan berikutnya. "Tapi kami tetap melakukan pendampingan dan edukasi kepada masyarakat," tuturnya.
"Kita juga mendorong agar masyarakat di desa-desa melaporkan kasus-kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan di tempatnya. Kita siap mendampingi dan identifikasi untuk tindaklanjutnya bagaimana dan ke mana," katanya. (Antara)
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- 7 Lukisan Pembawa Hoki Menurut Feng Shui untuk Dipajang di Ruang Tamu
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- 12 Sepeda Gunung United Detroit Lengkap dengan Harga dan Spesifikasinya
- Sepeda Gunung Apa yang Bagus dan Murah? Ini 7 Rekomendasi Terbaik untuk Pemula
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
BRI Sambut Positif Penempatan Dana SAL, Fokus Dorong Pembiayaan UMKM
-
BRI Catat Setoran Pajak Rp8,1 Triliun pada Kuartal I 2026, Pengamat Soroti Peran Danantara
-
BRI Dukung Program 3 Juta Rumah dengan Pembiayaan FLPP dan KPP
-
Sebuah Bukti Dedikasi: Mantri BRI Ini Hadir Dampingi UMKM di Kepulauan Talaud
-
Kinerja Makin Solid, BRI Perkuat Transformasi Lewat BRIvolution Reignite