Aktivis Lingkungan Sebut Banjir Kapuas Hulu karena Pembukaan Lahan untuk Tambang dan Sawit

Banjir yang terjadi di sejumlah wilayah Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) dalam beberapa waktu terakhir disinyalir karena adanya kerusakan alam ulah manusia.

Chandra Iswinarno
Selasa, 16 November 2021 | 14:00 WIB
Aktivis Lingkungan Sebut Banjir Kapuas Hulu karena Pembukaan Lahan untuk Tambang dan Sawit
Banjir yang terjadi di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum wilayah Kapuas Hulu Kalimantan Barat, yang sampai saat ini, Senin (15/11/2021) masih merendam pemukiman penduduk. ANTARA FOTO/HO-Dok. Humas TNBKDS [Teofilusianto Timotius]

SuaraKalbar.id - Banjir yang terjadi di sejumlah wilayah Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) dalam beberapa waktu terakhir disinyalir karena adanya kerusakan alam ulah manusia. Perusakan alam tersebut disebabkan karena penebangan kayu, pertambangan dan perkebunan.

Pernyataan tersebut disampaikan aktivis lingkungan Hermas R Mering yang tinggal di wilayah Kapuas Hulu. Dia juga mengemukakan, banjir yang terjadi tersebut merupakan fenomena yang tidak biasa.

“Banjir yang terjadi tahun ini suatu fenomena yang tidak biasa, sadar atau tidak, ada faktor lain penyebab terjadinya banjir,” katanya seperti dikutip Antara pada Selasa (16/11/2021).

Hermas mengemukakan, jika pembukaan hutan besar-besar menjadi penyebab banjir hingga mengakibatkan berkurangnya tutupan sungai, daya hisap tanah terhadap air semakin berkurang dan pengangkalan sungai-sungai. Pun pembukaan hutan besar-besaran tersebut juga digunakan untuk perkebunan kepala sawit dan pertambangan.

Baca Juga:BPBD Kapuas Hulu Sebut 1.886 Rumah Warga Masih Terendam Banjir

“Intesitas pembukaan hutan semakin besar, baik secara illegal maupun legal, baik oleh perusahaan kayu itu sendiri maupun perusahaan lain yang berbasis penggunaan lahan seperti perkebunan sawit dan pertambangan, ”ucapnya.

Lebih lanjut, Hermas juga menjelaskan, dalam dua tahun terakhir, wilayah Kapuas Hulu banjir hingga empat kali. Tiga di antaranya dikategorikan banjir besar dan terjadi pada tahun ini.

Kondisi tersebut bertambah parah, sebab masyarakat yang tinggal di daerah yang dulunya tidak pernah kebanjiran kini merasakan dampaknya. Akibatnya, warga mengalami kerugian material yang besar.

“Dari segi level air, beberapa masyarakat mengatakan bahwa daerahnya yang dulu tidak pernah kebanjiran, pada tahun ini kebanjiran, sehingga tidak sedikit dari mereka yang tidak siap yang mengakibatkan kerugian material yang tidak sedikit, ” jelasnya.

Dia juga merujuk pada data dari badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) setempat sejak September hingga Oktober yang menyebutkan penambahan dua kecamatan yang terendam banjir.

Baca Juga:Banjir Terjang Kapuas Hulu, Lebih 6 Ribu Jiwa Terdampak di 6 Kecamatan

Padahal pada September lalu ada 10 kecamatan yang terendam banjir. Kemudian pada November 2021 menjadi 12 Kecamatan. Dari penambahan wilayah terdampak banjir tersebut, juga tercatat ada 5.514 rumah warga yang dihuni 12.129 keluarga terendam.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini