- BPS melaporkan inflasi bulanan tertinggi pada Desember 2025 terjadi di tiga provinsi Sumatera terdampak bencana alam.
- Peningkatan inflasi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dipicu harga komoditas akibat bencana hidrometeorologi akhir November 2025.
- Kelompok makanan, minuman, dan tembakau secara umum menjadi kontributor terbesar inflasi di ketiga wilayah tersebut.
SuaraKalbar.id - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi bulanan tertinggi terjadi di daerah terdampak bencana di Sumatera pada Desember 2025.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa (BPS) Pudji Ismartini mengatakan, inflasi yang meningkat dialami oleh provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
Aceh mengalami inflasi sebesar 3,60 persen, Sumatera Utara mengalam inflasi sebesar 1,66 persen dan Sumatera Barat 1,48 persen.
"Penyebab terjadinya inflasi di ketiga wilayah itu karena harga komoditas yang diakibatkan efek bencana hidrometeorologi pada akhir November 2025," katanya melansir Antara, Senin, 5 Januari 2025.
Di Aceh, inflasi utama didorong oleh beras 0,80 persen, bahan bakar rumah tangga dan minyak goreng masing-masing 0,26 persen, telur ayam ras 0,24 persen, bawang merah 0,24 persen, serta nasi dengan lauk 0,15 persen.
Inflasi di Sumatera Utara didorong oleh cabai rawit dan kelapa masing-masing menyumbang 0,41 persen, bawang merah 0,24 persen, daging ayam ras 0,13 persen, emas perhiasan 0,09 persen, dan kacang panjang 0,07 persen.
Sementara itu, inflasi di Sumatera Barat didorong oleh bawang merah 0,22 persen, cabai rawit 0,18 persen, beras 0,14 persen, daging ayam ras 0,10 persen, kangkung 0,09 persen, dan emas perhiasan 0,09 persen.
"Secara umum, komoditas kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar di ketiga wilayah tersebut," ujar Pudji Ismartini.
Cuaca ekstrem di Sumatera pada akhir November 2025 dipicu oleh bibit siklon tropis 95B yang berkembang menjadi Siklon Tropis Senyar serta pengaruh Siklon Tropis Koto.
Kedua siklon tersebut meningkatkan curah hujan dengan intensitas sangat lebat di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, yang kemudian memicu banjir dan bencana lainnya.
Berita Terkait
-
Ratusan Warga Nyalakan Lilin untuk Korban Karhutla, FIAD Desak Status Bencana Nasional
-
Dua Tahun Prabowo-Gibran: Perempuan di Aceh dan Papua Makin Rentan Akibat TNI
-
Korupsi Dana Bencana BNPB, Mengapa KPK Tak Menerapkan Pasal Hukuman Mati?
-
Negara Tetangga Sudah Protes Sana-sini, RI Tetap Enggan Tetapkan Status Bencana Nasional
-
Matinya Rasa Empati: Saat Uang Darurat Bencana Masuk ke Kantong Pribadi
Terpopuler
- Hasil Survei Terbaru SMRC Soal Capres: Prabowo Hanya Raih 9,8 Persen, Kalah Telak Dari Dedi Mulyadi
- Pilih Kursi Komisaris Ketimbang Partai, Musyafirin Resmi Diusulkan Dipecat PDIP
- Survei Capres PPI: Prabowo Masih Perkasa, Anies Tempel Ketat, Gibran di Bawah AHY
- Bedak Marcks Bisa Buat Apa Aja? Ini 3 Kegunaannya untuk Rawat Kulit Wajah
- 4 Body Lotion Malam untuk Mencerahkan dan Melembapkan, Bikin Kulit Lebih Glowing
Pilihan
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
-
Kamaruddin Simanjuntak Pengacara Brigadir J Meninggal Dunia di RS Pelni
-
Mantan Kadiv Hubinter Napoleon Bonaparte Meninggal, Pengacara: Doakan Bapak Diampuni Dosa-dosanya
-
Pekan Kelam IHSG: Drama BYAN Haji Isam, Turun Kelas MSCI Hingga Rekor Terburuk Bursa
-
Rakyat Kecil Jadi Korban Antrean BBM, dari Ojol Kehilangan Pendapatan hingga Kampus Terpaksa WFH
Terkini
-
Karhutla Kian Mengancam, 62.400 Balita Terserang ISPA: Pemerintah Harus Bertindak!
-
Agar Akses Berbagai Layanan di Koperasi Desa Makin Mudah, BRI Hadirkan BRILink Agen
-
Orang Utan pun Menyerah Hadapi Karhutla, Akankah Pemerintah Terus Menunggu Hujan?
-
Karhutla Kalbar Berulang, Komnas HAM Telusuri Tanggung Jawab Negara
-
BRI Raih 36 Penghargaan TBCCI 2026, Sabrina Jadi Andalan Layanan Digital