Ia memiliki cakar dan juga taring yang tajam. Konon, dalam mencari mangsanya, tiyanak akan menangis di tengah hutan untuk menarik perhatian.
Mangsanya biasanya akan mencari sumber suara dan mendatanginya. Ketika ditemukan, tiyanak akan berwujud bayi manusia pada umumnya. Namun, tak berapa lama, ia akan berubah menjadi aslinya, bayi vampir.
Kisah tiyanak konon berasal dari masyarakat Mandaya di Mindanao yang meyakini tiyanak sebagai arwah anak-anak yang ibunya meninggal saat melahirkan. Bayi-bayi itu ditinggalkan tanpa ada yang merawat mereka, sehingga berubah menjadi vampir.
Namun, setelah kedatangan kolonial Spanyol, cerita ini berubah. Tiyanak dimitoskan sebagai perwujudan anak yang meninggal sebelum dibaptis.
Baca Juga:Terungkap, Mitos dan Fakta Rumah Bingung, Urban Legend di Tangsel
Ia diyakini sebagai anak dari ibu yang penuh dosa karena melakukan aborsi. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari masuknya agama Kristen di sana.
Sama seperti Kuntilanak, saking populernya hantu ini, tiyanak juga telah diangkat ke layar lebar. Ada enam film yang telah diproduksi dalam jangka waktu 60 tahun terakhir.
Itulah perbedaan Kuntilanak dan Tiyanak.
Kontributor : Sekar Jati
Baca Juga:8 Tempat Wisata di Pontianak Paling Hits, Wajib Dikunjungi Para Pelancong