"Dulu itu kami ada 10 orang yang aktif. Namun makin tahun, sekarang sisa 4 orang. Dulu ada anak muda, namun karena hasilnya memang tidak begitu besar dan sulit dibagi, mereka mencari pekerjaan lain," kata Juanda dengan nada pasrah.
Ia menjelaskan bahwa modal awal banyak terserap untuk membangun 4 unit tambak dengan ukuran masing-masing 4x4 meter, dan masalah utama mereka adalah biaya pakan ikan.
Penasaran dengan bentuk tambak yang dikelola, saya diantar Juanda berjalan ke ujung gang untuk melihatnya. Obrolan kembali kami lanjutkan di depan posko penjagaan yang tepat di bangun di depan kerambak ikan tersebut.
"Meskipun hanya pas-pasan, usahanya masih tetap kami jalankan sampai sekarang. Namun memang yang berat itu dari pakan ikan," ujarnya.
Baca Juga: 31 Unit Damkar Dikerahkan, Api Lahap 5 Ruko di Sungai Raya!
Juanda tak banyak mengeluh, namun memang berulang-ulang mengucapkan yang menjadi masalah adalah terkait pakan ikan. Bagaimana tidak, ikan nila dengan total sekitar 4000 ekor dengan berbagai jenis ukuran mulai dari bibit hinggaseberat 4-5 kilogram per ekor, menghabiskan 50 kg pakan dalam seminggu.
"Satu karung pakan ikan seberat 50 kg itu, habis dalam seminggu. Itu saja sudah kita coba kurangi dari sebelumnya. Sedangnya satu karung biayanya itu Rp 400 ribu-an. Sebulan kira-kira Rp 1.6 juta hanya untuk pakan," terangnya.
Sedangkan untuk panen, membutuhkan waktu kurang lebih 3 bulan dengan harga jual Rp 30 ribu per kilo ikannya. Berbicara soal bagi hasil, Juanda tersenyum.
"Tidak ada bagi hasil. Memang hasil jual yang didapatkan itu tidak kita bagi. Kita kumpulkan ke kas kembali dan hasilnya buat kita putarkan ke pakan ikan lagi. Jadi kami sama sekali tidak ada hasil dalam bentuk uang untuk dibagikan," ujarnya.
Hal ini membuat saya paham mengapa akhirnya sejumlah anggota memutuskan untuk mengundurkan diri menjadi bagian dari program yang harusnya berkelanjutan ini.
Baca Juga: Banjir Lumpuhkan Jalur Lintas Provinsi di Kalbar, Ketinggian Air Capai Paha Orang Dewasa
Saat masih asik berbincang, seorang pria muncul dengan seragam kerja yang menandakan ia baru saja pulang dari pekerjaannya. Melihat itu, Juanda sigap memanggil pria yang akrab disapa Boy tersebut.
Berita Terkait
-
Prabowo Tinjau Kawasan BLUPPB Karawang, Dorong Swasembada Pangan dan Ekonomi Biru
-
Kampung Berseri Astra Sukses Angkat Potensi Sendang Tirto Wiguno Sukoharjo, Siap Menyegarkan Warga Sekitar
-
Dulu Banyak Sampah, Kini Jadi Kampung Berseri Astra, Begini Kisah Mangrove Kampung Tua Bakau Serip
-
Modal Cuma-Cuma dari Astra, Warga Gang Durian Bertahan Budidaya Ikan Nila Meski Tantangan Menghadang
-
Pesona Hijau Kampung Setaman di Tengah Pemukiman Padat Kota Depok
Terpopuler
- Kode Redeem FF SG2 Gurun Pasir yang Aktif, Langsung Klaim Sekarang Hadiahnya
- Pemain Keturunan Indonesia Statusnya Berubah Jadi WNI, Miliki Prestasi Mentereng
- Pemain Keturunan Indonesia Bikin Malu Raksasa Liga Jepang, Bakal Dipanggil Kluivert?
- Jika Lolos Babak Keempat, Timnas Indonesia Tak Bisa Jadi Tuan Rumah
- Ryan Flamingo Kasih Kode Keras Gabung Timnas Indonesia
Pilihan
-
Masjid Agung Sleman: Pusat Ibadah, Kajian, dan Kemakmuran Umat
-
Ranking FIFA Terbaru: Timnas Indonesia Meroket, Malaysia Semakin Ketinggalan
-
Duel Kevin Diks vs Laurin Ulrich, Pemain Keturunan Indonesia di Bundesliga
-
Daftar Lengkap 180 Negara Perang Dagang Trump, Indonesia Kena Tarif 32 Persen
-
Detik-detik Jose Mourinho Remas Hidung Pelatih Galatasaray: Tito Vilanova Jilid II
Terkini
-
Penghargaan The Asset Triple A: BRI Jadi Pemenang Best Issuer for Sustainable Finance
-
10 Wisata di Kalimantan Barat yang Cocok Dikunjungi Saat Libur Lebaran
-
Detik-Detik Perkelahian Maut di Sungai Rengas yang Membuat Pemuda 24 Tahun Meregang Nyawa
-
Tips Menjaga Konsistensi Ibadah Setelah Ramadan dan Pentingnya Puasa Syawal
-
BRImo Hadirkan Kemudahan Transaksi Digital Sepanjang Libur Lebaran 2025