SuaraKalbar.id - Di wilayah perbatasan, biasanya memang harga jual berbagai produk dipatok lebih mahal dari harga mestinya, atau yang umum dipasaran.
Salah satunya, harga gas elpiji non subsidi, di wilayah perbatasan di Kecamatan Entikong Kabupaten Sanggau harga eceran elpiji nonsubsidi untuk tabung 5,5 kilogram dipatok Rp100 ribu rupiah.
Harga tersebut, bahkan lebih mahal dari ketetapan usai kenaikan harga gas elpiji non subsidi yang kini menjadi Rp 15, 5 ribu per kilogram.
“Sejak seminggu lalu sudah mendengar informasi dari sejumlah media, bahwa harga elpiji khususnya untuk nonsubsidi akan naik,”ujar Agustinus, pemilik pangkalan elpiji di Entikong, melansir suarakalbar.co.id, jaringan suara.com, Kamis (3/3/2022).
Baca Juga:Tembus Jumlah Kasus Harian Tertinggi, di Sanggau Tercatat 124 Orang Terkonfirmasi Covid-19
Sedangkan untuk tabung kapasitas 12 kilogram di jual seharga Rp 195 ribu di wilayah itu.
Meski demikian, Agustinis mengungkapkan bahwa pasokan gas elpiji ke wilayah perbatasan di Kecamatan Entikong masih lancar meskipun PT. Pertamina (Persero) menaikan harga elpiji nonsubsidi mulai 1 Maret lalu.
Disampaikannya, informasi juga dari agen penyalur elpiji di Pontianak, kalau Pertamina akan menaikan harga Elpiji nonsubsidi sebesar Rp 15.500 per kilogramnya.
Meski demikian kata Agus, sampai saat ini info kenaikan harga elpiji tersebut tidak berpengaruh banyak terhadap kenaikan harga elpiji di daerah perbatasan.
Selain itu juga, pasokan tabung gas elpiji nonsubsidi juga cukup lancar dan tidak ada kendala baik dari jumlah maupun waktu sampainya di pangkalan.
Baca Juga:Persoalan Sampah di Pasar Rakyat Ngabang, Warga Diminta Tidak Meletakkan Sampah di Luar Kontainer
"Sejauh ini pedagang atau pihak pangkalan di wilayah Perbatasan Entikong masih menjual elpiji nonsubsididengan harga lama," terangnya.
Namun, apabila ada perubahan dari agen, dipastikan harga Gas Elpiji non subsidi tersebut akan ada perubahan sesuai ketentuan.