Begitu banyak masyarakat Tionghoa Kalbar yang berjuang mati-matian demi keberlangsungan kelenteng kuno ini, dengan harapan dapat terus diwariskan turun temurun generasi demi generasi.
Gunawan menjelaskan juga bahwa di kelenteng tersebut, ada lonceng yang di namakan lonceng Pek Kong yang dibawa ke Pontianak pada tahun 1789 masehi.

Lonceng tersebut, akan dibunyikan oleh seorang petugas saat akan ada masyarakat yang berdoa di Kelenteng Tiga.
"Disini ada tiga tempat untuk orang sembahyang, yang pertama Tua Pek Kong, yang kedua Dewi Samudra, dan yang ketiga Putra Raja Na Ca, karena hal inilah Vihara Bodhisatva Metta dinamakan kelenteng tiga, karena memiliki 3 tempat sembahyang dan masing-masing berbeda tetapi masih dalam satu tujuan," terangnya.
Baca Juga:204 Personel Gabungan Amankan Perayaan Tahun Baru Imlek di Jakarta Selatan
Diluar area Vihara terdapat pelataran yang berfungsi sebagai terminal, untuk kendaraan bongkar muat bis dan kapal motor yang melayani rute dari Pontianak menuju ke luar Pontianak.
Kontributor : Rabiansyah